Happy Readinggg guyss
.
.
.
******
Pagi harinya, Felly terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik. Pikirannya yang sebelumnya penuh dengan kecemasan mulai mereda, berkat percakapannya dengan Aksa tadi malam. Setelah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, ia melirik ponselnya dan melihat pesan dari Aksa.
POV CHAT
Aksa👤 : Good morning, cantik.
Udah siap buat hari ini? Aku jemput ya.
Felly👤: pagi juga. Gak usah jemput,
aku bareng Sky aja.
Setelah itu, ia berjalan keluar kamar dan melihat Sky sudah siap dengan kunci mobil di tangan. "Yuk, Kak. Kita telat nih kalau nggak buru-buru," kata Sky sambil melirik jam tangan yang ia pakai.
Mereka pun pergi ke lantai bawah menelusuri anak tangga satu persatu, pandangan mereka tertuju ke ruang makan disana sudah ada Gautama-ayahnya, Adisthi-ibu tirinya dan Alea-saudara tiri mereka. Sky dan Felly pun ikut bergabung pagi ini untuk sarapan.
Setelah Felly dan Sky selesai sarapan, mereka segera bersiap-siap untuk pergi. Suasana di meja makan mulai terasa canggung saat Alea, yang sejak awal tidak bicara banyak, membereskan tasnya dengan santai. Tatapan dinginnya mengarah ke Felly sesekali, tapi Felly sengaja tidak memperdulikannya.
Sky, yang berdiri di sebelah Felly, melirik tajam ke arah Alea dan ibunya, Adisthi, yang sudah bersiap untuk mengantar Alea ke sekolah. Meski mereka semua satu sekolah, Sky selalu merasa ada jarak yang tidak bisa dijembatani antara dirinya, Felly, dan Alea beserta ibunya.
"Yuk, Kak. Kita telat kalau lama-lama," Sky mengingatkan dengan tegas kepada Felly, matanya masih tertuju pada Alea yang terlihat tenang, seolah tak peduli dengan ketegangan di sekitar mereka.
Alea mengangkat tasnya, menghadap ke pintu tanpa berkata apa pun. Gautama dan Adisthi sudah menunggunya di dekat mobil. Gautama tersenyum kecil, mencoba mencairkan suasana, "Alea, ayo, kita antar kamu ke sekolah."
Felly, yang menahan amarah dalam diam, hanya melirik mereka sekilas. Ia tidak pernah bisa memahami mengapa ayahnya begitu lunak terhadap Adisthi dan Alea, sementara ia dan Sky selalu merasa terpinggirkan. Di belakang Felly, Sky menggerutu pelan, "Mereka tuh bikin kita selalu ngerasa asing di rumah sendiri."
Adisthi memasang wajah ramah pura-pura, seperti biasa, "Felly, Sky, hati-hati di jalan ya. Jangan terlalu terburu-buru, kami akan pergi duluan" katanya dengan senyum yang tidak menyentuh matanya.
"Ayo Alea" ajak Gautama.
Felly hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia tahu kata-kata itu tidak berarti apa pun. Alea melangkah ke arah mobil dengan wajah angkuh, tanpa sekali pun melirik ke Felly atau Sky. Di dalam mobil, dia duduk di belakang dengan nyaman, seolah semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Felly dan Sky melihat mobil Gautama perlahan meninggalkan halaman rumah, sebelum akhirnya mereka berjalan menuju mobil mereka sendiri.
"Kayak kita mau peduli aja, mereka ngapain," gumam Sky dengan nada kesal.
Felly tersenyum tipis, "Iya, biarin aja. Yuk, kita ke sekolah."
Dengan itu, mereka berdua masuk ke mobil dan melaju, meninggalkan rumah dengan perasaan yang selalu sama setiap pagi-campuran antara kebencian dan ketidakpedulian terhadap Alea dan ibunya.
Sesampainya di sekolah, suasana pagi terasa sedikit lebih baik bagi Felly dan Sky. Mereka berdua memarkir mobil dan berjalan ke area parkir siswa. Felly merasa lebih tenang setelah berbicara dengan Aksa malam sebelumnya, meskipun merasa terasingkan di rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTAKU YANG HILANG
Teen Fiction"rupanya kita hanya kebetulan yang tak pernah tertulis,di masa depan" -fellyshaanasera "hubunganku dengan dia hancur di saat masalalunya kembali" -fellyshaanasera " Abadi? " Diantara sekian luasnya bumi ini, Tuhan menjatuhkan rasaku, pada rapatny...
