part 31

2 0 0
                                        


HAPPY READING!!..
.
.
.

Langit di luar mulai menangis, rinai hujan menari pelan di balik kaca jendela kamar Felly. Suasana makin sunyi, tapi pikirannya nggak ikut tenang. Bahkan lebih berisik dari sebelumnya.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, bukan pesan.

Panggilan masuk: Bunda Aksa.

Felly sempat bingung. Tangannya ragu menjawab, tapi akhirnya dia tekan tombol hijau.

“Assalamualaikum, Bunda...”

“Waalaikumsalam, Sayang,” suara Bunda terdengar hangat seperti biasa. “Kamu jadi datang malam ini, kan?”

Felly menelan ludah. “Iya, Bun...”

“Bunda masak makanan kesukaan kamu, lho."

Seketika matanya panas. Suara Bunda Aksa kayak selimut hangat di tengah badai.

“Iya, Bun... makasih ya,” jawabnya pelan, hampir berbisik.

“Jangan lupa bawa jaket, ya. Cuaca nggak bagus,” pesan Bunda lagi sebelum menutup telepon.

Setelah panggilan berakhir, Felly duduk lagi di tepi kasurnya. Dia ambil ponsel, buka dua pesan yang baru masuk sebelumnya.

Lalu, dengan napas panjang, dia mulai mengetik.

pov chat

Areksa👤 : fell gue jemput yaa..

Felly👤 : sorry, gue gak bisa.


Beberapa menit kemudian, ponsel Felly kembali berdering. Nama Haksa muncul di layar. Tapi sebelum dia sempat menjawab, satu mobil berhenti di depan rumahnya. Bunyi klakson pelan terdengar. Felly mengintip lewat jendela dan menemukan sosok yang familiar turun dari mobil dengan jaket hitam dan payung.

Aksa.

Ponselnya kembali bergetar.

pov chat

Aksaa👤 : aku di depan. cepet keluar, hujan makin deres.

Felly👤 : kamu nekat banget


Aksaa👤 : aku gak bakal biarin kamu untuk pergi sendirian felly..

Felly👤 : yauda tunggu, aku ke bawah


Felly cepat mengenakan hodie, mengambil tas kecil, lalu turun memberi tahu Sky sebelum keluar. Hujan masih turun, tapi tak terlalu deras. Aksa berdiri di depan rumah Felly, memegang payung sambil menunggu.

Begitu Felly muncul, Aksa buru-buru menghampiri dan memayunginya.

“Bunda bakal marah kalo kamu sampe basah,” ucap Aksa singkat.

Felly nggak banyak bicara. Mereka masuk ke mobil. Sepanjang jalan, hanya suara hujan yang menemani.

Tapi anehnya, hening itu nggak bikin sesak.

Sesampainya di rumah Aksa, pintu langsung dibuka oleh Bunda yang menyambut dengan senyum lebar.

“Felly, Sayang… akhirnya datang juga,” ucap Bunda sambil merangkulnya.

Felly tersenyum, pelan. Tapi senyum itu... tulus. “Bunda... Felly kangen banget sama bunda"

Mereka masuk ke dalam. Aroma masakan langsung menyambut. Suasana rumah Aksa selalu hangat, seolah waktu melambat di sini.

Setelah makan bersama di meja makan yang hangat, Bunda pamit masuk ke kamar, meninggalkan mereka berdua.

Felly duduk di ruang tengah sendirian, menatap api kecil dari lilin aromaterapi yang menyala. Beberapa saat kemudian, Aksa kembali muncul dari dalam—sudah ganti pakaian, sekarang mengenakan kaos putih dan celana pendek santai—lalu duduk di seberangnya.

SEMESTAKU YANG HILANGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang