"Peduli dan ikut campur itu beda tipis, terlalu membuang tenaga. Kita cuma perlu menghindar tanpa berbuat onar."
Demi menyelamatkan UKM Literatur yang nyaris bubar, Jovano Abidzar meminta Jevian Abrizam untuk bergabung ke UKM itu. Jevian tak punya p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Chalova membuka mata dan menatap kosong ke depan. Ia melirik lantai yang terkena sinar matahati dari celah jendela, ternyata di luar sana sudah terang. Hari ini ia tidak bermimpi, dan itu membuat tidurnya jauh lebih nyaman. Tubuhnya terasa ringan karena ia tidur lebih awal. Berbeda sekali dengan dirinya yang biasa.
Kemarin, setelah interogasi yang memakan kurang lebih satu jam, Chalova membatalkan seluruh janjinya dan memilih pulang ke rumah. Biasanya ia pulang larut malam, bahkan pagi, sehingga Chalova sangat jarang membersihkan atau menghabiskan waktu di rumah. Namun, kemarin berbeda. Chalova pulang lebih awal, membersihkan rumahnya meski tak terlalu kotor, dan menikmati sore hari di balkon dengan secangkir kopi. Perasaan saat itu sangat asing baginya, tapi begitu nyaman.
Chalova tersenyum tipis. Ingatannya tentang kemarin membuatnya ingin melakukannya lagi. Terlebih ini akhir pekan, hari Sabtu. Ia ingin menghabiskan hari ini dengan melakukan aktivitas rumah, bersih-bersih dan bersantai.
Setelah menuliskan semua nama petinggi yang pernah memakai jasanya, Chalova meletakkan kertas itu di atas meja dalam keadaan terbalik. Sebelumnya Chalova sudah meminta pada mereka untuk membaca isi kertas itu setelah Chalova pergi, karena ia sungguh malu melakukan semua ini.
"Semuanya sudah gue tulis," ucapnya pelan. "Gue nggak tahu apa yang mau kalian lakukan dengan ini, tapi gue harap identitas gue nggak kalian pakai untuk apa pun. Kalian bisa jaga janji, kan?" Chalova menatap semuanya dengan takut.
Agas segera mengangguk, "kami janji, Chalova. Sekarang kita saling menyimpan rahasia. Jadi kalau kami ingkar janji sama aja bunuh diri."
Chalova mengangguk, ia percaya dengan Agas. Ketika menoleh pada Arsen, kawannya itu tengah tersenyum tulus padanya.
"Makasih ya udah percaya sama kami." Arsen menepuk pundak Chalova.
Hatinya terasa lebih hangat. Perasaan takut yang tadi menghantuinya kini sirna. Semua orang yang berada di sini membuatnya nyaman dan memberikannya keberanian.
Setelah beberapa perbincangan lagi, Chalova diizinkan untuk pulang. Sebelum ia benar-benar keluar, namanya kembali dipanggil oleh seseorang. Seorang gadis sudah berdiri tepat di belakangnya, melempar senyuman termanis yang dia punya.
"Lo berharga, terlalu berharga, Chalova." Aikara mengambil tangan Chalova dan menggenggamnya. "Gue harap mulai sekarang lo bisa mencintai diri lo sendiri. Datangi kami kalau lo kesepian, kami akan selalu menyambut kedatangan lo." Chalova tentu terpaku mendengar kalimat dari suara yang lembut itu.
Ia menoleh ke sekitar, terlihat dua perempuan lainnya tengah tersenyum padanya, sama tulusnya dengan Kara.
Jika ia mengingat lagi kejadian kemarin, Chalova akan tersenyum hingga hampir menangis. Ia jelas terharu. Tak pernah Chalova sangka ia bisa diperlakukan seperti itu.
"Gue juga berharga, ya?"
~ Ice Cream ~
Gressa mengernyit kala melihat penampilan aneh kekasihnya hari ini. Biasanya Arsha tidak memakai setelan yang mencolok, tetapi hari ini ia memakai kacamata hitam yang sangat jarang ia kenakan.
Gressa lantas terkejut, ekspresinya berubah khawatir. "Sakit? Kok bisa? Coba aku lihat." Tangannya langsung bergerak untuk membuka kacamata Arsha, tetapi selalu dihalau oleh kekasihnya itu.
"Nggak perlu, sayang. Besok pasti sembuh, kok," katanya, berusaha menenangkan. Sayangnya, ucapan itu tidak mempan. Gressa terlihat kesal karena Arsha tak kunjung menunjukkannya.
Akhirnya Arsha menyerah. Ia membuka kacamatanya dan menunjukkan matanya yang sangat merah. Gressa meringis melihatnya. Gadis itu menangkup wajah Arsha untuk memastikan mata kekasihnya itu tidak parah.
"Kok bisa begini?" tanya Gressa.
Arsha terlihat kebingungan harus menjawab apa.
Gressa menghela, menyingkirkan tangannya dari pipi Arsha. "Apa sih yang sebenarnya kamu sembunyiin dari aku?" Ekspresinya berubah serius. Jika sudah begini, Arsha tak berani untuk berbohong padanya. "Kamu nggak sekali loh begini, ini sudah ke sekian kalinya, Arsha." Gressa masih ingat bagaimana ia menangis karena Arsha yanag tiba-tiba masuk rumah sakit setelah mendapat pukulan di kepalanya. Namun, Arsha selalu enggan mengatakan apa yang terjadi. Gressa seakan dibiarkan khawatir tanpa tahu apa pun.
"Sayang, aku bukannya nggak mau kasih tahu kamu-"
"Terus apa? Kamu nggak pernah bilang apa yang sebenarnya terjadi sama kamu. Bagimu aku ini siapa, Arsha? Aku khawatir... tapi aku nggak tahu apa pun."
Arsha menghela napas. Ia bingung sekarang. Baginya, Gressa benar. Sebagai kekasih, tentu Gressa ingin tahu apa yang terjadi padanya. Namun, Arsha masih ragu karena Agas belum memperbolehkan dirinya untuk mengatakan pada kekasihnya itu.
Tak kunjung mendapat jawaban dari Arsha, Gressa akhirnya menyerah. "Ya sudah, kita ketemu lagi nanti."
Arsha terkejut, Gressa tampak marah padanya. Sebelum gadis itu pergi, Arsha segera menahan tangannya.
"Sebenarnya... aku bagian dari Tim Netra."
~ Ice Cream ~
Setelah membaca isi kertas yang Chalova tulis, Jevian kembali meletakkannya di atas meja. "Isinya sesuai prediksi gue." Ucapannya berhasil membuat kawan-kawannya terfokus padanya. "Tapi sejujurnya, reaksi Chalova yang nggak sesuai sama prediksi gue."
Teman-temannya lantas saling melempar tatapan, tak mengerti dengan maksud Jevian.
"Maksud lo gimana?" tanya Arsen.
"Gue pikir dia bakal terkejut atau panik waktu kita bilang para petinggi ada hubungannya sama kasus Damian, tapi dia justru kebingungan. Artinya dia nggak ngerti apa yang terjadi." Jevian menyandarkan punggungnya, lantas menghela.
"Berarti yang dia sembunyikan selama ini nggak berhubungan sama kasus Damian," lanjut Jovano. Setelah mendengar penjelasan itu, barulah semuanya mengerti. Mereka serentak setuju pada apa yang Jevian pikirkan.
"Ada kasus lain?" tanya Sabas, mendapat anggukan dari Jevian.
"Kepanikannya itu nggak berhubungan dengan menghilangnya Damian, tapi ada kasus lain."
~ Ice Cream ~
Gressa melangkah terburu-buru dengan perasaan kalut. Hatinya terus mengatakan jangan, tetapi langkahnya tak berhenti membawanya pada ruangan yang bertuliskan "Ruang DPM" itu. Gressa terhenti di depan pintu, memandangi pintu ruang DPM yang tertutup. Ia menatap ke segala arah, situasi aman tanpa ada yang berlalu-lalang. Namun, Gressa masih ragu untuk mengatakan apa yang baru saja ia ketahui.
Baru saja ia hendak pergi, pintu ruang DPM tiba-tiba terbuka. Gressa terkejut kala melihat laki-laki yang ingin ia temui sudah berada di depan pintu sambil menatapnya dengan remeh.
"Barusan lo mau kabur, kan?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.