Tidak terhitung sudah berapa kali Jevian menghela napas. "Maksud kalian, kontrakan gue dijadikan base camp?" tanyanya setelah menyimpulkan semua yang Sabas katakan. Yang lain hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sejak mereka memasuki kontrakan Jevian dan Jovano, semuanya masih memilih diam demi menunggu keputusan dari sang penghuni kontrakan. Jovano-salah satu penghuni kontrakan-setuju-setuju saja mereka berkumpul di sana, tetapi ia tidak bisa membujuk Jevian kali ini. Jovano juga yakin Jevian tidak mudah dibujuk sekarang, karena tempat paling tenang baginya akan benar-benar terusik. Maka dari itu Jovano juga ikut menunggu keputusan Jevian.
"Jev." Sabas kembali bersuara, membuat Jevian menoleh padanya. "Sebentar aja, kok. Kalau masalah ini udah selesai, kita semua nggak akan sering-sering ke sini lagi." Ini adalah bujukan terakhir yang mampu Sabas katakan. Setelah ini, ia benar-benar pasrah dengan keputusan Jevian.
"Oke." Satu kata yang keluar dari Jevian mampu membuat semuanya melotot terkejut. "Gue setuju kalian di sini." Jevian dapat melihat raut wajah tak menyangka sekaligus senang dari seluruh teman-temannya. "Tapi, gue minta kalian ikut membayar sewanya sebesar 20%." Syarat itu tampaknya tidak membuat kawan-kawannya mundur. Jevian tahu, 20% dan dibayar ramai-ramai tidak akan terlalu mahal. Jadi ia merasa syarat ini tidak berlebihan.
"Makasih ya, Jev," ungkap Agas penuh rasa syukur. Saking senangnya, ia menghampiri Jevian dan memeluk kawannya itu. Jevian jelas terkejut, tetapi kejadiannya begitu cepat hingga ia tidak bisa menghindar.
Jevian memperhatikan kawannya satu persatu. Mereka tampak gembira, seakan lupa dengan masalah besar yang baru saja terjadi. Mereka sudah ketahuan oleh ketua DPM, dan ini adalah ancaman yang besar. Jika Alam membocorkan identitaas mereka pada mahasiswa lainnya, kemungkinan besar kehidupan kuliah akan sangat mencekam. Dengan minimnya bukti yang dapat menyelamatkan mereka, dapat dipastikan 90% mahasiswa akan berpihak pada Alam.
Di tengah kegembiraan itu, Jevian menangkap kegelisahan dari seseorang. Hanya dengan mengetahui siapa orang itu, Jevian sudah mengerti apa yang terjadi.
~ Ice Cream ~
Sebenarnya ini di luar prediksi Jevian. Ia pikir kontrakannya itu hanya akan dijadikan tempat berkumpul saat mereka akan membahas kasus Es Krim. Nyatanya tidak. Saat ini, satu-persatu kawannya datang dengan tas besar-seperti ingin pindah. Jevian sampai tercengang melihatnya, apalagi kawan-kawannya itu tak ada habisnya berdatangan. Ia tak menyangka satu-satunya tempat paling tenang baginya kini dihuni oleh dua belas manusia.
"Jev," tegur Agas kala melihat Jevian melamun. "Janji, kok. 20%," katanya sambil terkekeh. Jevian yang mendengar itu jelas tak bisa mengeluh, karena ia sendiri yang memberi persyaratan.
Jevian kembali menoleh ke arah dapur. Kara, Jelila, Ayina, dan Lilia terlihat asyik berbincang sambil membuat makan malam. Berbanding terbalik dengan para gadis, semua laki-laki tengah berkumpul untuk bermain kartu. Suara berisik yang mereka ciptakan ketika ada yang kalah maupun menang membuat Jevian refleks menutup telinga. Suasana ini begitu asing baginya. Namun, tak dipungkiri ada perasaan yang membuatnya tak merasa kesepian lagi.
Ia menoleh ke arah lain, mendapati Arsha tengah berdiri di ambang pintu, tampaknya sedang berusaha menghubungi seseorang melalui telepon. Sebenarnya Jevian sudah melihat Arsha melakukan itu beberapa menit yang lalu, dan ternyata kawannya itu masih belum berhasil menghubungi seseorang. Melihat kegelisahan di wajah Arsha, Jevian tergerak mendekatinya.
"Sha," tegurnya, Arsha segera menurunkan ponsel yang tadi ia dekatkan di telinga. "Ada masalah?" tanya Jevian.
Arsha menggeleng sambil tersenyum kikuk. "Nggak ada, kok," jawabnya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ice Cream; Jaemin & Jeno
Mystery / Thriller"Peduli dan ikut campur itu beda tipis, terlalu membuang tenaga. Kita cuma perlu menghindar tanpa berbuat onar." Demi menyelamatkan UKM Literatur yang nyaris bubar, Jovano Abidzar meminta Jevian Abrizam untuk bergabung ke UKM itu. Jevian tak punya p...
