45.Maafkan mama sayang

868 35 14
                                        

nara menghela nafas kasar, ketika sampai didepan kost nya ternyata sudah ada mobil yang terparkir.

Gadis itu tentu tahu siapa mobil itu, dengan wajah datar dia melangkah tanpa menghiraukan tiga orang yang sejak tadi menunggunya.

"Nara sayang...". Panggil Stefani melihat nara berjalan kearahnya.

"Ini mama sayang, mama datang kesini menjemput mu untuk pulang kerumah kita". Sambungnya lagi.

nara masih terdiam menatap Stefani, Dirga dan juga Bima yang menatapnya penuh harap. Apa yang mereka harapkan pada gadis pembawa masalah ? Gadis pembawa sial?.

"Jika anda hanya ingin mengatakan itu silahkan pergi dari sini. Kedatangan anda sangat mengganggu ketenangan saya".

Deg

Stefani mudur beberapa langkah, harapan yang sejak tadi menggebu-gebu seakan sirna sudah, apalagi mendengar putrinya begitu asing memanggilnya.

"I-ini mama sayang...".

"Mama?". Kening Nara mengerut di iringi kekeha pelan.

"Sepertinya memang anda salah menganggap saya anak, saya anak yatim piatu. Jadi anda salah besar jika mengira saya anak anda".

Lagi-lagi jantung Stefani berdetak tak menentu. Ibu anak empat itu memejamkan matanya, setetes air bening jatuh mengenai pipinya.

Dirga menghela nafas panjang, tentu dia sangat ikut andil dalam hal ini. gara-gara keegoisannya, anak nya bahkan tidak mengakui nya sebagai orang tua. Tapi bukan kah itu yang dikatakan Dirga? Jika mereka bukanlah orang tua nara?

"Pulanglah, mama mu sangat merindukan mu". Kali ini Dirga yang maju.

"Sekali lagi saya tekan kan pada anda tuan Pratama, jika saya tidak memiliki orang tua jadi silahkan kalian pergi dari sini karena kedatangan kalian sangat-sangat membuat ketenangan saya terganggu".

Dada Dirga begitu sakit mendengar ucapan nara, putri terakhir nya yang dinantikannya.

"Pa..". Bima seakan mengode Dirga untuk tidak terus membujuk Nara.

nara langsung pergi, Stefani ingin sekali memeluk putrinya tapi nara tidak menganggap nya.

Jika bisa berandai mungkin saja dia akan menyayangi putri kandungnya dibandingkan anak angkat nya yang ternyata telah sengaja menghancurkan keluarga nya.

"Pa-papa menyesal ma". Dirga terlihat rapuh kali ini, biasanya dialah yang selalu tegar dan selalu mendukung sang istri untuk kuat. tapi lihatlah, kepala keluarga mereka tengah merasakan penyesalan yang ter teramat dalam.

Stefani dan Bima hanya diam, Stefani hanya menatap lurus dimana kamar kost Nara berada. Mungkin setiap hari dia akan kesini untuk sekedar membawa makanan untuk putrinya.

Terpaksa mereka pulang tanpa membawa nara pulang, berharap lebih ? Itu tidak mungkin sebab hati nara betul-betul sudah mati untuk keluarganya yang telah membuangnya.

Sepanjang perjalanan, keluarga itu hanya terdiam saja, Stefani terus memikirkan kesalahannya sebagai ibu di masa lalu.

Tak terasa Stefani terisak, bagaimana perlakuan nya yang tidak membela sang putri ketika disakiti oleh suaminya, dia bahkan hanya memperdulikan anak angkat nya yang tidak mau dilihatnya tersakiti, tapi mengabaikan perasaan sang putri.

"Maafkan mama sayang". Bisikan-bisikan maaf terus keluar dari mulut nya.

Stefani meringkuk di pojokan mobil sambil terus melihat kearah luar, air matanya tak henti-hentinya keluar.

Saat sampai dirumah, terlihat davin termenung diruang tamu, entah apa yang dipikirkan oleh pria dewasa itu sampai tidak menyadari keluarganya ada disana.

"Bang...". Panggil Bima menyadarkan davin.

"Kalian dari mana?".

Bima menghela nafas, pemuda itu duduk sedangkan Dirga menuntun sang istri untuk ikut duduk, apalagi melihat istrinya yang terlihat kelelahan karena terus menangis.

"Kami dari tempat tinggal Nara, mama memohon agar nara pulang bersama kami, tapi nara sudah tidak menganggap kami keluarga nya". Jelas Bima, Davin hanya mampu menghela nafas panjang.

"Sepertinya kita sudah kehilangan adik kecil kita". Ucapan davin membuat Stefani menatap nya tajam.

"Tidak!!!! Dia tetap anak ku. Dia lahit dari Rahim ku. Dia hanya marah sementara, mama yakin putri mama pasti akan kembali ke pelukan mama". Tegas Stefani, padahal dia tadi hanya termenung tapi lihatlah matanya sekarang sudah melotot menatap anak keduanya.

"Mama yakin? Setelah apa yang kita lakukan pada nya, mama yakin Nara akan kembali kesini? Kembali kerumah yang penuh dengan kenangan buruk?". Tanya Davin membuat Stefani bungkam.

"Jika Nara adalah anak yang lemah, mungkin saja sudah lama dia bunuh diri karena merasa tertekan selama ini. Kasih sayang yang seharunya untuk dia tapi tergantikan oleh..."

davin tidak mampu meneruskan ucapannya, dadanya sakit ketika mengingat kembali selalu mengabaikan adik nya.

"Waktu itu, ketika Nara masuk rumah sakit...aku pernah mendatanginya, sebagai Abang, tentu aku ingin tahu bagaimana keadaan nya. Kalian tau apa yang dia katakan padaku?". Ketiga nya menggeleng.

davin menyugar rambutnya kasar. "Dia bilang kalau tidak akan lagi mencari perhatian dari keluarga kita, lihatlah setelah keluar dari rumah sakit dia betul-betul membuktikan ucapannya".

Deg

Dirga dan Stefani masih ingat, saat itu Nara mendorong refa dari lantai dua tapi malah nara yang jatuh, bukannya menolong Nara yang sudah berlumuran darah mereka malah mengkhawatirkan refa yang tidak kenapa-kenapa. Refa hanya menangis saja, tapi nara sudah tergelatak tak sadarkan diri dengan darah di kepalanya.

Hanya BI Darni dan supir nya yang membawa nara ke rumah sakit. bahkan untuk menjenguk putrinya, mereka tak lakukan karena menyalahkan keyra jika itu salah nya sendiri yang ingin mencelakai sesha, mereka seakan acuh tak acuh mengenai keselamatan keyra.

"Apa kalian pernah menemani keyra dirumah sakit saat itu? Ah tidak maksud nya.. apa kalian pernah menjenguk nya untuk sekedar menanyakan keadaan nya ?". Lagi-lagi mereka terdiam, karena itu tidak pernah dilakukanya.

Andre menatap ketiganya yang hanya terdiam, terutama orang tuanya. Dia sangat merasa kecewa.

"Tadi aku kerumah mbak Ajeng, agar mbak Ajeng mau membujuk keyra untuk pulang kesini". Andita langsung menatap Andre penuh harap.

"Apa yang dibilang mbak mu?". Tanya Stefani dengan cepat.

"Dia melarang kita untuk mengganggu keyra". Pupus sudah harapan Andita, dia juga berharap Jika anak pertama nya itu mau membujuk keyra tapi sepertinya mustahil mengingat bagaimana hubungan mereka yang sangat buruk.

"Aku kekamar dulu". davin langsung pergi meninggalkan ketiganya.

Stefani melihat kearah sang suami. "Apa perlu kita kerumah zora pa?".

"Apa dia mau ? Papa merasa bersalah dengannya juga. Apalagi malam itu, papa sampai menamparnya".

"Kita coba saja pa, zora sudah dewasa, mama juga ingin dekat dengan cucu mama".

Dirga mengangguk saja, tapi dia tidak yakin jika Zora akan membantunya. Apalagi malam itu dia sampai menyakiti anak pertamanya.

Mereka masuk ke kamar masing-masing, sudah jam satu malam tapi Dirga belum tidur sama sekali.

Sejak tadi dia hanya duduk diam sambil menatap lurus kedepan. Kilasan tentang ketika dia melukai fisik putrinya masih terekam jelas diotak nya.

Dirga mengeluarkan air matanya, baru kali ini laki-laki yang memiliki empat anak itu meneteskan air matanya.

"Maaf... Maafkan papa sayang..".

Bersambung...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 10, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Y.A.K.A.D Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang