part 22

10 2 0
                                        

happy reading gyss!!
.
.
.

Lalu, dengan suara yang hampir berbisik, Felly.. akhirnya berkata, "Gue cuma sadar... gue nggak bakal bisa bikin Aksa kayak gitu ke gue."

Areksa masih menatapnya, kali ini tanpa senyuman tengil atau godaan konyol seperti biasanya. Tatapan itu tenang, tapi dalam, seolah memahami sesuatu yang bahkan Felly sendiri belum sepenuhnya mengerti.

"Yaudah," ucap Areksa akhirnya, suaranya lebih lembut. "Sekarang lo maunya apa?"

Felly menarik napas dalam, berusaha menenangkan gejolak dalam hatinya. "Gue cuma mau pulang."

Areksa mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Dia kembali menyalakan mobilnya, tapi sebelum melajukan kendaraan, dia berkata pelan, "Lo boleh nyari kenyamanan di mana aja, Fell. Tapi jangan di orang yang nggak pernah niat nyediain itu buat lo."

Felly nggak langsung menjawab. Kata-kata itu menggantung di benaknya, menimbulkan sesuatu yang aneh di hatinya. Dia hanya menatap lurus ke depan, membiarkan Areksa melajukan mobilnya.

Dan perjalanan pulang pun dilanjutkan dalam diam.

Tapi, meskipun mereka berdua diam, pikiran Felly penuh dengan berbagai perasaan yang bercampur aduk. Matanya kembali panas, tapi dia menatap keluar jendela, mencoba mengalihkan perhatiannya.

Areksa melirik Felly sekilas. "Lo boleh cerita, kalau lo mau."

Felly menggigit bibirnya, ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Gue nggak ngerti, Rek. Kenapa gue ngerasa sesakit ini?"

Areksa menarik napas, tangannya menggenggam kemudi dengan lebih erat. "Karena lo udah terlalu banyak berharap."

Felly terdiam. Kata-kata itu begitu sederhana, tapi menyakitkan karena benar.

"Tapi gue udah tahu kalau Aksa nggak bakal berubah," lanjut Felly, suaranya sedikit bergetar. "Jadi kenapa gue masih berharap?"

Areksa tertawa kecil, tapi bukan tawa mengejek. Lebih seperti tawa pahit. "Karena hati lo nggak bisa dikontrol kayak logika lo, Fell."

'kaya perasaan gue ke lo fell, gue gak bisa ngontrol hati gue..' dalam hatinya.

Felly menunduk, jemarinya menggenggam rok seragamnya erat. Dia ingin menyangkal, ingin bilang kalau dia bisa mengontrol perasaannya. Tapi nyatanya? Dia tetap terluka.

Tanpa sadar, air mata yang tadi dia tahan akhirnya jatuh.

Areksa yang melihatnya hanya diam, tapi tangannya terulur, mengambil tisu di dashboard dan menyerahkannya ke Felly. "Nih."

Felly mengambilnya tanpa berkata-kata, mengusap air matanya dengan kasar.

Tak terasa, mobil Areksa sudah berhenti di depan rumah Felly.

Areksa turun lebih dulu, lalu berjalan ke sisi lain mobil untuk membukakan pintu. "Ayo turun," ucapnya santai.

Felly keluar dengan langkah pelan. Sesaat dia hanya berdiri di sana, menatap Areksa yang masih menahannya di tempat.

"Thanks, Rek," katanya pelan.

Areksa hanya tersenyum kecil. "Santai. Kalo lo butuh apa pun, lo tahu kan gue bakal selalu ada buat lo?"

SEMESTAKU YANG HILANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang