"arghhhhh". Refa terus berteriak sebab Zora tak ingin melepaskan tangannya dari rambut gadis itu.
"AJENG LEPASKAN TANGAN MU!!! KAMU MEYAKITI ADIK MU". teriak Dirga yang berusaha menarik zora dari refa, tapi bukannya terlepas Zora semakin kuat menarik rambut Refa.
"Ajeng lepas sayang... Refa kesakitan huhuhu". Fani mulai menangis ketika melihat anak kesayangan nya yang menangis karena kesakitan.
Bima menatap tak percaya pada kakak pertama nya itu. "Lepaskan mbak!!! Jika tidak aku tidak akan segan menyakiti mbak Zora".
Baru saja Bima mengatakan hal itu, tubuh Zora tiba-tiba tersentak akibat tarikan keras seseorang.
Srek
Bugh
Zora terhempas ke lantai ketika Dirga menarik Zora dengan kuat. Dapat Zora rasakan jika saat ini pantatnya begitu sakit. Tapi itu tidak seberapa dengan rasa sakit hatinya yang melihat orang tuanya sendiri membela anak angkat nya. Sungguh Zora sangat ingin sekali menangis tapi harus ditahan nya.
Sean kembali membantu sang istri untuk berdiri, saat istrinya menyiksa Refa pria itu hanya membiarkan karena dia ingin istrinya melampiaskan semua kemarahan terlebih dahulu, apalagi selama ini sang istri selalu memendamnya.
"Ra-rambut aku sakit ma hiksss.... Pi-piku juga sakit hiks..hiks...". Refa mengadu kesakitan karena memang tamparan dan jambakan Zora sangat kuat, bahkan anak-anak rambut Refa ikut terlepas.
"Tega kamu Ra sama adik mu. Dimana hati nurani mu haaa!!!". Geram Fani menatap nyalang anak sulungnya.
Zora yang tersadar langsung terkekeh kecil. "Mama mengatakan saya tega? Saya baru memberi pelajaran pada anak s*alan itu tapi mama sudah mengatakan tega? Bagaimana dengan Nara, bagaimana selama ini dia hidup tanpa kasih sayang dari kalian? Bagaimana dia bisa bertahan dengan siksaan-siksaan yang kalian berikan pada anak kandung kalian sendiri HAAAA!!!. KALIAN SELALU MEMBELA ANAK PUNGUT ITU!!! SEMENJAK KEDATANGANNYA, KELUARGA KITA HANCUR!!! APA KALIAN SADAR". teriak Zora mengeluarkan semua emosinya, dia begitu muak dengan orang tuanya seakan Refa lah yang paling menderita disini.
"CUKUP AJENG!!! Nara pantas mendapatkan itu karena dia tega ingin melukai saudari nya sendiri". Balas Dirga membela sesha.
"DIA BUKAN SAUDARI NARA, MAUPUN SAUDARI KU!!! DIA...". tunjuk Zora dengan tangan gemetar. "DIA ADALAH ANAK PUNGUT YANG TIDAK TAHU DIRI!!!".
Plak
Satu tamparan mendarat mulus dipipi Zora, Sean bahkan tidak sempat menghalangi Dirga yang telah menampar istrinya. Semuanya begitu cepat berlalu. Bahkan kedua anak Zora terpekik keras melihat sang mama yang ditampar oleh opa nya sendiri.
"Mama....". Teriak mereka berdua langsung menghambur pelukannya ke arah Zora sambil menangis.
Bughhh
Sean langsung menghajar ayah mertuanya, saat ini Sean tidak memandang jika itu adalah mertuanya. Dia akan menghajar siapa saja yang telah menyakiti istrinya termasuk sang mertua. Apalagi anak-anak nya harus melihat perlakuan mertuanya terhadap Zora.
"Opa jahat... Opa tampar mama hiks...". Tangis anak pertama Zora yang bernama allen. Anak kecil itu menatap tajam pada Dirga yang sedang tersungkur akibat pukulan dari papa nya. Sedangkan Calista terus menangis melihat mama nya.
allen sudah mengerti akan permasalahan yang sedang dibahas oleh orang dewasa didepannya itu. apalagi umur nya sudah memasuki delapan tahun, walau tanpa dijelaskan sekalipun Allen sudah tahu. Berbeda dengan Calista yang masih berumur tiga tahun hanya mampu menangis ketika melihat mama nya di sakiti apalagi didepan matanya.
"Jangan pernah memperlihatkan kebengisan papa didepan anak-anak ku!!!". Kata Sean tegas.
"Pergi kalian dari sini, sebelum saya lepas kendali dan menghajar kalian semua. Saya tidak pernah memandang jika kalian adalah mertua saya. Jika ada yang menyakiti istri saya sampai melukai fisik nya berarti kalian adalah musuh saya!!!". Tatapan tajam Sean seakan ingin membunuh mereka semua.
Bima membantu papa nya untuk berdiri, kemudian berjalan keluar dari rumah zora. Mereka pulang dengan diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka didalam mobil.
Saat ini terpaksa Bima yang membawa mobil karena melihat keadaan papanya yang habis dihajar oleh Sean membuatnya tidak tega.
Apalagi sedari tadi Dirga terus melihat tangannya yang habis menampar anak sulungnya. Seketika penyesalan menjalar di seluruh tubuhnya.
Tak membutuhkan waktu lama, sekitar empat puluh menit akhirnya mereka sampai di kediaman Mahendra, Dirga dan juga fani segera turun tanpa menghiraukan kedua anaknya.
refa yang melihat itu mengepalkan tangan nya kuat, setelah kepergian Nara dari rumah ini bukannya dia mendapat kebahagiaan yang selama ini di impikan nya melainkan orang tua Nara masih tetap mencari anak itu.
'aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi, pokoknya Nara tidak boleh kembali lagi dirumah ini'. Batinnya menatap orang tua angkatnya yang sudah menghikanh dibalik pintu masuk rumah mereka.
'aku harus menghubungi ibu, yah hanya ibu yang bisa menolongku'. Batinnya lagi.
Bima yang melihat refa sedang melihat kedua orang tua mereka merasa kasihan, Bima mengira jika Refa sedang bersedih sebab sang mama tidak menyapanya Refa tadi.
"Ayo dek kita masuk juga, ini sudah tengah malam". Ajak Bima membuat refa tersentak kaget dari lamunan nya.
"I-iya kak".
Kedu kakak beradik itu segera turun dari mobil dan menuju kamar masing-masing, entah apa yang dipikirkan Bima sampai dia tidak mengantarkan adik kesayangannya kekamar, hal itu kembali membuat refa kesal.
"Arghhhhh... Kenapa semua berantakan seperti ini sih!!". Marahnya dengan suara kecil.
refa menggigit kuku-kuku jarinya sambil mondar-mandir ke sana kemari seperti orang kebingungan.
Refa mengambil ponsel nya kemudian duduk diatas ranjang, baru saja dia ingin menghubungi ibunya, tiba-tiba sang ibu sudah menelpon duluan.
"Bagaimana keadaan disana sayang?".Tanya sang ibu diseberang telepon.
"Aku sudah berhasil membuat anak s*alan itu terusir Bu, tapi sepertinya mereka masih menyainginya. Tadi saja kami kerumah mbak Zora mencari nya tapi ternyata dia tidak ada disana.
Ibu tahu? Aku sampai dijambak dan ditampar sama zora s*alan itu, rambut ku terasa sakit sekali". Curhat refa memegang kepalanya yang masih terasa nyeri sedikit.
"Ck!!! Kamu tenang saja biar ibu yang beri pelajaran sama zora".
"Iya Bu harus, aku nggak terima di permalukan seperti ini".
"Jadi dimana nara sekarang?". Tanya ibunya kembali.
"Yah mana aku tahu, diakan pergi. Dia juga nggak kesekolah tuh". Jawab refa acuh.
Hembusan nafas kasar keluar dari mulut ibu Refa. "Nanti ibu cari tau, ibu tutup dulu teleponnya".
Akhirnya sambungan telepon berakhir sepihak, refa kembali menyimpan ponsel nya di meja kemudian berbaring diranjangnya, sudah sejauh ini dia masuk dalam keluarga Mahendra dan tentu dia tidak akan melepaskan begitu saja.
Balas dendam ibunya sedikit demi sedikit terlaksakan berkat dirinya, sesha tersenyum senang akan hal itu.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
Roman pour AdolescentsIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
