32; Pemimpin dan Sampah

258 27 4
                                        

Ruang yang tadi cukup riuh seketika hening kala seseorang yang mereka segani sekaligus takuti masuk. Orang itu menunjukkan wajah santai dan penuh senyuman, berbeda dengan anggotanya yang bahkan tak berani menatapnya. Suasana menjadi lebih tegang setelah masalah pemberontakan salah satu dari mereka.

"Tegang amat. Santai dong," ucapnya sambil terkekeh. Pandangannya tertuju pada meja khusus komisi internal, "Kevin," panggilnya, membuat laki-laki yang memiliki nama itu menoleh dengan malas. "Ssshhh. Kali ini gue minta lo diam." Senyumnya berubah menjadi tatapan penuh intimidasi. Bohong jika Kevin mengatakan tak gentar padanya. Nyatanya, Kevin mati-matian menahan tangannya yang gemetar hebat. Ia menyentuh lengannya yang terdapat luka bakar.

"Arghh!" Kevin terjatuh ke lantai, memegangi tangannya yang baru saja disiram air mendidih. "Lam... lo gila..." lirihnya. Rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat kesadarannya nyaris menghilang.

Alam jongkok di depannya, menatap Kevin tanpa belas kasih. "Gue benci pengkhianat, Vin. Bukannya lo masuk DPM dengan tujuan yang sama? Gue ketuanya, dan lo nggak berhak menentang keputusan gue." Alam menarik rambut Kevin, memaksa laki-laki itu untuk menatapnya. "Gue nggak mau kehilangan anggota kayak lo, Vin. Lo tahu kan kalau gue mengandalkan lo?"

Kevin menggigit bibir bawahnya, merasa kesal setengah mati jika mengingat kejadian itu. Akhirnya ia kembali tunduk pada Alam karena tahu perbedaan kekuatan dan kekuasaan di antara mereka.

"Oke, rapat kali ini singkat aja." Alam kembali memberikan atensi pada seluruh anggotanya. "Kita bekukan BEM."

Kalimat yang tidak masuk akal itu keluar begitu saja dari mulutnya. Ekspresinya datar, seakan tak peduli dengan ekspresi terkejut dari seluruh anggotanya.

"Alam!"

Sang pemilik nama sudah menduga dari siapa bentakan itu datang.

"Kenapa sih lo bertindak sejauh ini? Salah mereka apa? Selama ini UNCEBA aman karena mereka. Sekarang kenapa lo lakuin ini?" Kevin menatap ketuanya itu dengan tatapan bingung bercampur marah.

Alam tertawa pelan. Ia mencondongkan tubuhnya, kemudian menatap Kevin dengan remeh. "Kesalahan terbesar gue adalah membiarkan Agas menjabat sebagai ketua BEM. Gue pikir dia orang yang mudah diajak kerja sama, nyatanya nggak. Dia orang yang paling sulit gue hadapi." Ekspresinya berubah serius, "UNCEBA cuma butuh DPM untuk memimpin. Gue yakin, kita aja cukup. Nggak akan ada lagi aturan yang terlalu ketat. Lagian, pendidikan nggak harus sekaku ini, kan? Kita juga bisa ambil alih seluruh mahasiswa." Alam menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya.

Mendengar itu, Kevin terkekeh saking tidak habis pikir dengan ketuanya itu. "Yang mau ngambil alih seluruh mahasiswa siapa? Lo, atau orang di balik lo?"

Kali ini, pertanyaan Kevin tak bisa membuat Alam tertawa remeh lagi. Ia geram bukan main kala Kevin yang menatapnya dengan remeh.

"Lo nggak pantas disebut ketua, Lam. Lo cuma boneka orang berkuasa. Bahkan lebih rendah dari yang lo bayangkan."

"Kevin!" Alam lantas berdiri dengan wajah merah menahan amarah. Seluruh anggota dengan siaga menahan keduanya agar tak terjadi kekerasan fisik di sana. "Jaga mulut sampah lo, sialan."

"Kenapa? Ada yang salah sama ucapan gue?" Kegentarannya menghilang. Dengan berani ia menantang tatapan penuh amarah dari Alam

"Sampah tetap akan jadi sampah, Lam. Mau lo dipungut sama orang terkaya di dunia pun, lo nggak akan tiba-tiba jadi berlian."

~ Ice Cream~

Setelah melewati dua hari tanpa kabar sang kekasih, Arsha akhirnya bisa menemuinya hari ini. Ia melangkah cepat menyusuri lorong kampus demi mencari keberadaan Gressa. Selang beberapa menit berkeliling di gedung Fakultas Teknik, matanya menangkap sosok gadis yang sudah ia rindukan. Dengan cepat ia mendekati Gressa, menarik tangan gadis itu hingga bertatap muka dengannya. Seluruh kekhawatiran yang ada di kepalanya langsung sirna kala melihat Greesa baik-baik saja seperti biasa.

Ice Cream; Jaemin & JenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang