Git-Melody
Alunan Takbir
Bandung....
.
.
.
"ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!
ALLAHU AKBAAAR!"
Suara takbir menggelegar membelah malam, bergema dari segala penjuru desa kecil di pinggiran Bandung.
Letupan petasan dan kembang api sesekali menyala terang di langit gelap, disambut teriakan gembira anak-anak yang berlarian dengan obor dan bedug mini.
Iring-iringan pawai takbir bergerak perlahan, berkelok di jalan-jalan desa yang sempit, diikuti segerombolan pemuda dengan soundsystem besar di atas mobil pickup tua.
.
Seorang nenek berusia enam puluh dua tahun duduk tenang di kursi rotan tua di teras rumahnya.
Rambut putihnya yang hampir menutupi seluruh kepala bergerak lembut tertiup angin.
"Kek, mau teh hangat nggak?" tanya si nenek, menoleh ke arah pintu rumah.
Tak lama, seorang lelaki tua dengan kemeja batik coklat muda keluar dari dalam rumah, membawa secangkir teh di tangannya.
Rambutnya masih terlihat hitam di beberapa bagian, memberikan kesan lebih muda dari usianya yang sebenarnya.
"Udah nih." jawabnya dengan senyum menggoda, lalu duduk di samping istrinya.
Ia mendengus pelan, Tiga puluh lima tahun bersama, dan suaminya masih saja hobi menggodanya.
.
.
"NENEK! KAKEK!"
.
.
Dua anak kecil berlari dari dalam rumah, mata mereka berbinar penuh semangat. Indira dan Amanda, cucu kembar mereka yang berusia 10 tahun, langsung duduk di pangkuan sang nenek dan kakek.
"Ada pawai takbir, Nek! Banyak obor!" Amanda bercerita dengan antusias.
"Terus ada yang bawa bedug juga," sambung Indira tidak kalah semangat.
Nenek tersenyum, tangannya mengelus kepala kedua cucunya dengan sayang.
"Iya, dulu nenek juga suka nonton pawai takbir," ujarnya lembut.
Indira tiba-tiba memperhatikan rambut neneknya dengan seksama.
"Nek, kok rambut nenek lebih putih dari kakek sih? Padahal nenek cantik," tanyanya polos.
Kakek tertawa kecil. "Itu karena nenekmu dulu terlalu banyak marah-marah dan nenek mu itu udah tua, makanya cepet ubanan."
"Ih!" Nenek mencubit pelan lengan suaminya. "Ngawur aja."
Mereka tertawa melihat interaksi kakek dan nenek mereka. Kemudian Indira bertanya dengan mata penasaran, "Nek, Kek, gimana sih ceritanya kalian bisa nikah? Kok bisa tahan tiga puluh lima tahun?"
Nenek dan Kakek saling berpandangan.
Ada kilatan hangat di mata mereka, seolah sedang berbagi rahasia tanpa kata.
"Mau denger ceritanya?" tanya Nenek.
Kedua cucunya mengangguk antusias.
"Jadi begini..." Nenek mulai bercerita, matanya menerawang ke masa lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Stories GITA KU
Romantik************BANYAK GITANYA**************** PENOKOHAN SESUAI REFERENSI MEMBER
