part 25

6 2 0
                                        

HAPPY READING GYSS
.
.
.



Suasana langsung meledak. Siswa-siswa mulai berteriak, beberapa buru-buru mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam. Sky bahkan sempat bersumpah pelan sebelum melangkah maju untuk melerai.

"Cukup!"

Tapi Haksa dan Areksa sudah terbakar emosi. Mereka saling pukul tanpa pikir panjang. Haksa melemparkan pukulan ke perut Areksa, tapi cowok itu berhasil menangkis dan membalas dengan tinju ke bahu Haksa.

"CUKUP,WOY!" Sky akhirnya menarik Areksa ke belakang, sementara Kaivan dan Faraz buru-buru menahan Haksa.

Felly masih berdiri di tempatnya, menatap Haksa yang kini menatapnya balik. Ada sesuatu di dalam tatapan cowok itu yang terasa… aneh.

"ADA APA INI?!"

Suara tegas itu menghentikan semua keributan. Semua siswa yang tadinya asyik menonton langsung membeku di tempat. Pak budi , guru BK mereka, berdiri di tengah kerumunan dengan ekspresi tajam.

Sky langsung melepas genggamannya dari Areksa, sementara Kaivan dan Faraz juga buru-buru menjauh dari Haksa.

"Kalian berdua, ikut saya ke ruang BK. Sekarang." Tatapan Pak budi mengarah ke Haksa dan Areksa, yang masih bernapas cepat dengan sisa amarah di mata mereka.

Areksa mengangkat bahunya santai "oke."

Haksa juga tidak membantah, tapi sebelum dia melangkah pergi, dia menoleh ke Rara. "Ra, tolong bawa Alea ke UKS dulu."

"Iya,ka" jawab Rara.

Felly, yang sedari tadi berusaha menahan perasaannya, merasa sesuatu di dalam dadanya pecah saat mendengar itu, bahkan Aksa tidak mempedulikan perasaan Felly, padahal Felly masih jelas ada disitu.

Dia hanya peduli pada Alea.

Padahal jelas-jelas cewek itu cuma bersandiwara.

Felly menggigit bibirnya, menggeleng pelan.

Sky, yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan ragu. "Lo nggak apa-apa?"

Tapi Felly tidak menjawab. Dia hanya menarik napas dalam, lalu berbalik pergi.

Sebelum Felly benar-benar pergi, Haksa sempat menatapnya. Mungkin dia sadar kalau ada sesuatu yang salah. Tapi Felly tidak memberinya kesempatan. Dia langsung memalingkan wajah, tidak ingin melihat tatapan itu lebih lama.

Namun, ada satu orang yang tidak berhenti menatapnya—

Areksa.

Cowok itu masih berdiri di tempatnya, matanya mengikuti Felly yang berjalan menjauh. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi dia jelas memperhatikan setiap langkah cewek itu dengan intens.

Sementara itu, Haksa hanya bisa menatap punggung Felly yang semakin menjauh. Tapi kali ini, dia tidak bisa menahan kepergiannya.

********

Di Ruang BK Areksa duduk santai di kursinya, sementara Haksa tampak lebih tegang, kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Pak budi menatap keduanya dengan ekspresi serius, kedua tangannya bersedekap.

"Kalian bisa jelaskan kenapa tadi berantem?"

Areksa menyeringai kecil, menoleh ke Haksa. "Tanya aja ke dia, pak. Dia yang mulai."

Haksa mendengus. "Lo yang cari masalah duluan, Areksa."

"Oh? Serius lo mau bahas siapa yang mulai?" Areksa menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gue cuma bilang lo harusnya lebih percaya pacar lo sendiri. Itu doang."

SEMESTAKU YANG HILANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang