### **Sore yang Tak Terlupakan**
Suasana di kantor pada sore hari itu terasa hening. Lampu-lampu di ruangan sudah mulai dipadamkan satu per satu, menandakan berakhirnya jam kerja. Namun, di antara karyawan yang sudah pulang, terdapat satu orang yang masih sibuk dengan pekerjaannya-Gita. Dia masih asyik menatap layar komputernya, menyelesaikan beberapa tugas yang belum sempat diselesaikan. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tetap fokus.
Shani, yang biasanya pulang tepat waktu, kali ini memilih untuk tinggal lebih lama di kantor. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Perasaan tak menentu dan kegelisahan yang terus menghantuinya sejak pertemuan terakhir dengan Gita. Shani duduk di ruangannya, berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia mulai menyadari perasaannya yang semakin kuat terhadap Gita, sesuatu yang membuatnya bingung dan ragu.
Mata Shani tertuju pada sosok Gita yang masih bekerja di ruangan terbuka. Dengan hati-hati, Shani melangkah keluar dari ruangannya, mendekati meja kerja Gita. Dari kejauhan, dia melihat Gita berdiri dan berjalan menuju dapur kantor. Shani merasa tergoda untuk mengikuti, mencoba mencari momen untuk berbicara lebih dalam dengan Gita.
Di dapur yang sepi, Gita membuka lemari dapur dan mengambil cokelat bubuk serta susu. Dia memanaskan air dan mulai membuat minuman cokelat panas, berharap bisa sedikit rileks setelah hari yang panjang. Gita tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, mengaduk minuman dengan penuh perhatian. Sementara itu, Shani berdiri di dekat pintu dapur, mengamati Gita dengan pandangan yang penuh perasaan.
Shani mengumpulkan keberaniannya dan mendekati Gita, suaranya memecah keheningan, "Gita."
Gita terkejut mendengar suara bosnya. Ia segera berbalik dan tersenyum gugup. "Oh, Bos... Shani," ujarnya, mencoba untuk tidak terlihat canggung. "Ada yang bisa saya bantu?"
Shani tersenyum lembut, sesuatu yang jarang terlihat dari dirinya. "Tidak, saya hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kamu sering pulang terlambat belakangan ini. Saya hanya khawatir," jawab Shani dengan suara yang lebih lembut dari biasanya.
Gita mengangguk sambil tersenyum tipis. "Terima kasih, Biss. Saya baik-baik saja, hanya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum pulang," katanya, mencoba tetap tenang. Gita berusaha keras menyembunyikan perasaan gugup dan bingungnya. Ia tahu ada sesuatu yang ingin ditanyakan Shani, tetapi tidak bisa menebak apa itu.
Setelah beberapa saat hening, Shani akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan rasa penasarannya. "Gita, aku dengar beberapa gosip di kantor," Shani memulai dengan hati-hati. "Orang-orang bilang... kamu sedang mencari perhatian seseorang. Katanya, kamu sering terlihat lebih ceria dan antusias, terutama saat aku ada di dekatmu. Apa itu benar?"
Gita terdiam, merasakan tekanan dari pertanyaan itu. Dia merasa terpojok, tidak tahu harus menjawab apa. Gita tahu bahwa jika dia jujur, seluruh situasi bisa menjadi lebih rumit. Namun, dia juga tidak bisa terus berbohong dan menutupi perasaannya yang sebenarnya.
"Saya... saya tidak tahu harus menjawab apa, Boss," kata Gita dengan suara pelan. "Saya hanya mencoba melakukan pekerjaan saya sebaik mungkin."
Shani menatap Gita dengan cermat, mencoba membaca ekspresi wajahnya. "Saya mengerti, tapi saya merasa ada sesuatu yang lebih dari itu," ujar Shani, suaranya terdengar lembut namun serius. "Kamu bisa jujur padaku, Gita. Apakah gosip itu benar?"
Gita menghela napas dalam-dalam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Boss, saya... Saya benar-benar menghormati anda sebagai bos saya. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik di pekerjaan ini," katanya dengan hati-hati. "Jika saya terlihat ceria atau antusias, itu karena saya senang bekerja di sini dan ingin memberikan yang terbaik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Stories GITA KU
Romance************BANYAK GITANYA**************** PENOKOHAN SESUAI REFERENSI MEMBER
