HAPPY READINGGG!!!!
.
.
.
Mobil Aksa melaju pelan di bawah langit yang masih mendung. Hujan memang sudah reda, tapi sisa gerimis kecil masih membasahi kaca depan. Di dalam mobil, hanya suara lagu pelan dari speaker yang mengisi keheningan. Bukan hening yang canggung—tapi hening yang damai.
Felly bersandar di jendela, menatap lampu-lampu jalan yang memantul samar di kaca. Matanya lelah, tapi hatinya entah kenapa terasa ringan.
Aksa melirik ke arah Felly. “Kamu ngantuk?”
“Enggak. Cuma… gak nyangka malam ini bakal sejujur itu.”
Aksa tersenyum tipis, tangannya tetap di setir. “Kadang butuh hampir kehilangan buat kita ngomong dari hati.”
Felly menoleh, menatap siluet wajah Aksa yang diterangi lampu jalan. “Tapi kamu gak bakal kehilangan aku. Selama kamu masih milih tinggal, aku gak akan pergi.”
Aksa menggenggam setir lebih erat, seolah menahan perasaan yang pengen meluap. “Aku gak sempurna, Fell. Tapi aku janji, selama kamu ada di samping aku, aku bakal terus belajar jadi versi terbaik dari diriku.”
Felly tersenyum kecil. “Aku gak butuh kamu jadi sempurna. Aku cuma butuh kamu jadi nyata.”
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah Felly. Aksa mematikan mesin, tapi tak langsung bicara. Felly juga diam sebentar sebelum akhirnya melepas seatbelt.
Saat tangannya hendak membuka pintu, Aksa menahan pergelangan tangannya lembut.
“Fell…”
Felly menoleh, mata mereka bertemu.
“Aku sayang kamu.”
Felly terdiam. Bibirnya bergetar, bukan karena ragu, tapi karena akhirnya... kata-kata itu keluar, tanpa ditutupi alasan, tanpa digantung perasaan.
“Aku juga sayang kamu, Sa. Banm.”
Aksa mendekat sedikit, mencium punggung tangan Felly pelan. Bukan ciuman yang penuh nafsu—tapi yang penuh janji, yang bilang “aku di sini,” tanpa harus diucapkan lagi.
“Masuk, ya. Istirahat. Kabarin aku kalau udah sampai kamar,” ucap Aksa lembut.
Felly mengangguk. “Kamu juga hati-hati di jalan.”
Dia turun dari mobil, melangkah masuk ke rumahnya. Tapi sebelum pintu tertutup sepenuhnya, dia menoleh lagi, memberi senyum kecil.
Dan Aksa masih di sana. Menunggu sampai lampu rumah Felly menyala, baru akhirnya ia menghela napas panjang dan menyalakan mesin kembali.
Tapi malam itu, hatinya lebih tenang. Karena akhirnya, gak ada lagi rasa yang harus disimpan sendiri.
-------
Pagi datang pelan. Matahari malu-malu menembus tirai jendela kamar Felly. Udara masih dingin sisa hujan semalam, tapi entah kenapa pagi ini terasa lebih hangat dari biasanya.
Felly menggeliat pelan di tempat tidur, lalu meraih ponsel di samping bantal. Layarnya menyala—ada satu pesan baru.
pov chat
Aksa👤 : good morninggg... Jangan lupa sarapan, ya., nanti aku jemput kamu, kita berangkat bareng.
Felly gak bisa nahan senyum kecil yang spontan muncul. Ia membalas dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMESTAKU YANG HILANG
Teen Fiction"rupanya kita hanya kebetulan yang tak pernah tertulis,di masa depan" -fellyshaanasera "hubunganku dengan dia hancur di saat masalalunya kembali" -fellyshaanasera " Abadi? " Diantara sekian luasnya bumi ini, Tuhan menjatuhkan rasaku, pada rapatny...
