HAPPY READING
.........
Setelah Felly pergi bersama Aksa, Aluna, Vanya, dan Areksa kembali fokus mencari buku. Mereka berjalan ke bagian lain toko yang lebih tenang. Areksa terlihat sedikit gelisah, tapi Aluna mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Udah lah, mungkin mereka cuma butuh waktu buat ngobrolin masalahnya," ucap Aluna sambil memilih buku.
"Iya, bener. Kadang lo harus ngasih jarak biar mereka bisa nyelesain semuanya sendiri," sahut Vanya.
Areksa menghela napas, tapi mengangguk. "Iya, gue tau. Cuma, gue khawatir sama Felly. Gue ga pengen dia disakitin lagi."
"Lo care banget sama Felly, ya?" tanya Aluna pelan sambil memperhatikan Areksa.
Areksa hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Dia temen gue. Gue cuma ga mau dia terluka lagi."
Sementara itu, Aksa dan Felly berjalan ke kafe kecil di sebrang toko buku. Kafe itu tidak terlalu ramai, dengan suasana yang cukup tenang. Setelah memesan minuman, mereka duduk di meja yang ada di sudut ruangan.
Suasana kafe itu tenang, berbeda dengan hati Felly yang masih kacau. Aksa menatap Felly yang sedang mengaduk-aduk tehnya tanpa minat, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
"Fell, aku tahu kita lagi ribut sekarang, tapi aku beneran pengen jelasin semuanya," Aksa memulai, suaranya tenang.
Felly masih tidak menatap Aksa, ia hanya memainkan sendoknya, mencoba menahan kekesalannya.
"Alea... dia bukan siapa-siapa buat aku, kamu tahu itu kan?" lanjut Aksa dengan nada penuh penyesalan. "Aku sama sekali nggak ada perasaan sama dia, dan soal kemarin itu, aku cuma berangkat bareng sama dia karena papa kamu yang minta."
Felly mendongak sedikit, masih belum sepenuhnya yakin. "Papa yang minta?" tanyanya ragu.
"Iya, papa kamu minta aku untuk pergi bareng ke sekolah sama Alea awalnya aku kerumah kamu, untuk jemput kamu tapi waktu itu kamu udah berangkat sama Sky terus pas aku mau pamit pergi, papa nahan aku dan minta untuk berangkat bareng Alea karena saat itu papa sama mama kamu ada meeting di kantor dan posisi nya sudah telat. Aku juga nggak ngerti kenapa harus aku, tapi karena papa kamu yang minta, ya aku nggak bisa nolak," jelas Aksa, sambil sesekali melirik Felly untuk melihat reaksinya.
"Oh gitu ya?" Felly mendengus pelan, matanya kembali fokus ke gelas tehnya.
"Iya.. aku tadi mau jelasin semuanya, tapi kamu udah marah duluan," Aksa tersenyum lemah. "Dan aku juga salah, nggak seharusnya aku biarin Alea ikut campur urusan kita."
Felly terdiam beberapa saat, mengingat semua yang terjadi tadi-perdebatan di depan rumah, sikap Alea yang seakan-akan ingin merebut Aksa, dan rasa kecewanya karena Aksa tidak menjelaskan lebih awal.
"Aku cuma nggak suka ngeliat kamu deket sama dia," Felly akhirnya mengakui, nadanya lebih lembut. "Kamu tahu kan kamu sama dia dulu ada hubungan?"
Aksa mengangguk pelan. "Aku tahu, tapi aku nggak pernah ngasih harapan lagi dan udah ga ada perasaan apa-apa juga sama dia. Kamu satu-satunya buat aku, Fell."
Kata-kata itu membuat Felly sedikit tenang. Ia tahu Aksa memang tidak pernah main-main dengan perasaannya, tetapi kehadiran Alea selalu membuatnya khawatir.
"Kamu yakin nggak ada apa-apa?" tanya Felly lagi, kali ini menatap Aksa dengan lebih serius.
Aksa mengangguk tegas. "Aku yakin, Fell. Kamu satu-satunya yang aku mau. Aku minta maaf kalau bikin kamu ngerasa nggak nyaman atau cemburu, tapi aku bakal berusaha lebih baik. Kita bisa mulai dari awal lagi kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTAKU YANG HILANG
Teen Fiction"rupanya kita hanya kebetulan yang tak pernah tertulis,di masa depan" -fellyshaanasera "hubunganku dengan dia hancur di saat masalalunya kembali" -fellyshaanasera " Abadi? " Diantara sekian luasnya bumi ini, Tuhan menjatuhkan rasaku, pada rapatny...
