HAPPY READING GYSS
.
.
.
Di dalam ruangan itu, dia lihat Haksa duduk di atas kasur UKS, sementara Alea berdiri di depannya, dengan kapas di tangannya. Dia lagi ngebersihin luka di wajah Haksa dengan ekspresi seolah dia benar-benar peduli.
Felly terdiam di depan pintu, nggak langsung pergi. Dia nggak tau kenapa dia masih berdiri di situ, tapi kakinya terasa berat buat melangkah.
Haksa... beneran di sini? Sama Alea?
Hatinya makin sesak ketika dia sadar sesuatu.
Haksa lebih milih buat samperin Alea dulu. Dia lebih milih ada di sini, duduk manis sambil diobatin Alea. Padahal... kalau dia mau, Felly bisa aja yang ngelakuin itu buat dia. Bukankah itu seharusnya? Tapi nyatanya, Haksa nggak pernah kasih kesempatan itu buat Felly.
Tangan Felly mengepal di samping tubuhnya.
Dia nggak bisa denger jelas apa yang mereka omongin, tapi dia lihat gimana Alea tersenyum kecil sambil bersihin luka Haksa, dan Haksa membiarkan itu terjadi tanpa menolak.
Semakin dia lihat mereka, semakin rapuh rasanya.
Hatinya remuk pelan-pelan, tapi dia nggak mau nangis. Dia nggak mau terlihat lemah. Jadi, tanpa suara, dia mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya ke kelas.
Nggak ada gunanya dia berdiri di situ lebih lama.
Orang yang seharusnya peduli sama dia, justru memilih orang lain. Jadi, buat apa dia berharap lebih?
Felly sampai di kelasnya dengan langkah yang lebih berat dari biasanya. Hatinya masih terasa sesak, tapi dia buru-buru mengabaikan perasaan itu dan langsung menuju mejanya.
Tangannya merogoh tas, mencari kotak P3K yang selalu dia bawa. Tapi pikirannya masih tertinggal di depan UKS. Masih terbayang bagaimana Haksa duduk di sana, membiarkan Alea mengobatinya seolah itu hal yang wajar.
Gue bisa ngelakuin itu buat lo. Gue pacar lo.
Felly menghela napas, menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit yang nggak terlihat.
Setelah menemukan kotak P3K, dia buru-buru keluar dari kelas, nggak mau berlama-lama sendirian dengan pikirannya sendiri.
Begitu kembali ke taman belakang sekolah, Areksa masih duduk di bangku yang sama, menunggu dengan posisi santai. Tapi begitu Felly datang, cowok itu langsung mengangkat wajahnya, tatapannya sedikit kaget.
“Kok lama?” tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya.
Felly menghela napas, duduk di sebelahnya tanpa menjawab. Dia membuka kotak P3K dan mulai mengeluarkan kapas serta antiseptik.
Areksa memperhatikan gerakannya. “Lo nggak harus repot-repot, Fel.”
“Diem,” jawab Felly singkat. “Bibir lo masih berdarah.”
Areksa tersenyum kecil, tapi membiarkan Felly membersihkan luka di sudut bibirnya. Saat kapas yang dibasahi antiseptik menyentuh lukanya, dia sedikit meringis. “Sakit.”
Felly meliriknya. “Jangan sosoan makanya.”
Areksa diam, membiarkan Felly merawat lukanya tanpa protes lagi. Saat Felly masih sibuk, dia memperhatikan wajah cewek itu lebih dekat.
Dia lihat sesuatu di mata Felly. Sesuatu yang nggak bisa dia jelaskan, tapi dia tahu itu bukan cuma kelelahan biasa.
"Lo kenapa?" tanya Areksa tiba-tiba.
Felly mengerutkan kening. "Apa?"
Areksa menatapnya tajam. "Mata lo kayak abis lihat sesuatu yang nggak pengen lo lihat."
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTAKU YANG HILANG
Novela Juvenil"rupanya kita hanya kebetulan yang tak pernah tertulis,di masa depan" -fellyshaanasera "hubunganku dengan dia hancur di saat masalalunya kembali" -fellyshaanasera " Abadi? " Diantara sekian luasnya bumi ini, Tuhan menjatuhkan rasaku, pada rapatny...
