Bab 25. melamar pekerjaan & kecemburuan dewangga

656 34 7
                                        

"aku sudah dapat pekerjaan yang cocok untuk mu". Dewangga berbicara setelah Nara membuka pintu apartemen nya.

"Duduk dulu kek, ini langsung ke intinya". Kata Nara memutar bola matanya malas. bagaimana tidak, pemuda itu sangat pagi-pagi sekali berkunjung ke apartemen tempat nya tinggal, walaupun itu adalah apartemen milik Dewangga tapi Nara juga butuh tidur, apalagi seorang pada hari Minggu. Tentu dia akan menghabiskan harinya dengan berleha-leha.

"Cuci muka mu dulu sana". Nara berjalan gontai menuju ke kamarnya, sekalian dia juga ingin mandi.

Dewangga terkekeh melihat tingkah Nara yang begitu menggemaskan baginya." Menggemaskan". Gumamnya dengan sedikit memperlihatkan senyum tampan nya.

Sedangkan didalam kamar, Nara duduk di pinggir tempat tidur, handuk sudah bertengger di pundak nya, Helaan nafas nafas berkali-kali keluar dari mulutnya.

"Hadeh kenapa sih harus ada kata mandi? Mandi nggak yah? Kok malas sih, ini kan hari Minggu. Maunya jangan mandi sih atau nanti sore saja mandi nya". Gadis itu terus berperan dengan dunia permandian nya.

"Hadeh kok malas yah". Walau berkata seperti itu tapi Nara tetap berjalan menuju ke kamar mandi.

Hampir satu jam Nara berada didalam kamar mandi, setelah keluar, gadis itu terlihat begitu segar. Dengan baju mandi dan juga handuk yang melilit dikepala nya.

Berjalan sambil bersenandung riang menuju lemari tempat pakaian nya berada. Setelah memakai baju dan juga merias sedikit wajahnya, Nara segera keluar untuk menemui Dewangga.

Terlihat Dewangga yang berbaring di sofa dengan mata terpejam.

"Apa aku lama yah? Perasaan baru beberapa menit aj deh mandinya kok dia sampai tertidur sih". Gumam Nara mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk.

"Kamu mandi sampai satu jam". Suara itu mengagetkan Nara.

"Enak aja, aku mandinya sebentar tau,. kamu nya aja yang nggak sabaran. Dasar laki-laki". Cibir Nara, mulutnya maju kedepan sambil bersedekah dada menatap Dewangga.

Dewangga yang ditatap hanya mampu menghela nafas panjang. "Begitulah perempuan selalu benar". Gumamnya kecil tapi masih bisa didengar oleh Nara, gadis itu mendelik tak suka.

"Sudah kan? Ayo kita kesana, tempat kamu akan bekerja". Ajak Dewangga yang langsung diangguki oleh nara.

Saat ini keduanya sudah berada dalam mobil, dewangga hanya fokus menyetir. Karena hari Minggu jadi rasanya jalanan begitu legang. Apalagi masih pagi-pagi tentu para pekerja lebih tinggal dirumahnya dari pada keluar.

"Sebenarnya aku mau kerja apa? Jangan yang aneh-aneh yah, aku maunya kerja yang halal". Nara menatap Dewangga.

"Kamu mau kerja seperti itu?". Tatapan Dewangga tanpa berpaling dari depan, pemuda itu tetap fokus menyetir tanpa melihat kearah Nara yang sekarang melototkan matanya.

"Ya nggaklah, aku nggak mau yah jadi seperti itu. Ih amit-amit deh". Nara mengetuk-ngetuk kaca mobil kemudian mengetuk kepalanya sebanyak tiga kali.

Dewangga hanya melirik sekilas pada Nara, kemudian menggeleng kepalanya melihat tingkah gadis yang kini sedang duduk di sampingnya.

Senyum kecil terbit pada bibir Dewangga yang melihat tingkah diluar nalar Nara. Pemuda itu bersyukur sebab Nara tidak bersedih lagi dan mau tersenyum kembali.

Mobil yang dikendarai Dewangga akhirnya berhenti pada sebuah kafe yang terlihat sedikit ramai, hanya beberapa pemuda dan pemudi yang nongkrong di kafe tersebut. Nara membaca nama kafe itu, 'Diploma kafe'. Gadis itu tersadar ketika Dewangga mengajak nya turun.

Y.A.K.A.D Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang