07; Komunikasi

574 59 0
                                        

"Sikap lo yang suka ikut campur itu buat semuanya berantakan, Jevian!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sikap lo yang suka ikut campur itu buat semuanya berantakan, Jevian!"

Segera setelah Jevian membuka mata, alarm mengaung untuk membangunkan. Pintunya terbuka, memperlihatkan Jovano yang tampaknya masuk untuk mematikan alarm. Laki-laki itu terkejut melihat Jevian yang hanya diam, masih dengan posisi berbaring di tempat tidur.

"Vian," tegur Jovano. Laki-laki itu melangkah masuk, meraih alarm dan mematikannya. "Lo kenapa? Nggak enak badan?" Jovano kini terlihat khawatir.

Jevian bangkit dari posisinya, kini duduk dengan rambut berantakan. "Gue nggak apa-apa. Cuma kebangun karena lapar."

"Sarapannya sudah siap, lo bisa makan sekarang."

Jevian mengangguk. Ia berdiri, meregangkan tubuhnya sebelum meraih selimut untuk dilipat. Tiba-tiba Jevian terhenti, kembali mengingat mimpi yang berasal dari kenangannya di masa lalu. Ia menghela kuat-kuat, berusaha membuang sesak di dadanya. Jevian sungguh tidak ingin menyalahkan Jelila, tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa yang membuatnya mengingat kejadian dulu adalah gadis itu.

Setelah melipat selimutnya, Jevian melangkah ke dapur untuk sarapan. Di sana sudah siap roti panggang dengan selai coklat di atasnya. Jevian duduk di tempatnya, mulai meraih teh dan meminumnya. Ia baru akan makan jika Jovano sudah bergabung dengannya. Selang beberapa menit, Jovano datang dari ruang mencuci, kemudian duduk di depan Jevian. Mereka pun memulai sarapan.

"Lo pulang jam berapa semalam?" Jevian memulai obrolan. Ia memang tidur lebih dulu tanpa menunggu Jovano pulang.

"Jam sepuluh," jawab Jovano. "Maaf ya, gue pulang terlalu malam. Harusnya jam sembilan kok, tapi karena gue baru kerja kemarin, gue lebih banyak bantu-bantu sebelum pulang."

Jevian melihat ke sekitar. Rumah sudah bersih seperti biasanya. Maka Jevian menggeleng. Tidak masalah jika Jovano pulang malam, toh rumah tetap diurus dengan baik. Jevian hanya khawatir dengan kesehatan kawannya itu.

"Asal nggak sampai sakit aja," ucapnya, diangguki oleh Jovano. "Lo sudah kasih tahu Kara?"

Pertanyaan itu membuat Jovano terdiam, bahkan tidak bergerak melahap rotinya lagi.

Jevian menoleh padanya karena tak kunjung mendapat jawaban. Melihat ekspresi Jovano saja Jevian sudah tahu apa jawaban laki-laki itu. "Belum, ya." Akhirnya Jevian yang menjawab pertanyaannya sendiri.

"Ini masalah gue, jadi Kara nggak perlu tahu." Jovano masih menunduk, mengusap-usap tekstur rotinya.

Jevian tidak terlalu mengerti urusan percintaan, ia sama sekali belum pernah mengalaminya. Namun, dari yang Jevian perhatikan, masalah Jovano dan Kara tidak pernah jauh-jauh dari kurangnya komunikasi. Jevian bahkan menyadarinya sejak Kara naik ojek waktu itu.

Tapi Jevian tidak ingin bertindak berlebihan. Apalagi ia sadar bahwa tidak mengerti betul tentang ini. Lagi pula memang Jovano sendiri yang harus memutuskan tentang itu. Ia tidak ingin Jovano melakukannya karena terpaksa. Biarlah waktu yang membawa keduanya hingga saling mengerti.

Ice Cream; Jaemin & JenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang