Saat ini nara tengah menikmati makanan nya dikantin sekolah. Dia hanya sendiri kali ini sebab Sabahat nya Indira sedang izin.
Tidak ada gangguan sama sekali, baik dari pihak Dewangga, sesha maupun Marvel ddk.
Suasana nya begitu nyaman bagi nara hari ini.
Setelah makan, nara langsung beranjak pergi ke kelasnya. Tak lupa semua mata memandangnya tapi nara menghiraukan mereka.
"Apa selama ini nara nggak pernah bully Refa yah?". Tanya siswi pada temannya yang sedang duduk disampingnya.
"Nggak tau juga sih, tapi sepertinya begitu".Jawab temannya.
"Ternyata sesha nggak sepolos yang kita kenal yah. Aku nggak nyangka dia tega fitnah nara sampai selalu di sebut antagonis". Temannya hanya mengangguk saja.
Setelah bel masuk, nara mengikuti pelajaran dengan baik. Willi terus saja menatap nara yang dengan tenang mengikuti pelajaran.
"Gimana sih maksud mu kemarin?". Bisik nya pada Adrian.
Adrian tidak menanggapi pertanyaan Willi karena juga serius mengikuti pelajaran.
"Kok Abian nggak masuk sekolah yah? Mana dia alpa lagi". Lagi-lagi Adrian hanya menghiraukan Willi.
Willi menghembuskan nafasnya kasar, sebab sejak tadi dia bertanya pada Adrian tapi selalu saja di abaikan.
"Tidak usah banyak tanya, kita lagi belajar, kamu mau guru menunjuk mu ke depan mengerjakan soal?". Setelah itu Willi langsung diam, sebab dia sangat benci mata pelajaran ini, matematika, pelajaran yang sangat ingin di hindari oleh Willi tapi dia tidak bisa.
Tak terasa pelajaran matematika telah menghabiskan waktu selama dua jam. Ini adalah mata pelajaran mereka yang terkahir.
Bela pulang akhirnya berbunyi, semua siswa-siswi langsung membereskan peralatan belajar mereka dan memasukkannya dalam tas, begitupun dengan nara.
Nara berjalan keluar kelas tanpa menatap yang lain, karena memang hanya Indira lah temannya di sekolah ini.
Saat sedang melewati parkiran tiba-tiba seseorang memanggil nya.
"Nara...".nara menoleh pada sumber suara.Wajahnya tidak berubah, tetap datar saja.
Apalagi melihat geng dari Marvel yang telah memanggil nya, yaitu Dikta.
"Mau pulang bareng?". Tawar Dikta menatap nara.
"Tidak". Nara langsung meninggalkan dikt setelah mengatakan kata 'tidak'.
Dikta melihat kepergian nara dengan hembusan nafas pelan. "Sepertinya sangat sulit untuk mendekatinya". Gumam nya melihat nara terus menerus sampai tidak terlihat sebab susah melewati gerbang sekolah.
Nara berjalan menuju halte, dia sedang menunggu angkot disana. Sebenarnya bisa saja nara baik taksi tapi untuk mengeluarkan uang banyak hanya untuk naik taksi, rasanya nara sangat sayang, jadi mending menggunakan angkot saja.
Tak lama angkot telah datang, dari kejauhan, Dikta menatap nara dengan tatapan rumit. Entah apa yang ada dalam pikiran pemuda itu, dia selalu menatap nara akhir-akhir ini.
Karena mang angkot tidak masuk dalam kompleks dimana kost nya berada. Terpaksa nara harus berjalan kaki, tapi tidak terlalu jauh.
Dari kejauhan, nara dapat melihat ibu kost tengah berdiri didepan kamarnya, kening nara menyatu.
Dengan cepat nara menghampiri ibu kostnya. "Eh Bu.. sudah dari tadi?". Tanya nara sopan.
"Eh nak nara... Nggak kok, barusan juga ibu disini. Ibu kira nak nara sudah pulang. Makanya ibu bawain makanan". Lagi-lagi Bu Asri memegang dua piring makanan dan juga satu kantong kresek.
Tapi kali ini Nara juga melihat ada kantong kresek lainnya yang terletak di lantai. Melihat arah pandang nara, Bu Asri langsung mengerti.
"Maaf yah nak nara. Ibu terpaksa menyimpan nya di lantai soalnya tadi ibu ke repotan". Kata Bu Asri begitu lembut.
Nara yang melamun sedikit tersentak. "Eh nggak apa-apa Bu. Maunya saya berterima sama Bu Asri Sampai repot-repot membawakan makanan. Bukannya aku nggak mau Nerima Bu, tapi saya hanya sungkan kalau di bawain terus seperti ini. Takutnya ibu nanti repot". Jelas nara dengan pelan takut ibu kost nya tersinggung.
Bu Asri tersenyum lembut. "ibu nggak pernah repot kok nak. Apapun untuk nak nara". Wajah Bu Asri langsung berubah sendu.
Hal itu membuat nara gelagapan, sebab baru saja Bu Asri ceria tapi lihatlah, dia langsung berubah menjadi sedih.
Naraa langsung merasa tidak enak dibuatnya, mungkin Bu Asri sedih karena nara tadi mengucapakan seperti tadi. Pikir nya.
"Ma-maaf yah Bu. Aku terima kok makanan nya. Ibu jangan sedih lagi yah". Seketika wajah Bu Asri langsung ceria.
Bu Asri langsung memberikannya pada nara, tak lupa nara membuka pintu kamar kost nya karena ingin menyimpan makanan dari Bu Ari.
"Terimakasih yah Bu, nanti aku kembalikan piring-piring nya".
"Iya nak, kalau begitu ibu pulang dulu yah. Kamu Jagan lupa makan yang banyak biar sehat ". Setelah mengatakan itu Bu Asri langsung pergi meninggalkan kamar kost. Nara.
Naraa menghembuskan nafas lega, bukannya dia ingin menolak, justru dia senang jika harus dikasih makanan gratis, apalagi rasanya begitu nikmat.
Suara ketukan pintu membuat nara langsung menoleh ke arah pintu nya. Gadis itu segera berdiri, terlebih dahulu dilihatnya di balik gorden jendela.
"Ngapain sih dia kesini". Sungut nara menatap siapa yang tengah berdiri didepan pintu nya.
Dengan hati bersungut-sungut, nara segera membuka pintu sebab tamunya terus mengetuk tanpa henti.
"Kok lama buka nya?". Tanya orang itu melihat nara yang masih memakai seragam sekolahnya.
"Aku belum istirahat sama sekali pulang dari sekolah, kenapa kamu datangnya sekarang".
Balas nara dengan tangan bersedekap dada.
"Maunya sih aku tadi ingin jemput kamu di sekolah tapi ada masalah sedikit dijalan makanya aku terlambat". Nara hanya memutar bole matanya malas.
"Nggak disuruh masuk?".
"Ngapain masuk? Nggak ada kamu duduk di teras aja, aku nggak mau tetangga kost bicara aneh-aneh tentang kita yah". Jawab naraa dengan mata melotot.
Dewangga terkekeh melihat ekspresi nara yang menurut begitu imut. Mata yang sengaja di bulatkan membuat kesan sok pemberani.
"Yah nggak apa-apa, kita tinggal nikah aja kan?". Mata Nara semakin membulat mendengar apa yang di ucapkan oleh Dewangga.
'astaga pikiran macam apa itu, ini anak kenapa sih' batin nara menatap Dewangga dari atas sampai bawah.
Sedangkan yang ditatapnya berpose layaknya orang tampan, tapi memang tampan kan.
"Nggak usah ngelihatin segitunya, takutnya kamu jatuh cinta. Kan aku malu". Dewangga terkekeh dengan tangan menutup mulut.
"Dih geer banget, duduk disini dulu. Aku mau masuk ganti pakaian". Setelah mengatakan itu pintu kost nara langsung tertutup.
Dewangga hanya mampu menghela nafas, kemudian duduk di teras depan kamar kost nara sambil memainkan ponsel nya.
Tak lama pintu kost nara kembali terbuka, memperlihatkan nara sedang menenteng makanan.
"Sudah makan nggak?". Tanya nara mantap kearah Dewangga yang tadi sibuk main ponsel nya.
"Belum".
"Ayo makan, aku siapin dulu. Kamu duduk dilantai dulu yah. Kalau makan disini harus duduk dilantai karena nggak ada kursi, jadi maklumin aja". Dewangga hanya tersenyum melihat nara mulai meletakkan makanan di depan teras kamar kost nya, yang sebelumnya sudah di bersihkan oleh Nara.
"Kamu tidak akan merasakan seperti ini jika kamu sudah bersama ku". Gumam Dewangga terus menatap nara yang sedang menyiapkan makanan tanpa berkedip.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
Teen FictionIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
