part 28

4 2 0
                                        

HAPPY READING GYSS
.
.
.




Haksa masih terpaku di tempatnya, menatap punggung Felly yang semakin menjauh. Ada ribuan kata yang ingin dia ucapkan, tapi semua tertahan di tenggorokannya.

Sial. Ini nggak boleh berakhir begini.

Tanpa berpikir panjang, Haksa mengejar Felly dan kembali meraih tangannya, lebih erat dari sebelumnya.

“Felly, dengerin aku dulu.” Suaranya terdengar putus asa. “Nggak gitu. Kamu salah paham. Kamu mikirnya kejauhan.”

Felly akhirnya berhenti, tapi dia nggak langsung menatap Haksa. Bahunya naik turun, jelas sedang berusaha mengendalikan emosinya.

“Tapi nyatanya yang aku lihat kayak gitu, Sa.” Nadanya pelan, tapi tajam. “Aku nggak perlu mikir terlalu jauh, karena semua udah jelas di depan mata.”

Haksa menggeleng. “Aku nggak pernah maksud buat nyakitin kamu, Fel.”

Felly akhirnya menatapnya, matanya yang biasanya kuat kini terlihat lelah. “Tapi kamu tetap ngelakuin itu.”

Haksa terdiam. Tangan Felly terasa dingin di genggamannya, dan itu membuatnya semakin takut

Haksa menelan ludah, lalu berkata, “Alea sakit, Fel.”

Felly memejamkan matanya. Rahangnya mengatup kuat, mencoba meredam luapan emosi yang kembali mendesak.

“Dan aku pacar kamu.” Suaranya lebih pelan, hampir seperti bisikan. “Tapi kamu malah ada buat dia. Bukan buat aku.”

Haksa menghela napas berat. “Aku tahu. Aku tahu aku salah. Tapi Alea butuh seseorang di sisinya.”

Felly tertawa kecil, tapi bukan karena lucu. Lebih terdengar seperti seseorang yang akhirnya menyerah untuk berharap.

“Dan kamu selalu jadi orang pertama yang ada buat dia, ya?”

Haksa nggak langsung menjawab.

Felly akhirnya berbalik, menatap Haksa dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tapi tetap penuh ketegasan.

“Kapan terakhir kali kamu benar-benar ada buat aku, Sa?” suaranya pelan, tapi tiap kata menusuk. “Waktu aku sakit? Waktu aku ngerasa sendirian, kamu ada nggak? Nggak, kan?”

Haksa terdiam, tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Felly menarik napas dalam, lalu melanjutkan, “Kamu bisa khawatir sampe peluk dia. Bisa panik buat dia. Bisa lakuin apa pun buat dia. Sampai kamu lupa kalau aku juga ada.” Senyumnya miring, tapi matanya penuh luka. “Aku pacar kamu, Sa."

Haksa mengangkat wajah, matanya menatap Felly dengan sorot penuh frustrasi.

"Aku cape sama kamu."

menatapnya sekali lagi, lebih lama kali ini. Seolah ingin mengingat wajahnya untuk terakhir kali sebelum akhirnya berbalik dan pergi. Kali ini, tanpa ragu.

Haksa berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung Felly yang semakin menjauh. Tangannya masih sedikit terangkat, seolah ingin menahan Felly untuk tetap tinggal, tapi dia nggak punya keberanian buat melangkah lagi.

Dadanya terasa sesak, bukan cuma karena kelelahan, tapi juga karena rasa bersalah yang menghantamnya bertubi-tubi.

Perlahan, dia menghembuskan napas berat lalu melangkah mundur. Kakinya terasa lemas, seolah semua tenaganya dirampas habis oleh percakapan barusan.

Dengan langkah gontai, Haksa menjatuhkan dirinya di bangku koridor yang sepi.

Kedua sikunya bertumpu di lutut, tangannya naik ke rambutnya, mengusapnya dengan frustrasi.

SEMESTAKU YANG HILANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang