HAPPY READING GUYS
.
.
.
Dan sebelum dia sempat merespons, Areksa melanjutkan, “Dan sekarang, gue tahu lo lagi nggak baik-baik aja… Karena itu, gue ada di depan rumah lo.”
Mata Felly membelalak. “Apa?”
------
Alea mencengkeram ujung bajunya erat, berusaha menahan ekspresi paniknya. Sementara itu, Adisthi melirik Gautama, berharap pria itu akan mengatakan sesuatu untuk meredam situasi.
Gautama sendiri masih berdiri di tempatnya, rahangnya mengeras, napasnya berat. Untuk sesaat, ruangan terasa begitu sunyi setelah Felly dan Sky pergi, meninggalkan ketegangan yang menggantung di udara.
"Papa," Alea akhirnya bersuara dengan nada lembut, seolah meminta perlindungan. "Mereka jahat banget sama aku... Aku nggak ngerti kenapa mereka benci aku..."
Gautama akhirnya menghela napas, mengusap wajahnya dengan kasar. "Sudah, Alea... Papa nggak mau dengar apa-apa lagi sekarang."
Alea menunduk, tapi ekspresi di wajahnya tidak semanis suaranya.
Adisthi, yang menyadari situasi ini mulai berbahaya, buru-buru membuka mulut. "Mas, jangan diam saja. Kamu nggak bisa membiarkan mereka terus bersikap seperti ini!"
Gautama menatapnya tajam, jelas masih emosi. "Kamu pikir aku harus gimana? Mereka anak-anak aku juga, Dis! Kamu pikir aku bisa seenaknya buang mereka?"
Adisthi terdiam, tapi dalam hatinya, dia tahu inilah celah yang harus dia manfaatkan.
"Mas nggak perlu buang mereka..." Adisthi berusaha bersuara selembut mungkin. "Tapi kalau mereka terus begini, Mas harus kasih mereka pelajaran. Kalau Mas terlalu lunak, mereka nggak akan pernah menghargai keluarga kamu ataupun keluarga kita."
Alea mengangguk pelan, ikut menambahkan, "Aku takut, Pa... takut kalau mereka akan semakin membenci aku. Aku cuma mau kita bisa jadi keluarga yang harmonis..."
Gautama menatap putrinya, dan untuk sesaat, ekspresinya melembut. Dia memang tidak bisa menyangkal bahwa ada yang salah dalam hubungannya dengan Felly dan Sky. Tapi di saat yang sama, dia juga tidak bisa membiarkan mereka terus menantangnya seperti ini.
"Papa akan urus ini," katanya akhirnya, suaranya lebih tegas. "Papa nggak akan biarin Felly dan Sky terus-terusan bersikap kurang ajar seperti tadi."
Alea menunduk, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
Adisthi pun tersenyum kecil, merasa skenario yang ia inginkan akhirnya berjalan dengan lancar.
Sementara itu, di kamar mereka, Felly duduk di tepi tempat tidurnya, matanya menatap kosong ke arah jendela. Sky duduk di kursi, masih dengan ekspresi kesal.
"Gue beneran muak," gumam Sky, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Papa tuh udah nggak bisa diharapin lagi."
Felly tertawa kecil, tapi bukan karena senang. "Dari dulu juga gitu, Sky. Lo baru sadar?"
Sky mendengus. "Jadi apa sekarang? Kita bakal terus di sini dan nunggu mereka ngelakuin sesuatu?"
Felly diam sejenak, lalu menoleh ke arah adiknya. "Nggak. Kita nggak bakal diem."
Sky mengangkat alis. "Maksud lo?"
Felly menyeringai kecil. "Gue udah capek jadi korban. Sekarang, giliran kita yang pegang kendali."
Semakin larut malam, rumah itu mulai hening.
Sky akhirnya kembali ke kamarnya, masih dengan perasaan kesal yang bercampur aduk. Dia melemparkan diri ke kasur, menatap langit-langit sambil menghela napas panjang.
Di kamar lain, Felly terbaring di ranjangnya, menatap kosong ke atas. Cahaya lampu tidur redup menerangi ruangan, menciptakan bayangan samar di dinding. Suasana sunyi membuat pikirannya semakin dipenuhi kenangan yang sudah lama ia kubur.
Setelah beberapa saat menatap langit-langit tanpa fokus, ia mengembuskan napas pelan, lalu memejamkan matanya perlahan.
"Ibu... Felly kangen sama Ibu..." bisiknya lirih.
Rasa rindu yang ia pendam selama ini kembali menyeruak, memenuhi hatinya dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Tak lama kemudian, lelah akhirnya menguasainya. Dengan pikiran yang masih dipenuhi kenangan tentang ibunya, Felly perlahan terlelap, tenggelam dalam tidur yang penuh dengan bayangan masa lalu.
______
Pagi hari tiba, Langit masih berwarna jingga keemasan ketika alarm di kamar Felly berbunyi nyaring, memecah keheningan. Gadis itu mengerjap pelan, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit dari tempat tidur. Badannya terasa berat, pikirannya masih penuh dengan kejadian semalam.
Ia melirik jam di ponselnya-tidur lebih lama juga nggak akan mengubah keadaan.
Di kamar sebelah, Sky sudah bangun lebih dulu. Dia berdiri di depan cermin, mengenakan seragamnya dengan santai. Setelah merapikan rambutnya sekilas, dia keluar kamar dan langsung menuju dapur.
Nggak ada suara, nggak ada kehangatan.
Meja makan sudah tertata rapi, tapi seperti biasa, nggak ada makanan yang disiapkan untuk mereka. Adisthi dan Gautama mungkin sudah pergi lebih dulu untuk mengantarkan Alea ke sekolah.
Sky hanya mendengus kecil, lalu membuka kulkas dan mengambil susu kotak. Tanpa repot-repot menuangnya ke gelas, dia langsung meneguknya. Begitu dia menutup pintu kulkas, Felly sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan ekspresi malas.
"Bangunin gue nggak, lo?" tanyanya, suaranya serak pagi hari.
Sky meliriknya sekilas lalu mengangkat bahu. "Gue pikir lo mau tidur seharian."
Felly mendecak, lalu membuka kulkas dan mengambil sepotong roti. Sambil menggigitnya, dia menuang susu ke dalam gelas. "Tiap pagi gini terus. Lo sadar kan, kita udah kayak anak kos?"
Sky terkekeh kecil, lalu menyender di meja dapur. "Mungkin karena emang kita bukan bagian dari mereka."
Felly diam. Nggak perlu dijawab. Nggak ada gunanya juga marah atau mengeluh.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai sarapan. Sky meraih tasnya, sementara Felly mengambil jaketnya dan menyampirkannya di bahu.
"Lo jemput gue nanti?" tanya Felly sambil merapikan rambutnya sekilas.
Sky mengangkat bahu tanpa banyak berpikir. "Liat nanti. Lo kalau nggak sabar, nebeng Areksa aja."
Felly yang awalnya biasa aja, langsung melotot. "Sialan."
Sky ngakak pelan, puas dengan reaksi kakaknya. Felly mendengus, lalu meninju lengan Sky pelan.
"Bacot."
Mereka berdua akhirnya keluar rumah, menuju mobil Sky yang sudah terparkir di garasi. Langit mulai berubah biru muda, menandakan hari yang baru telah dimulai-meskipun bagi mereka, rasanya masih sama saja.
Di sisi lain kota, di dalam mobil mewah yang melaju di jalanan, Alea duduk manis di kursi belakang, tersenyum kecil sambil memainkan ujung rambutnya. Sesekali dia melirik ke kaca untuk memastikan riasannya tetap sempurna.
Adisthi, yang duduk di samping Gautama, melirik putrinya dan tersenyum lembut. "Kamu yakin baik-baik saja di sekolah, sayang?"
Alea memasang ekspresi polos. "Iya, Bu. Aku bakal baik-baik aja kok, selama Kak Felly dan Sky nggak ganggu aku."
Gautama, yang fokus menyetir, menghela napas panjang. "Papa bakal kasih mereka pelajaran kalau mereka terus berulah. Kamu nggak usah takut."
Alea tersenyum kecil, puas dengan jawaban itu.
Sementara itu, kembali ke rumah Felly dan Sky, Felly akhirnya selesai bersiap. Dia memakai seragamnya, merapikan rambut, lalu mengambil tasnya.
Sky sudah menunggunya di luar dengan mobil yang sudah siap melaju. "Udah siap?" tanyanya.
Felly mengangguk. "Let's go."
Tanpa banyak bicara lagi, Sky menyalakan mesin mobilnya dan mereka pun melaju menuju sekolah, meninggalkan rumah yang kini terasa semakin kosong.
NEXT...
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTAKU YANG HILANG
Teen Fiction"rupanya kita hanya kebetulan yang tak pernah tertulis,di masa depan" -fellyshaanasera "hubunganku dengan dia hancur di saat masalalunya kembali" -fellyshaanasera " Abadi? " Diantara sekian luasnya bumi ini, Tuhan menjatuhkan rasaku, pada rapatny...
