40. benci wajah polos itu

592 34 2
                                        

maaf ya guys tadi salah up hahah🙏

"Nara...".

berbalik menatap dua orang yang tengah berdiri tidak jauh darinya, ekspresi gadis itu tidak berubah bahkan semakin datar setelah melihat siapa orang yang tadi memanggilnya.

Tanpa menghiraukan, nara segera masuk dalam mobil tapi dengan cepat tangan nya di cekal oleh seseorang.

"Bisa tidak mengabaikan orang tua mu?".

nara menatap tangannya yang dipegang oleh Bima, sedetik kemudian, dengan kuat gadis itu menghepas pegangan Bima sampai terlepas.

"Kita tidak saling kenal, jangan pernah nyentuh gue". Tegas nara dengan tatapan tajam, Bima sampai terkejut melihat tatapan adik yang selama ini di sia-sia kan nya.

"Satu lagi mereka bukan orang tua gue". nara langsung masuk dalam mobil.

Dirga dan Stefani sudah sampai didepan mobil Marvel terus menggedor-gedor pintu mobil itu yang sudah tertutup.

"nara... Nak.. buka nak... Maafkan mama hiks..."Tangis Stefani terus saja menggedor pintu mobil Dewangga.

"Kita jalan?". Tanya dewangga yang melihat Stefani berusaha agar nara mau membukakan pintu mobil.

"Um".

nara hanya menatap lurus kedepan tanpa ingin menoleh kesamping melihat Stefani yang saat ini menangis memanggilnya dari arah luar.

Dewangga langsung menyapa mesin mobilnya dan mulai memundurkan mobil nya, Stefani tetap mengejar mobil itu, berharap nara mau keluar tapi seakan tuli dan buta, Nara sama sekali tidak menghiraukan Stefani yang menangis terus mengejar mobil Dewangga.

Bahkan Dirga menghentikan aksi istrinya, tapi Stefani tidak menyerah tetap ngejar mobil Dewangga hingga mobil itu hilang dari balik gerbang sekolah.

Bima yang melihat itu meneteskan air matanya. Baru kali ini pemuda itu terlihat menangis melihat sang ibu yang memohon-mohon pada putri yang di buang nya sendiri.

Sepanjang perjalanan nara hanya diam, padahal sedari tadi Dewangga mengajak nya berbicara tapi gadis itu seolah tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh pemuda yang saat ini duduk disampingnya.

nara hanya menatap kearah luar jendela, wajahnya tidak berubah. Tetap saja datar dan dingin.

Hingga mereka sampai didepan kontrakan nara, gadis itu segera turun tak lupa mengucapkan terimakasih pada Dewangga karena sudah mau mengantar nya pulang.

Dewangga menghela nafas panjang, melihat nara masuk dalam kost nya. Akhirnya dia pulang dan membiarkan nara menenangkan diri dulu.

"nara pa hiks...". Tangis Stefani semakin pecah melihat kepergian nara yang tidak menghiraukan nya sama sekali.

Padahal dia belum sembuh sepenuhnya tapi memaksa sang suami untuk mendatangi sekolah Nara dan mengajak nara untuk berbicara dari hati kehati untuk meminta maaf.

Nyatanya apa yang ada dalam pikiran nya tidak sesuai, nara bahkan dengan tega membuatnya mengejar mobil yang di tumpanginya.

"Sudah ma... Nanti kita coba lagi". Dirga mencoba menenangkan sang istri yang terus terisak dalam pelukannya.

Bima hanya diam menatap orang tuanya yang saat ini pelukan didepan sekolah mereka. Bahkan banyak siswa-siswi yang melihat kejadian tadi.

Ada yang merasa kasihan terhadap Stefani tapi ada juga tidak. Sebab isu nara di usir dan tidak dianggap anak oleh orang tua nya sendiri sudah menyebar kemana-mana.

Kepala sekolah dan beberapa guru juga melihat semua itu, apalagi diluar terdengar suara keributan membuat mereka segera berlari ingin melihat karena takutnya ada siswa-siswi nya yang berkelahi diarea sekolah.

Tapi nyatanya, yang dilihat mereka adalah sesuatu yang miris. Kepala sekolah Arhan sampai menggelengkan kepalanya. Padahal saat diruangan nya dulu dengan terang-terangan Dirga tidak mengakui putri kandung nya sendiri tapi lihatlah sekarang? Apa yang terjadi?.

"MAMA...PAPA...".

Refa, berlari kearah Dirga dan Stefani yang masih berpelukan. Atensi keduanya langsung berbalik melihat siapa yang memanggil mereka.

"Jangan mendekat....". Cegah Dirga pada Refa yang sudah dekat dekat mereka.

"Mama.. papa...". Mata Refa sudah berkaca-kaca.

Seakan tidak tahu malu, padahal Dirga sudah mengusirnya dan juga tidak mau menganggap gadis itu anak nya lagi. Apalagi Refa adalah anak Wati.

"JANGAN PERNAH MEMANGGIL KAMI MAMA DAN PAPA!!! KAMI BUKAN ORANG TUA MU!!!!". Stefani membentak karena merasa refa lah penyebab keluarga nya hancur.

"Kamu...". Tunjuknya pada Refa. "Saya sangat membenci melihat wajah sok polos mu itu arghhhh". Teriak Stefani.

Bima langsung menyerat Refa untuk menjauh dari orang tuanya. Apalagi melihat sang ibu sangat tidak menyukai kehadiran Refa.

"Kak Bima lepas... Hiks". Adu refa.

Gadis itu sengaja, agar semua orang bersimpati pada nya tapi nyatanya tidak ada seorang pun yang terlihat kasihan pada nya.

Semua orang memandangnya sinis, karena tahu gara-gara Refa lah keluarga yang selama ini begitu Cemara langsung hancur seketika.

Bima mendorong tubuh kecil sesha hingga jatuh ke tanah. Hingga gadis itu meringis pelan Merakan sakit akibat dorongan Bima yang terlalu kuat.

Alicia langsung berlari kearah refa yang tengah terjatuh. "Kak Bima Kenapa jahat sekali sama adik sendiri?".

Bima terkekeh pelan mendengar ucapan Alicia. "Jangan pernah mengatakan dia adik ku, aku tidak pernah memiliki adik sepertinya!!!". Tegas Bima menatap tajam pada Alicia.

Gadis itu langsung kicep dibuat nya, karena memang dia juga tahu jika saat ini Refa telah diusir dari rumah keluarga Mahendra.

"Pergi dari sini sebelum aku melukai wajah tidak bersalah mu itu cih!!".

"Tapi kak...". Refa seakan tidak menyerah sebab dia ingin kembali pada keluarga Mahendra karena disana dia bisa mendapat semuanya.

"Jangan pernah memanggil ku dengan KAKAK!!!". karena tidak tahan akhirnya hima pergi meninggalkan keduanya.

"Nggak nyangka yah nasib refa akan seperti itu". Willi membuka suara.

"Kenapa nggk nyangka ? Dia yang jahat kok". Balas Adrian. Kening Willi sampai menyatu.

Mereka hanya berdua, Marvel, Dikta dan juga Abian sudah pulang duluan.

"Maksud nya gimana sih?". ternyata sampai sekarang Willi tidak tahu permasalahan keluarga sahabat nya sendiri.

Adrian memang harus memiliki kesabaran layaknya malaikat jika berhadapan dengan Willi yang begitu lemot tapi suka bergosip.

Dengan pelan Adrian mulai menjelaskan kronologi nya, sampai Willi membungkam mulutnya sendiri.

"Astaga!!! Pantas saja Refa seorang sangat dibenci yah ? Tapi kok dia nggk malu sih ". William menutup mulutnya.

"Kan nggak tau malu". Jawab Adrian.

"Kasihan dong sama nara nya, tapi kasihan juga sih sama keluarga nara, sampai mamanya ngejar-ngejar gitu".

"Yah kalau aku jadi nara, pasti melakukan hal sama bahkan lebih parah. Enak aja setelah semua nya ketahuan eh malah mau minta maaf dengan mudah".

"Yah tapi kasihan".

"Serah kamu deh, aku mau pulang capek ngomong sama orang seperti mu". Adrian langsung naik dimotor nya dan melajukan meninggalkan Willi yang masih terdiam melihat kepergian Adrian.

Seakan tersadar, Willi mengumpati Adrian berbagai macam hewan.

"Sontoloyo... Anj*ng, b*b*, kukang, kucing, ular, raja ujar, sapi, kerbau, tikus, gajah, harimau, singa, badak bercula satu... Adrian b*natang.....". Umpat nya terus menerus karena begitu kesal.

bersambung....

Y.A.K.A.D Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang