"Peduli dan ikut campur itu beda tipis, terlalu membuang tenaga. Kita cuma perlu menghindar tanpa berbuat onar."
Demi menyelamatkan UKM Literatur yang nyaris bubar, Jovano Abidzar meminta Jevian Abrizam untuk bergabung ke UKM itu. Jevian tak punya p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jevian hanya bisa menghela berkali-kali kala melihat rumah yang biasanya tenang kini riuh dengan suara tawa dan teriakan. Sungguh, situasi ini terlalu asing untuknya. Meskipun tidak hidup sendiri, tetapi teman satu rumahnya-Jovano juga orang yang tenang seperti dirinya. Suasana rumah yang menjadi ramai-bahkan terlalu ramai membuat tenaga Jevian terkuras lebih cepat dari biasanya.
Tentu saja ini bermula dari ide aneh Sabastian.
"Di kontrakan lo aja!"
"Hah?!"
Jevian dibuat melongo. Itu ide terburuk yang pernah Sabas ajukan. Sabas memang selalu sulit ditebak, tetapi kali ini terlalu parah.
"Ayolah, Jev. Yang lain pada ngekos dan tinggal bareng keluarga, kan nggak enak kalau kita ngumpul rame di sana," pintanya sambil memelas. Sialnya, beberapa orang langsung menyetujui ide Sabas, padahal si pemilik rumah sudah menunjukkan wajah tak sukanya.
"Nggak." Sudah pasti Jevian menolak. Satu-satunya tempat paling tenang adalah kontrakannya bersama Jovano. Jika kontrakannya juga dijajah oleh anggota Tim Netra yang sangat ramai ini, di mana lagi ia harus mengisi tenaga?
"Jevian~" Sabas merangkul Jevian sambil menyandarkan kepalanya di pundak kawannya itu, mencoba membujuk lagi. Namun, tak berhasil. Jika sudah tentang ketenangan, Jevian tak mudah dibujuk.
Sabas tak kehabisan akal. Ia segera menemui penghuni kontrakan yang satunya dan langsung merangkulnya. "Boleh, kan, Jov?" pintanya dengan manja, beberapa orang sampai mual melihat tingkahnya.
Jovano terlihat bingung. Ia menatap Jevian yang juga sedang menatapnya. Mereka berbicara lewat mata, entah apa yang sedang mereka diskusikan.
"Kalian telepati?" celetuk Arsen, membuat Jevian dan Jovano menghentikan aksi saling tatap itu.
"Gue rasa nggak masalah kalau cuma sehari." Jovano berucap pada Jevian. Terlihat Jevian langsung menunjukkan wajah tak sukanya. "Kita cuma akan bahas Es Krim, jadi nggak akan terlalu berisik. Gue juga akan pastikan lo punya cukup waktu untuk istirahat." Jovano masih mencoba bernegosiasi.
Pada akhirnya Jevian luluh.
Sesuai dugaannya, semua yang dikatakan Jovano ketika membujuknya tak akan terealisasikan. Padahal ia tahu ini akan terjadi, tapi Jevian tidak mengerti mengapa dirinya tidak bisa menolak Jovano?
Bukan hanya anggota Tim Netra yang datang, Adrian juga membawa Lilia ke sana. Dengan cepat Lilia menyesuaikan diri dengan yang lainnya, terutama dengan para gadis. Arsha yang biasanya memamerkan kemesraannya dengan Gressa kini hanya bisa gigit jari ketika melihat kedekatan Adrian dan Lilia. Padahal ia sering sekali mengejek pasangan itu karena minim interaksi, sekarang karma seakan menghampirinya.
"Gue nggak boleh bawa Gressa nih?" tanya Arsha lagi, tetapi pertanyaannya mendapat balasan tawa dari Jio.
"Lagian lo sering berduaan sama Gressa, sesekali nggak bareng kan nggak apa-apa," balas Arsen. Arsha mencibir ketika mendengar ungkapan laki-laki itu, sungguh memuakkan ketika tak ada yang membelanya.