Membiarkannya sejenak

761 10 0
                                        

Hendrik bersiap ke pabrik dan sebelum itu, dia menemui Dina terlebih dahulu, “Kamu tahu ‘kan ini hari apa? Aku pulang terlambat nanti, kalau ada apa-apa telepon saja, aku pergi.”

Lana mendekati Dina, temannya itu memang menemaninya menata taman tadi, “Ada apa? Hendrik terlihat kawatir.”

Dina terkekeh, “Kamu lebih akrab dengan pak Hendrik, ya?”

“Ah-anu ... pak Hendrik yang memintaku memanggil seperti itu. Padahal aku juga tidak enak.” Lana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Nyonya Ratna akan berkunjung, pak Hendrik selalu ke pabrik kalau ada nyonya Ratna, itu mama pak Hendrik. Beliau cukup cerewet meski sebenarnya baik.” Dina mengambil pot bunga dan mendekatkannya ke Lana.

“Apa pak Hendrik belum menikah?” Lana mengambil pot itu dan mengeluarkan isinya untuk ditata di taman.

“Istri pak Hendrik sudah meninggal, padahal keduanya baru saja merayakan ulang tahun pernikahan yang ke tiga, kecelakaan itu membuat pak Hendrik selalu merasa bersalah.” Dina tersenyum, “Makanan yang kamu benci adalah makanan kesukaan pak Hendrik dan dengan makanan itu pula pak Hendrik seperti bertemu dengan mendiang istrinya. Selama ini, tak ada yang membuat makanan itu seenak mendiang istri pak Hendrik.”

Lana terkesiap mendengarnya, “Aku sangat menyesal.”

“Jangan berkecil hati, pak Hendrik sangat baik padamu, kurasa pak Hendrik benar-benar bermurah hati.” Dina ingat tadi pagi Hendrik menyuruhnya agar menyimpan semua onde-onde beku di tempat tersembunyi dan semua karena trauma yang dialami Lana. “Nyonya Ratna datang. Ayo!” Dina membersihkan tangan dan berkumpul di halaman bersama semua pekerja.

Lana mengikuti apa pun yang dilakukan Dina agar tak membuat kesalahan.

“Apa Hendrik ke pabrik?” Ratna berjalan menuju pintu masuk.

“Iya, Nyonya. Pak Hendrik sedang ada rapat hari ini.” Dina mengatakan hal yang selalu dia katakan karena hanya bisa menjawab seperti itu setiap kali Ratna berkunjung.

Ratna terkekeh, “Rapatnya selalu bersamaan dengan kedatanganku, ya? Sepertinya Hendrik bukan rapat, tetapi sedang menghindariku.” Melihat ada wajah asing setelah sekian lama, Ratna berhenti, “Kamu pekerja baru?”

Lana menunduk hormat, “Saya Lana, saya membantu pekerjaan di kebun.”

Ratna tak menjawab, terus masuk, mencari apa yang dia ingin dapat di rumah putranya.

Hendrik ... tetap tak punya pekerjaan seperti biasa. Semua karyawan bekerja dengan baik, dia jadi bingung mau melakukan apa setiap kali datang ke kantor.

“Siapa?”

“Aku tidak tahu, yang jelas perempuannya Teni, kamu tidak akan percaya sebelum melihat rekaman CCTV itu, Teni memang selalu cantik, aku saja siap dijadikan suami kalau dia mau.” Keduanya tertawa bersamaan.

Malam KemarinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang