32. kebenaran terungkap di cctv

771 53 10
                                        

Keheningan tercipta ketika Nara mengatakan hal itu, Dirga pun sama hal nya dengan mereka terdiam menatap Nara yang terlihat santai bahkan tanpa ada emosi di matanya.

Dirga yang ingin menghela tidak dapat melakukan itu, sebab apa yang dikatakan Nara adalah semuanya benar.

"Silahkan cek cctv sekolah ini jika bapak tidak percaya perkataan saya. Mulai dari saya keluar toilet sampai dalam toilet biar bapak tau apa yang terjadi sebenarnya". Nara memecah keheningan di ruangan itu.

Kepala sekolah Arhan tersentak kaget, kemudian mengangguk dan menelpon bagian keamanan cctv.

"Tolong salin rekaman cctv pagi ini". Ucapnya di saat sambungan telepon tersambung.

"Baik, saya tunggu secepatnya di ruangan saya". Setelah nya sambungan telepon dimatikan. Terjadi kembali keheningan, mereka tak tahu harus berbicara apa lagi.

Kepala sekolah Arhan menatap Nara, diterawangnya masuk dalam mata nara tapi sangat sulit menebak gadis itu. Sikap nya begitu tenang seakan tak pernah terjadi masalah dalam hidup nya.

"Jadi bagaimana dengan anak-anak kami pak?". Tanya fani membuat kepala sekolah Arhan memalingkan wajahnya pada fani.

"Sesuai dengan peraturan sekolah ini, terpaksa kami meng skors selama tiga hari anak tuan-tuan dan nyonya-nyonya agar bisa merenung dirumah atas perbuatan nya". Jawab kepala sekolah Arhan.

Fani mengangguk saja, begitu pun dengan para orang tua lainnya. Sedangkan Bima berdecak kesal mendengar hal itu.

"Kalau pelaku pembully di apakan pak? Selama ini dia". Tunjuknya pada nara. "Selalu membully adik saya".

"Bima... Yang kamu maksud dia itu adalah adik mu juga nak". Timpal wali kelas Nara. Sebagai wakil sekolah tentu Bu Dina tahu dari keluarga mama nara berasal.

"Dia bukan adik saya, adik saya hanya Refa seorang". Bima memalingkan wajahnya.

"Tidak perlu sampai segitunya Bu, memang mereka bukan keluarga saya. Hari ini saya katakan pada ibu, kepala sekolah dan para guru lainnya jika saya bukan anak dari tuan Dirga Mahendra dan nyonya Stefani . Jadi jika ada masalah mengenai Saya, tolong jangan panggil mereka. Karena sekarang saya hanya sebatang kara". Terang Nara membuat Bu Dina sedih. Sungguh malang nasib anak didiknya itu.

Dewangga mengepalkan tangannya, hatinya begitu sakit ketika Nara mengucapkan itu. Ada rasa ingin terus melindungi.

"Panggil saja saya pak Arhan, saya siap jadi wali keyra kapan pun. Iyakan pa?". Melda menyenggol lengan sang suami membuat Winston menganggukkan kepalanya.

"Benar pak Arhan. Bahkan kamu siap menjadikan Nara menantu kami jika dia mau".

Melda sampai menepuk jidatnya mendengar apa yang di ucapkan suaminya itu.

"Saya juga bersedia menjadi wali dari nak Nara pak, saya dan suami saya selalu siap". Hanapun ikut menimpali. Apalagi Hana sangat menyayangi keyra.

"Maaf yah nyonya Hana. Nara sudah menjadi calon menantu saya jadi saya harap nyonya Hana siap dengan kenyataan ini". Melda mencubit pinggang Winston hingga meringis kesakitan.

"Sakit ma". Adunya.

"Makanya jangan bicara sembarangan". Tegur Melda melototkan matanya.

"Lah kan memang benar Nara itu calon menantu kita. Mama nggak mau punya menantu ?". Kali ini Dewangga yang merasa sedikit malu, pemuda itu menutup wajahnya.

"Yah tapi nggak disini juga pa". Winston hanya terkekeh pelan.

Dirga dan Stefani melihat perdebatan keluarga Carlos langsung tertunduk malu, sebab sebagai orang tua mereka membuang anak nya sendiri sedangkan keluarga lain malah mengakui nara.

Y.A.K.A.D Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang