Bab 15. mama khawatir

746 40 5
                                        

Bima dan Refa pulang sekolah dengan wajah tertawa, sepanjang jalan mereka terus bercanda hingga mereka sampai dirumah.

Saat masuk dalam rumah ternyata Fani sudah menunggu mereka berdua, melihat kedua wajah anak nya yang senang Fani juga ikut senang.

"Assalamualaikum ma". Ucap mereka serempak kemudian mencium tangan Fani secara bergantian.

"Waalaikumsalam, kayaknya lagi seneng nih". Keduanya terkekeh pelan ketika mendengar ucapan sang mama.

"Hehe nggak ma, kak Bima tadi godain aku terus sepanjang jalan". Jawab Refa dengan pipi bersemu merah.

"Bima jangan begitu terus sama adiknya. Lihat tuh pipinya merah kayak kepiting rebus". Tegur Andita pada Bima diikuti kekehan kecil.

"Hahaha iya mah". Balas Bima tertawa.

"Ihh kak Bima apaan sih".
mengerutkan keningnya. Kemudian dibalas anggukan oleh refa.

"Iya ma Marvel, sepertinya kita harus memutuskan tunangan mereka. Apalagi anak itu sudah memutuskan hubungan keluarga dengan kita. Otomatis dia bukan anak mama sama papa lagi kan? Sekarang biar Refa yang menggantikan anak itu untuk jadi tunangan Marvel. Tih Marvel nya juga suka sama Refa kok bukan anak pembawa sial itu". Terang Bima panjang lebar. Bahkan untuk sekedar menyebut nama Nara saja sangat tidak disukainya. Dia hanya menyebut adik nya dengan 'anak itu'. Padahal mereka adalah saudara kandung.

Fani terdiam mencerna ucapan anak ketiga nya, entah kenapa hatinya sakit mendengar Bima mengucapkan hal yang tak sepantasnya mereka bahas.

Apalagi sudah sejak kecil kedua nya di jodohkan karena amanat mendiang kakek mereka tapi sekarang semuanya seakan berantakan.

"Mama nggak suka jika aku bersama kak Marvel?". Tanya refa membuat Fani tersadar dari lamunan nya.

"Mama memikirkan anak tak tahu diri itu? Asal mama tahu kalau Marvel cinta sama Refa bukan dia yang selalu membuat onar. Refa dan Marvel sudah lama berpacaran". Ungkap bima membuat Fani terkejut.

"Ha? Berpacaran? Sejak kapan?". Fani secara refleks bertanya.

Refa menatap Bima dengan wajah sedihnya. " Ma-maaf ma".

"Sejak kapan kalian berpacaran?". Pertanyaan kembali Fani layangkan.

Dengan wajah tertunduk refa segera menjawab. Se-sejak tiga bukan yang lalu ma, kak Marvel bilang kalau dia suka sama aku. Aku juga suka sama kak Marvel ma. Maaf". Fani memejamkan matanya tak percaya pantas saja Nara selalu saja ingin mencelakai adiknya ternyata ini alasannya?.

"Kenapa mama harus menghakimi Refa? Seharusnya mama senang kalau Marvel tidak menyukai anak pembawa sial itu. Karena jika itu terjadi mungkin Marvel akan kena sial terus". Bima langsung membek refa, apalagi melihat wajah adiknya yang berubah sedih bahkan matanya sudah berkaca-kaca.

"Ma-mama marah?".

Fani menghela nafas berat. "Nanti kita bicarakan hal ini dengan papa. Jika sudah ada keputusan, kita akan kerumah Marvel dan bertemu orang tuanya untuk membicarakan hal ini karena ini salah masalah serius".

Setelah mengatakan itu Andita berlalu meninggalkn mereka berdua, sesha menatap punggung Fani dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.

Bima segera menenangkan adik kesayangan nya, dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja dan tidak perlu khawatir.

Setelah Fani mengatakan apa yang tadi terjadi, kini semua keluarga berkumpul diruang tamu tak terkecuali Andre juga ikut duduk disana.

"Apa benar kamu dan Marvel sudah berpacaran?".Tanya Dirga menatap refa yang tengah tertunduk disamping Bima.

"I-ya pa". Hanyabitu yang bisa refa jawab.

Bima sejak tadi ingin menimpali tapi terus dihalangi oleh Dirga. "Diamlah dulu Bima, biar papa yang berbicara terlebih dahulu. Nanti papa juga akan meminta penjelasan mu".

"Sejak kapan?".

"Se-sejak tiga bulan pa. Maaf".

Dirga kembali teringat dengan ucapan istrinya tadi sore ketika dia pulang kerja. Mengenai Nara yang sering ingin mencelakai refa, bisa jadi itu adalah penyebab nya karena refa merebut tunangan keyra makanya nara begitu marah. Apalagi selama ini mereka tahu jika Nara sangat mencintai Marvel.

"Bima?". Kini tatapan Dirga beralih pada Bima.

"Marvel nggak suka sama anak itu pa....".

"Nara, Bima. Namanya nara. Dia adik kandung mu ". Timpal Andre yang sangat tidak suka jika Bima selalu menyebut nara dengan sebutan 'anak itu', 'anak pembawa sial'.

Bima melirik sekilas ke arah Andre, kemudian menghela nafas panjang. "Marvel nggak suka sama n-nara pa, apalagi jika disekolah Nara selalu menempel sama Marvel. Itulah yang membuat Marvel risih. Bahkan jika ada yang menyapa Marvel, tak segan Nara akan membully nya sampai orang itu ketakutan. Maka nya Marvel membenci Nara. Marvel malah menyukai Refa yang lemah lembut dan polos". Terang Bima memalingkan wajahnya.

Dirga mengusap wajahnya kasar. "Baiklah nanti kita akan bicarakan hal ini dengan keluarga Marvel".

Setelah itu Dirga langsung meninggalkan ruang tengah itu diikuti oleh fani dibelakangnya.

Sedangkan Andre ikut berdiri tapi sebelum itu dia menatap kearah Refa dan juga Bima.

"Pantas saja Nara sangat membenci mu ternyata kamu merebut tunangannya. Itu adalah hal yang wajar. Mereka telah dijodohkan ketika masih bayi oleh mendiang kakek kami. Tapi tiba-tiba kamu datang dan merebut semuanya? Cih dasar serakah". Ucap Andre dengan tatapan tajam mengarah pada Refa yang tengah duduk disamping Bima. Dan meninggalkan mereka berdua.

Bima ingin mengatakan sesuatu Refa segera mencegah nya karena takut mereka akan bertengkar.

"Sudah kak, aku tidak apa-apa".

"Ya sudah, kamu ke kamar mu saja istirahat". Refa mengangguk langsung berdiri menuju kamar nya.

Didalam kamar sesha mengepalkan tangan nya kuat, matanya memerah dengan sorot mata tajam.

"S*alan!!". Umpatnya.

"Kenapa abi selalu membela anak s*alan itu. Padahal dulu dia hanya diam saja. Arghhhhh. Aku tidak akan membiarkan Abi terus membela Nara. Aku akan terus membuat Nara jauh dari keluarga nya". Ucap Refa penuh emosi.

Gadis itu berjalan kearah tempat tidurnya, di duduk dipinggir ranjang dan mengambil benda pipih yang tergeletak diatas meja.

Diotak atiknya ponsel itu hingga meneple ditelinga nya. "Temui aku besok di tempat biasa. Aku merindukan mu". Ujar nya kemudian mematikan telepon itu.

Sedangkan dikamar orang tua Nara, mereka tengah berdebat kecil mengenai pertunangan yang entah akan batal atau akan digantikan oleh Refa.

"Apa papa tidak ingin mencari putri kita? Bagaimana pun dia adalah tunangan Marvel". Kata Fani menatap suaminya yang masih fokus dengan tablet di tangannya.

"Mama tidak perlu khawatir, Nara akan pulang dengan sendirinya. Maa percaya sama papa, mana mungkin anak yang masih sekolah bisa bertahan diluaran sana sendirian. Dan mengenai pertunangan nya, nanti kita bicarakan dengan keluarga Marvel". Dirga mencoba membuang rasa khawatir istrinya.

"Tapi pa, Nara sudah pergi daru kemarin. Lihatlah sampai sekarang dia belum pulang juga". Dirga meletakkan tabletnya kemudian mendekat pada istrinya. "Mama tenang yah, kita besok kerumah zora. Sepertinya Nara ada disana. Mama tahu sendirikan jika Zora dan Nara begitu dekat".

Fani melupakan hal itu, kali ini dia bisa bernafas lega setelah mendengar usulan suaminya.

Semoga saja Nara memang benar ada dirumah anak pertamanya Zora. Harapnya.

Bersambung...

Y.A.K.A.D Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang