TWENTY SEVEN

1.1K 53 15
                                        

Terkadang Jaemin tidak yakin dengan perasaannya sendiri mengenal Mark yang notabennya adalah saudara kandungnya sendiri. Dua belas tahun dia hidup dengannya namun tak ada satu pun sifat mereka yang benar-benar mirip. Apa mungkin sebenarnya dirinya bukanlah anak kandung orang tua mereka sehingga hanya Mark lah yang diajak bunuh diri oleh orang tua mereka? Itu adalah cerita yang terus menerus diulang oleh kakaknya ketika dirinya dalam keadaan murka.

Menyalahkan mengapa dirinya yang diajak mati, bukan Jaemin? Jawabannya mungkin orang tua mereka tahu Mark akan tumbuh dengan kelakuan seperti binatang oleh karena itu mengajak anak sulung mereka mati adalah cara terbaik.

"Kau memiliki mata yang cantik seperti ibu." Mark bergumam pelan. Setelah menyuruh Jisung memperkosanya, ia lantas memindahkan tubuh Jaemin di kamar kosong, menyiapkan baskom dengan air hangat lalu mengusap tubuhnya dengan penuh perhatian.

"Tidak hanya itu, kebodohanmu juga sama persis dengan apa yang dilakukan oleh mereka."

Walau mata Jaemin terpejam, dia bisa merasakan kelembutan dari setiap perlakuan Mark atas luka-luka yang dia buat. Tak lupa juga Mark membersihkan bagian bawah-nya tempat seseorang yang diperintahkan berbuat nista barusan.

"Apa yang sebenarnya kau cari, Na?"

"Akhh...!" Gagal juga aksi pura-pura tidur Jaemin takkala tangan Mark mengoyak lubangnya guna membersihkan sisa-sisa cairan di didalamnya.

"Aku memberikanmu segalanya. Menjadikanmu satu-satunya tapi mengapa kau selalu ingin lari dariku?"

Jaemin muak dengan seluruh anggapan-anggapan itu. Padahal faktanya, Mark menawannya dan tidak memberikan sedikit kebebasan untuknya.

"Kau menyukainya?" Mark beringsut menunduk. Membuat Jaemin paham akan situasi yang akan dilaluinya setelahnya. Ketika tubuhnya tiba-tiba diangkat dan bibirnya di cumbu oleh Mark. "Katakan apa yang dijanjikannya kepadamu sehingga kau menjadi seberani ini untuk melawanku?"

Jaemin memilih bungkam. Bukan semata-mata karena Mark telah menginvasi seluruh mulutnya. Memberikan hisapan sensual juga tautan lidah yang basah. Saliva menetes ke dagunya, dan begitu gilanya Mark menjilatnya dan memasukkannya lagi ke dalam mulutnya. Benar-benar gila.

Tubuh penuh memar Jaemin yang awalnya nyeri kini menjadi mati rasa takkala tangan besar Mark bergerak menelusuri punggungnya. Semakin mendekap tubuh itu agar memberikan memberikan gesekan erotis pada bagian vitalnya. Dimana tubuh Jaemin yang sedari tadi dibiarkan telanjang sedangkan Mark masih menggunakan celana jeans yang terasa kasar karena ada sesuatu yang menyembul.

Lihatlah betapa munafiknya binatang ini. Dia bilang tidak sudi lagi meniduri Jaemin karena sudah berbagi pada orang lain. Faktanya setelah diumpankan-nya pada anggotanya sendiri, dia tetap merasa terangsang dengan tubuh favoritnya.

Melepas tautan itu sejenak, Mark bergegas melepas gasper dari celana dan menurunkan underware-nya. Kabut nafsu telah melingkupi matanya. Tak peduli dengan pertanyaan yang diabaikan, karena dipikirannya dia hanya ingin menuntaskan nafsu yang sedari tadi membelenggu.

Benar, sebuah sensasi baru saat melihat Jaemin disetubuhi Jisung didepan matanya tadi. Karena saat dirinya bercinta, dia terlalu fokus mengejar kenikmatan tanpa memperhatikan dari ekspresi Jaemin. Ditambah dengan keberadaan Jeno dan Hyunjin yang menyaksikan tanpa bisa berbuat apapun.

Jaemin adalah miliknya. Terkait kejadian tadi anggap saja Mark sedang salam tahap memberi pelajaran agar adiknya tidak berbuat kurang ajar lagi.

"Akkh...!"

Lenguhan favoritnya terdengar bersamaan dengan dia memasukkan miliknya ke dalam lubang Jaemin. Masih ketat dan hangat. Ia mengarahkan Jaemin untuk bergerak ke atas dan ke bawah, walau dengan bantuan tangan besarnya, karena Jaemin sendiri sudah terlalu tidak berdaya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ANIMAL - NOMIN MARKMINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang