.
.
GitSha
Badai di Pagi Hari
Bangun, Tuan Putri
Pukul 05.30 pagi. Mansion Keluarga Lenathea masih sunyi. Cahaya fajar baru saja mengintip dari balik tirai-tirai tebal.
Para pembantu bergerak tanpa suara, mempersiapkan rumah mewah berlantai tiga itu menyambut pagi.
.
"Nona Marsha." Ketukan pertama, tegas namun sopan.
Hening.
"Nona Marsha, sudah pagi." Ketukan kedua, lebih keras.
Masih hening.
.
Gita mengangguk singkat. Tanpa basa-basi, ia memutar kenop pintu yang tidak terkunci dan melangkah masuk.
Baju-baju berserakan di lantai. Beberapa boneka terjatuh dari ranjang. Di tengah ranjang king size, gundukan selimut tebal bergerak naik-turun dengan teratur.
.
.
.
"Bangun. Sudah pagi." Gita meletakkan ember di lantai dan mendekat.
"Mmm... five more minutes..." gumaman malas terdengar dari balik selimut.
Gita melirik jam tangannya. "Lima menit sudah lewat sejak alarm pertamamu berbunyi."
"Go away..." Marsha semakin menenggelamkan diri dalam selimut.
"Bangun sekarang atau kusiram."
"Hah?" Marsha sedikit menyibak selimut, matanya setengah terbuka.
"Berisik! Lo pikir lo siapa sih?! 😡"
.
"Tiga..."
.
"What? Lo ngitung?! Seriously? 🙄 Gue gak percaya ini."
.
"Dua..."
.
"Whatever! Gue gak takut sama lo! Daddy bakal pecat lo begitu tau lo gangguin tidur cantik gue!"
.
"Satu."
.
BYUUR!
.
"AAAAAA!! WHAT THE HELL?!" Marsha melompat dari ranjangnya, rambutnya basah kuyup, piyama sutranya menempel di tubuh.
"LO GILA YA?!"
Gita hanya mengangkat alis. "Sudah bangun rupanya."
"Do you have any idea siapa gue?! GUE BISA BIKIN LO DIPECAT DALAM SATU DETIK, TAU GAK?!"
Marsha berdiri gemetaran-entah karena dingin atau marah-menatap Gita dengan pandangan tak percaya.
Air menetes dari ujung rambutnya ke lantai marmer.
"Ini... pelecehan! Gue bakal bilang Daddy!"
"Beliau yang menyarankan metode ini."🙂
Wajah Marsha memerah. "Gue. Benci. Banget. Sama. Lo. 😠"
.
.
"Noted." Gita berjalan menuju pintu.
"11 menit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Short Stories GITA KU
Romance************BANYAK GITANYA**************** PENOKOHAN SESUAI REFERENSI MEMBER
