"Peduli dan ikut campur itu beda tipis, terlalu membuang tenaga. Kita cuma perlu menghindar tanpa berbuat onar."
Demi menyelamatkan UKM Literatur yang nyaris bubar, Jovano Abidzar meminta Jevian Abrizam untuk bergabung ke UKM itu. Jevian tak punya p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ketika ia membuka pintu, Arsen dikejutkan dengan seorang gadis yang tiba-tiba mendekatinya. Gadis itu menunjukkan ekspresi serius, yang membuat Arsen tak berani bercanda.
"Dia nggak ada di dalam daftar kalangan atas."
"Hah?" Arsen bingung. Ia mencoba mengerti apa yang dimaksud gadis itu. "Siapa, Yin?" tanya Arsen akhirnya.
"Chalova Shasilia, gue yakin dia nggak termasuk kalangan atas."
Arsen lantas membulatkan matanya, "nggak mungkin, Yin. Bahkan sebelum dia jadi BA, Lova terkenal kaya." Arsen melangkah masuk-karena sejak tadi mereka mengobrol di depan pintu-kemudian meletakkan tasnya di sofa. "Apa dia cuma nggak terdaftar?"
"Itu masalahnya. Kenapa dia bisa nggak terdaftar? Kalau dia kaya, dia harusnya tetap butuh relasi dengan kalangan atas lainnya. Tapi, Chalova beserta keluarganya nggak pernah muncul ke permukaan. Bagaimana dia mempertahankan kekayaannya? Kecuali dia orang paling kaya di antara kalangan atas lainnya." Penjelasan Ayin masuk akal, Arsen mulai merasa ada yang janggal dengan semua ini.
"Berarti kekayaannya yang paling janggal, kan?" pertanyaannya diangguki Ayin. "Kita tinggal ngasih tahu Jevian."
"Gue udah dengar." Jevian tiba-tiba masuk, mengejutkan dua orang itu. "Sudah gue duga ada yang janggal dari Chalova, terutama soal kekayaannya. Gue sering dengar mahasiswa-mahasiswa kaya di kampus ini rata-rata anak dari donatur kampus, tapi Chalova sama sekali nggak diketahui dari mana kekayaannya datang. Padahal waktu diinterogasi tentang joki tugas, kita tahu kalau dia pakai jasa joki yang bayarannya lumayan besar. Dia mampu sejauh itu, tapi dari mana dia dapat semuanya?" Jevian menghela napasnya, merasa lelah karena baru saja berbicara panjang.
"Jadi lo sudah menduga itu yang janggal dari Chalova?"
Jevian mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Ayin.
"Tapi kenapa lo nggak bilang dari awal, Kak?" tanya Ayin lagi.
"Itu cuma tebakan. Gue nggak mau asal nuduh, jadi gue minta dicari tahu dulu semuanya tentang Chalova. Gue juga tahu kalau lo dari kalangan atas, gue punya firasat lo yang bakal kasih informasi soal ini. Makanya gue mancing Arsen untuk bergerak dan lo akan bantu dia." Jevian mengeluarkan buku Es Krim dari tasnya. "Lagian dosa nggak pernah jauh-jauh dari permasalahan uang."
Ayin hanya bisa diam. Semua tindakannya sesuai dengan prediksi Jevian. Ayin mengepalkan tangannya yang gemetar. Entah mengapa ia takut sekali dengan kemampuan Jevian. Baginya, itu menyeramkan. Sangat menyeramkan.
"Lo takut?" tanya Jevian tiba-tiba, jelas membuat Ayin terkejut. "Gue rasa lo mulai takut sama gue. Iya?" Jevian memperhatikan tangan Ayin yang gemetar, kemudian menatapnya.
"Gue cuma kaget..." Ayin mengecilkan suaranya. "Bagaimana lo bisa lakuin itu semua? Rasanya lo punya semacam kekuatan super."
Jevian terkekeh, "gue cuma pengamat yang baik, makanya gue bisa menyadari hal-hal kecil. Karena gue pemalas, keseharian gue dihabiskan untuk mengamati dibanding bertindak." Dapat Ayin dengar Jevian menghela berat. "Sebelum masuk Tim Netra, gue sudah jarang mengamati. Gue lebih milih mengabaikan sekitar gue, karena gue tahu semua orang benci ketahuan." Jevian menatap kosong buku Es Krim dua genggamannya. Jika Ayin tidak bertanya, dirinya mungkin akan lupa bahwa ia adalah seseorang yang acuh dengan sekitar.