HAPPY READING GYSS
.
.
.
Bel istirahat akhirnya berbunyi. Felly menghela napas panjang sebelum beranjak dari kursinya. Dia nggak menunggu Areksa, tapi cowok itu otomatis ngikut di belakangnya begitu mereka keluar kelas.
Rooftop sekolah sepi seperti biasa. Angin sore yang bertiup pelan bikin suasana sedikit lebih tenang, meski hati Felly masih terasa berat.
Begitu sampai di sana, Felly bersandar ke pagar, menatap langit dengan kosong. "Kenapa ngajak gue ke sini?" tanyanya tanpa menoleh.
Areksa menyandarkan punggungnya ke pagar di sebelah Felly. "Karena lo butuh tempat buat napas sebentar."
Felly mendengus pelan. "Sok ngerti."
Areksa hanya mengangkat bahu. "Lo keliatan kayak orang yang pengen kabur, tapi nggak tahu harus ke mana."
Kata-kata itu bikin Felly terdiam. Dia nggak bisa menyangkalnya, karena itu benar.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan sebelum akhirnya Felly bicara, suaranya pelan. "Gue nggak ngerti, Rek. Kenapa gue harus ngerasa kayak gini?"
Areksa menoleh, menunggu kelanjutannya.
"Gue tau Alea nggak lebih dari masa lalu buat Haksa," lanjut Felly, matanya masih terpaku ke langit. "Tapi kenapa dia selalu lebih dulu buat dia? Kenapa gue selalu harus jadi yang belakangan?"
Areksa menghela napas, lalu ikut menatap langit. "Kadang, orang yang kita sayang nggak selalu ngeliat kita seperti kita ngeliat mereka."
Felly menoleh ke arahnya, menatap Areksa lama. "Jadi maksud lo, Haksa nggak sayang sama gue?"
Areksa menoleh balik, menatap matanya dalam. "Gue nggak bilang gitu. Gue cuma bilang, mungkin... lo bukan prioritasnya."
Perkataan itu seperti pukulan telak buat Felly. Hatinya mencelos, tapi di satu sisi, dia juga nggak bisa membantahnya.
Tanpa sadar, matanya terasa panas. Tapi dia menolak buat nangis.
Areksa nggak bilang apa-apa lagi, cuma diam di sebelah Felly, membiarkan cewek itu mencerna perasaannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya hari ini, Felly merasa ada seseorang yang benar-benar ngerti dia—tanpa harus dia jelaskan panjang lebar.
Felly menarik napas dalam-dalam, berusaha menelan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Dia nggak mau nangis, apalagi di depan Areksa.
Cowok itu tetap diam, nggak mencoba ngasih saran atau omongan sok bijak. Dia cuma ada di sana, dan anehnya, itu cukup buat Felly.
Setelah beberapa saat, Areksa akhirnya buka suara. "Lo nggak harus maksa diri buat terus bertahan kalau lo yang paling sakit."
Felly meliriknya sekilas. "Gue nggak maksa diri."
Areksa menaikkan sebelah alis. "Oh, iya? Terus kenapa lo keliatan kayak orang yang nyimpen banyak luka tapi pura-pura nggak ada apa-apa?"
Felly mendengus pelan, menunduk. "Karena kalau gue tunjukin, nggak akan ada yang peduli juga."
Areksa menatapnya lama sebelum akhirnya bersuara, lebih pelan kali ini. "Gue peduli."
Felly terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa, terasa lebih jujur dibanding apa pun yang pernah dia dengar hari ini.
Areksa melanjutkan, "Gue nggak bilang lo harus ninggalin Haksa atau ngelakuin sesuatu sekarang. Tapi kalau suatu hari lo capek banget sampe nggak bisa pura-pura lagi, lo bisa datang ke gue. Gue bakal dengerin."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTAKU YANG HILANG
Teenfikce"rupanya kita hanya kebetulan yang tak pernah tertulis,di masa depan" -fellyshaanasera "hubunganku dengan dia hancur di saat masalalunya kembali" -fellyshaanasera " Abadi? " Diantara sekian luasnya bumi ini, Tuhan menjatuhkan rasaku, pada rapatny...
