Suasana ruang makan begitu sepi, hanya Refa sendiri yang sarapan disana. Sedangkan Dirga dan juga Bima sudah berangkat duluan, Stefani ? Ibu lima anak itu mengurung diri dalam kamar nya.
Dirga buru-buru ke perusahaan nya sebab orang yang disuruh nya untuk menyelidiki anak angkat nya sedang menunggu disana.
"Kemana sih mereka semua?". Gerutu Stefani menatap lantai atas dimana kamar orang tau angkat nya berada.
refa berangkat sekolah dengan diantar supir, tak membutuhkan waktu lama akhirnya mobil yang mengantar nya telah sampai.
Tanpa mengatakan apapun, gadis itu turun dengan cepat masuk ke dalam sekolah nya. Hal pertama yang dia akan temui adalah Bima, dia akan protes sebab Bima tidak menunggu nya.
Dengan langkah pasti, Refa menuju kelas Bima. Tapi sepanjang perjalanan para siswa-siswi menatapnya jijik, bahkan terdengar bisikan diantara mereka.
"CK!!! Dasar menjijikkan. Ku kira dia benar-benar lugu cih".
"Apa dia tidak malu untuk ke sekolah".
"Lihatlah bekas tamparan nya sendiri masih membekas di wajah jelek nya itu hahaha".
"Begitulah orang sok polos, nggak ada malunya".
"Kok aku nyesel yah pernah memuji nya".
"Kalau aku jadi dia mungkin sudah nggak datang ke sekolah ini lagi".
"Ternyata dia adalah srigala berbulu domba"
"Polos-polos munafik!!! Aku sangat membenci orang seperti itu".
Dan masih banyak lagi kata-kata yang memojokkan Refa, Bahkan ada juga yang menatap nya sinis sambil tertawa.
"Mereka kenapa sih, dasar kampungan".
Refa mempercepat langkah nya karena merasa hari ini semua riang memperhatikan nya.
Sampai didepan kelas Bima, Refa sempat celingak-celinguk mencari kakak angkat nya.
Ternyata Bima berdiam diri di meja nya bersama dengan geng nya.
Bima dan Marvel hanya diam tak menimpali teman-teman nya saat berbicara. Saat ini bel masuk belum mulai jadi geng Marvel berkumpul di kelas Bima.
"Kak Bima". Panggil Refa dengan suara lembut.
Walau terdengar lembut membuat seisi kelas langsung diam menatap kearah Refa.
"Loh ngapain sih si bitch ini datang ke kelas kita". Ujar siswi dengan name tag Aurora, gadis cantik yang berkuasa di kelas nya.
"Nggak punya malu kali". Timpal Sifa teman Aurora.
Refa yang mendengar itu memasang wajah sedihnya. Semua agar Bima membelanya dan menghajar siswi-siswi yang tadi menghinanya.
"Kak Bima". Panggilnya lagi dengan suara serak.
Bima tak merespon, pemuda itu diam melihat Refa. Bayangan dimana Refa melukai dirinya sendiri kembali berputar di kepalanya. Rasanya selama ini dia tengah di bodohi oleh Refa.
Dan parahnya, dia selalu membela Refa siapapun yang mengganggunya. Tak tanggung, Bima bahkan melawan siswi jika ada yang menyakiti adik kesayangan nya itu.
Merasa tak ada respon dari Bima, kini Refa beralih pada sang tunangan. "Kak Marvel, mereka menghinaku hiks...". Tangis nya, sama dengan Bima,Marvel pun tidak memperdulikan Refa. Apalagi setelah pulang dari sekolah, Marvel terus di cerahami dan di omeli oleh orang tuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
JugendliteraturIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
