HAPPY READING GYSS
.
.
.
Aksa turun dari motornya, berdiri tegak di depan Felly. Jarak mereka nggak jauh, tapi terasa lebih lebar dari sebelumnya.
"Aku mau ngomong," katanya akhirnya.
Felly menatapnya tanpa ekspresi. "Kalau tentang tadi, aku nggak mau bahas lagi, Sa."
Aksa mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. "Tapi aku mau."
Felly menghela napas. "Buat apa? Buat jelasin sesuatu yang udah jelas?"
Aksa menatapnya dalam. "Aku nggak suka lihat kamu kayak gini."
Felly tersenyum miring, tapi matanya nggak mencerminkan hal yang sama. "Terus? Aku harus gimana? Pura-pura nggak kecewa, pura-pura kalau semuanya baik-baik aja?"
Aksa terdiam. Dia nggak bisa menyalahkan Felly atas perasaannya. Dia tahu dia salah. Tapi di saat yang sama, dia juga nggak bisa menjelaskan semuanya.
"Aku nggak mau kita jadi kayak gini, Fel," kata Aksa pelan.
Felly menatapnya lama, seolah mencoba mencari sesuatu dalam sorot matanya. Tapi akhirnya, dia menghela napas dan menggeleng pelan.
"Telat, Sa."
Aksa merasakan sesuatu mencengkeram dadanya saat Felly berbalik, melangkah menuju pintu rumah.
"Felly."
Langkah cewek itu terhenti sebentar, tapi dia nggak menoleh.
"Aku..." Aksa menggigit bibir, mencoba mencari kata yang tepat. "Aku nggak bisa kalau kita jauh."
Felly diam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Tapi kamu selalu lebih dekat sama dia, dan barusan kamu anterin dia pulang."
Aksa langsung menanggapi, suaranya terdengar frustrasi. "Please, Fel. Tadi aku udah nolak, tapi dia maksa."
Felly menarik napas dalam, matanya memejam sejenak sebelum akhirnya membuka lagi. "Dan kamu tetep ngelakuin itu."
Kata-kata itu seperti tamparan buat Aksa.
Felly nggak menunggu jawaban lagi. Kali ini, dia benar-benar masuk ke dalam rumahnya tanpa menoleh lagi.
Aksa tetap berdiri di tempatnya, merasakan kekosongan aneh dalam dadanya. Dia ingin mengejar, ingin bicara lebih banyak, tapi dia tahu itu nggak akan mengubah apa pun malam ini.
Dengan napas berat, akhirnya dia naik ke atas motornya dan pergi.
Begitu Felly masuk rumah, langkahnya langsung terhenti.
Di ruang tamu, Alea sedang duduk santai di sofa, menatapnya dengan senyum tipis yang terasa menusuk.
"Harusnya lo paham, Fel," kata Alea dengan nada pelan, tapi penuh arti. "Aksa belum sepenuhnya lupa sama gue."
Felly mengepalkan tangannya. Dadanya masih sesak karena percakapannya barusan dengan Aksa, dan sekarang Alea malah menambah semuanya jadi lebih buruk.
"Gue nggak peduli," balasnya, berusaha terdengar tegar.
Alea terkekeh kecil, menyilangkan tangannya di dada. "Lo bisa bohongin diri sendiri, tapi lo nggak bisa bohongin gue, Felly. Lo kecewa, kan?"
Felly menggigit bibirnya, menahan emosinya yang hampir meledak. "Mau lo apa sih, Alea!? Lo ngambil semua yang gue punya—Papa, tempat tidur gue, terus sekarang Haksa. Nanti apa lagi!?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTAKU YANG HILANG
Teenfikce"rupanya kita hanya kebetulan yang tak pernah tertulis,di masa depan" -fellyshaanasera "hubunganku dengan dia hancur di saat masalalunya kembali" -fellyshaanasera " Abadi? " Diantara sekian luasnya bumi ini, Tuhan menjatuhkan rasaku, pada rapatny...
