26; Jangan Terpecah Lagi

497 59 3
                                        

Setelah mengatur kamera, Alam kembali ke posisinya-tepat di samping Jovano

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah mengatur kamera, Alam kembali ke posisinya-tepat di samping Jovano. Keduanya mengarah ke kamera dan mempersiapkan diri untuk berbicara.

Dimulai dari Alam. "Assalamualaikum. Saya Alam Arnavi, mahasiswa Teknik Sipil semester 4 sekaligus Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa UNCEBA. Saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada Jovano Abidzar, mahasiswa Teknik Sipil semester 4 yang tugas kuliahnya saya ambil. Saat itu saya sedang sangat sibuk dengan kegiatan organisasi, sehingga saya tidak sempat mengerjakan tugas kuliah. Saya sudah berusaha mencari bantuan, tetapi tidak ada yang bersedia. Hingga jalan ini yang terpaksa saya ambil. Saya sadar bahwa apa yang saya lakukan adalah kejahatan akademik, dan saya bersedia menerima hukuman apa pun dari pihak kampus. Terima kasih."

Setelahnya Jovano yang bersuara. "Saya Jovano Abidzar, mahasiswa Teknik Sipil semester 4. Tugas yang Alam ambil adalah milik saya. Namun..." Jovano terhenti sejenak ketika membaca script berikutnya. "Saya meminta maaf karena memilih jalan yang salah, yaitu membeberkannya ke publik. Seharusnya konflik ini bisa saya atasi secara pribadi bersama Alam, tetapi karena saya terlalu emosi dan saya tidak mampu menahan diri. Karena itu saya ucapkan maaf sebesar-besarnya pada Alam. Kami juga telah menyelesaikan konflik ini dan berakhir damai. Saya harap tidak ada lagi yang mempermasalahkannya. Terima kasih."

Tepat setelah video itu selesai, Arsen membanting ponselnya ke sofa. Ia geram bukan main. "Ini rekaman klarifikasi paling absurd yang pernah gue tonton," ungkapnya sambil terkekeh miris. Yang lain diam-diam menyetujui ucapannya. Semarah apa pun mereka, tak ada yang mampu meluapkan karena lelah batin. Bahkan Jevian hanya diam di tempatnya, menatap ke bawah dengan tatapan kosong.

"Kenapa korban harus minta maaf juga? Sialan nih orang," tambah Sabas tak kalah kesal.

"Apa mungkin Kak Jovano diancam?" Ayin menyahut, beberapa orang terlihat sependapat dengannya.

"Bisa jadi... nggak mungkin Jovano lakuin ini kalau bukan karena diancam."

Arsen segera mengambil ponselnya lagi, dengan serius melakukan sesuatu di sana. Sabas mengintip apa yang kawannya itu lakukan. Ternyata Arsen sedang menulis sesuatu di X, sepertinya balasan dari klarifikasi Alam dan Jovano.

"Begini yang namanya klarifikasi? Sekarang korban juga harus minta maaf, ya?"

Thread miliknya lagi-lagi mendapat banyak respons. Namun, kali ini terdapat dua kubu. Ada kubu yang masih sependapat dengannya, dan ada pula yang memaafkan Alam hingga balik menyerangnya. Kubu yang memaafkan Alam berpendapat bahwa Alam telah melakukannya dengan baik dan berani meminta maaf, seharusnya Arsen tidak lagi mempermasalahkannya. Dan mereka percaya dengan adanya Jovano di klarifikasi itu, menandakan bahwa masalah benar-benar telah tuntas.

Kubu yang terpecah belah ini membuat Alam tak menerima konsekuensi yang berat, hanya mendapat sanksi berupa tugas yang tidak diterima. Konflik ini lenyap, tergantikan dengan isu politik yang tampak lebih menggiurkan.

Ice Cream; Jaemin & JenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang