Setelah kejadian dimana Refa telah ketahuan, keluarga Mahendra seperti tidak memiliki semangat untuk hidup.
Stefani terus menangis sepanjang hari karena memikirkan kebodohan nya selama ini, begitupun Dirga termenung karena penyesalan nya.
"Kita cari nara pa..". Ujar Stefani dengan lemah.
"Tapi mama sedang tidak enak badan, papa nggak mau terjadi apa-apa dengan mama. Biar papa saja yang mencarinya". Stefani menggelengkan kepala nya, dia juga ingin ikut walau keadaan nya tidak baik-baik saja.
"Tidak, mama akan ikut. Sakit mama belum Seberapa dengan sakit yang nara rasakan selama ini hiks...". Dirga termenung, memang sejak kecil kecil sudah di abaikan oleh mereka.
"Mama nggak sanggup pa... Mama... Mama mau keyra pulang kesini". Stefani tak sadarkan diri setelah mengatakan itu.
Dirga terkejut, langsung membopong sang istri menuju mobil untuk ke rumah sakit. Para pembantu, terutama bi Darni yang melihat majikannya seperti itu merasa kasihan, tapi diinganya lagi mengenai penderitaan nona nya tentu membuat Bu Darni menyayangkan hal itu.
"Kasihan yah, nyonya Stefani". Kata bi Tina melihat majikannya.
"Alah... Kok kau kasihan sih tin, mereka itu jahat kok". Balas bi Ika yang paling muda diantara bi Darni dan bi tina.
"Husss.. nggak boleh ngomong gitu Ika, walau mereka jahat tapi mereka adalah majikan kita. Kita tidak usah ikut campur". Tegur BI Darni, dia tidak mau teman-teman pembantu nya mendapat masalah.
"Yah maaf bi Darni, kan aku gedeg sama mereka. Masa anak sendiri di usir sih eh malah ana iblis di pelihara". Sinis bi Ika.
"Sudah-sudah ayo kita ke belakang lagi, takutnya dengan Bima mendengarnya". Bi Darni berjalan duluan diikuti oleh Bi ina dan Indah yang bersungut-sungut.
Sedangkan kini Dirga tengah menunggu sang istri yang di periksa didalam ruangan pasien.
Laki-laki anak empat itu, seperti setrika kesana kemari. Dua anak nya yang di hubungi tak ada yang mengangkat nya. Entah kemana mereka saat ini, terutama Bima, setelah kejadian itu. Bima pergi dari rumah untuk menenangkan dirinya.
Tak lama dokter keluar, Dirga segera mendekat. " Bagaimana kondisi istri saya dok?". Tanya nya panik.
"Istri anda tidak apa-apa. Tidak ada hal serius yang perlu di khawatirkan. Pasien hanya kelelahan dan banyak pikiran". Tukas dokter tersebut.
"Apa saya boleh masuk dok".
"Tentu, anda bisamasuk sekarang". Dirga mengangguk kemudian sang dokter permisi untuk melihat pasien lainnya.
"Mama". Panggil Dirga memegang lengan sang istri.
Stefani tidak meresponnya, tatapan nya hanya mengarah keluar jendela. Ingatan-i gatan ya kembali saat terakhir kali dia memeluk putri bungsu nya.
Tak terasa air matanya kini telah jatuh. "Mama betul-betul bodoh pa. Mama... Mama gagal menjadi seorang ibu".
Dirgaeluk istrinya, sebenarnya dia juga ingin menangis tapi dia harus kuat sebab istrinya sedang drop.
Dibalik penyesalan Stefani, tentu Dirga yang begitu sangat besar menyesal nya. Dia telah menyakiti putrinya bahkan mungkin kata maaf pun sudah tidak ada untuk dari nara.
"Mama... Tidak bisa jadi ibu yang baik pa... Anak-anak kita menjauhi kita pa...". Stefani terus menangis dan Dirga hanya mampu memeluk istrinya.
"Ini bukan salah mama... Ini salah papa". Stefani menggeleng dalam pelukan sang suami.
"Mama nggak membela nara saat dia di sakiti pa... Mama nggak menahan nya saat dia pergi dari rumah.Mama memang sangat bodoh".
"Ponsel mu terus bunyi tuh.." kata Willi melihat kearah Bima yang saat ini termenung menatap lurus kedepan.
"Biarkan saja". Balas nya tanpa melihat kearah Willi.
"Dia kenapa sih? Datang kemarkas hanya untuk melamun. Nggak mau cerita lagi". Kesal William Sebab ketika dia bertanya maka Bima akan mengabaikannya dengan tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Willi.
"Jangan mengganggunya dulu, dia sedang menenangkan diri". Ujar Dikta yang memegang gitar sambil memetik nya.
"CK menyebalkan"
Willi melihat kearah Adrian, tapi Adrian hanya mengedipkan bahu. Sebab dia juga tidak tahu ada apa dengan Bima.
Saat ini mereka tengah erada dimarkas nya, tapi persnilnya tidak lengkap. Hanya ada Dikta Bima, Adrian dan Willi sedangkan Marvel dan Abian entah kemana mereka.
"Aku sangat bodoh". Ketiga nya saling pandang ketika mendengar Bima berbicara dan mengatakan dirinya bodoh.
Setelah mengatakan itu, Bima tertawa seperti orang gila. Entah apa yang lucu tapi Willi sampai bergidik ngeri
"Dia kerasukan?". Bisik Willi pada Adrian.
Bugh
"Aduh kok mukul sih". Adu Willi.
"Makanya bicara jangan sembarangan. Memangnya markas kita berhantu apa". Kesal Adrian.
"Yah kan siapa tahu berhantu. Kamu ngga lihat Bima
tiba-tiba ketawa nggak jelas seperti itu". Adrian hanya mempunyai menggelengkan kepalanya.
"Aku bodoh membela ular demi adik kandung ku.Hahaha". Ucap Bima lagi.Dikta mengerti apa maksud dari apa yang di ucapkan oleh Bima.
"Jadi apa yang sekarang ingin kamu lakukan? Meminta maaf padanya?". Tanya Dikta.
Bima menatap dikta yang juga saat ini menatapnya. " Apa dia mau memaafkan ku ?".
"Aku rasa tidak, setelah apa yang kalian lakukan pada nya". Jawab Dikta.
"Memang seharusnya seperti itu tapi...". Bima terdiam sejenak narik nafasnya dalam-dalam.
"Aku akan terus berusaha sampai di memaafkan ku. Walau aku harus bersujud di kaki nya setiap hari agar bisa mendapat maaf nya". Tekad Bima.
"Berusahalah".
Keduanya kembali terdiam, sedangkan Willi dibuat terbengong mendengar ucapan keduanya. Karena otaknya yang tidak mempunyai kearah sana makanya dia hanya planga-plongo.
"Kalian bicara apaan sih. Kalau bicara yang jelas dong. Jangan sok misterius begini. Kita ada empat orang loh disini. Aku sama Adrian nggak ngerti maksud kalian". Protes Willi.
"Eh malah bawa-bawa aku lagi.. aku ngerti maksud mereka. Kamu nya saja yang nggak sampai". Adrian menimpali apa yang di ucapkan oleh Willi.
William membulatkan mulut nya tak percaya, jadi hanya dirinya disini yang tidak mengerti.
"Mereka bahas apaan sih?" Willi mulai berbisik sambil menatap Bima dan juga Dikta.
"Apaan sih bisik-bisik, telingaku geli tau nggak".
"Yah makanya kasih tau dong".
Adrian sampai menghela nafas nya panjang melihat temanya yang memang sangat susah untuk mengerti.
"Ini masalah keyra dan sesha". Willi ber oh ria saja.
"Sudah ngerti kan?".
"Nggak".
Adrian menepuk jidatnya, sungguh temanya ini sangat membuatnya kesal. Ingin rasanya dia memukul wajah nya tapi kasihan juga.
Adrian langsung beranjak dari dekat Willi. Dia mendekat kearah Dikta. Sebab sudah tak tahan dengan kelakuan temannya itu.
Mungkin Willi dari planet lain. Pikir nya.
"Ngapain sih pergi, sini dulu". Panggil Willi ikut mendekat kearah Dikta.
"Diamlah!!!. Jagan berdebat lagi". Dikta memasang wajah datar nya membuat William langsung merapatkan mulutnya.
Akhirnya Willi terdiam, sebab jika sudah Dikta yang berbicara maka sudah tidak ada harapan lagi.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
Ficção AdolescenteIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
