26 gtw

518 36 7
                                        

Fani termenung mengingat kembali percakapan nya dengan sesha malam itu, putri kesayangannya. Bahkan ketika sang suami memanggilnya untuk membantu memasangkan dasi, Fani tak mendengarnya.

"Sayang...". Dirga menepuk pundak sang istri.

Fani terkejut dengan tepukan dipundaknya, mendongak menatap sang suami yang kini juga menatapnya heran.

"Apa yang memenuhi pikiran mama ?". Tanya Dirga duduk disamping sang istri.

Helaan nafas keluar dari mulut perempuan yang kini sudah tidak muda lagi tapi masih terlihat cantik.

"Tidak ada pa, aku hanya memikirkan Bima langsung mengalihkan tatapan nya. "Mama sakit?".

"Tidak, mama hanya banyak pikiran.Kalian tidak perlu khawatir yah, mama oke kok". Jawab Fani dengan senyum lembutnya.

"Ayo kita sarapan, nanti kalian terlambat loh kekantor sama sekolah nya". Sambungnya lagi, sesekali fani menatap refa tapi refa tidak sadar akan hal itu karena terus mengoceh tidak jelas.

"Kami berangkat dulu yah ma". Ujar Bima dan Refa serempak, keduanya mencium tangan Fani kemudian pergi keluar rumah.

"Paa juga berangkat sayang, mama jangan banyak pikiran yah. Ingat jaga kesehatan. Papa akan sedih jika mama sakit ". Sendu Dirga menatap istrinya.

"Papa tenang saja, mama selalu jaga di kesehatan kok. Papa juga Jangan banyak pikiran yah. Semangat papa". Fani menaikkan tangannya membentuk seperti kepalan untuk menyemangati sang suami.

Dirga langsung tersenyum dan mencium kening sang istri, setelah itu keduanya berjalan beriringan sampai didepan pintu, Dirga langsung masuk dalam mobilnya yang didalamnya sudah ada Bima dan Refa menunggu, Fani melambaikan tangannya pada sang suami dan juga anak-anak nya.

Lagi-lagi helaan nafas fani keluarkan, entah kenapa perasaan nya tiba-tiba tidak enak mengenai putri angkatnya itu.

"Apa jalan ku sudah benar tuhan?".

Bisiknya memegang dadanya, teringat oleh putri kandung nya sendiri yang telah diusirnya.

Tak terasa air matanya telah jatuh ditepuknya dadanya yang mulai terasa sesak. Karena tak sanggup menopang tubuhnya, fani langsung berpegangan pada ganggang pintu.

Mencoba menetralkan rasa sesak itu, dia berjalan pelan menuju ruang tamu dan duduk diatas sofa, tapi apa daya kekuatan nya sudah tak sekuat waktu muda, akhirnya fani pingsan dengan berbaring diatas sofa.

Suasana sekolah mulai terlihat ramai, banyak siswa/i berlalu lalang, ada juga yang masih nongkrong diparkiran, siapa lagi jika bukan geng Marvel yang tengah menunggu tunangan nya yang baru dan juga Bima.

Saat tengah menunggu ternyata motor dewangga memasuki pekarangan sekolah, tak lupa ada keyra dibelakangnya.

"Wow... Apa mereka pacaran?". Tanya Abian yang begitu penasaran.

"Mau tau? Atau mu tau banget?".

Anuan langsung menggeplak kepala Willi yang begitu cerewet.

"Aduh... S*alan nih manusia main pukul aja".

Bugh

Willi membalas pukulan Abian, seakan tak terima Abian langsung membalas kembali. Lahirnya keduanya baku pukul kepala. Teman yang lainnya hanya menyaksikan sebab Abian dan Willi memang selalu seperti itu.

Saat Nara turun dari motor, mobil Dirga juga masuk dan langsung terparkir diparkiran sekolah mereka.

"Tuh mereka sudah datang". Tunjuk adrian pada mobil Dirga yang sudah berhenti.

Dua orang yang tadi saling memeluk itu langsung berhenti. Pandangan mereka tertuju pada mobil Dirga.

"Papa mu, nganter ana nya". Ujar Dewangga membuat Nara memalingkan wajahnya, tatapan nya begitu datar mengarah ke mobil dimana da Dirga, Refa dan juga Bima didalam nya.

"Biarin aja, itu nggak penting. Mereka bukan keluarga ku lagi". Balas Nara.

Sedangkan didalam mobil Refa dan Bima segera turun, begitu pun juga Dirga yang ikut turun.

"Kalian sekolahnya baik-baik yah sayang, yang rajin dan buat papa bangga". Nasehat Dirga, di tida saudara jika saat ini keyra menatapnya.

"Siap papa, papa tenang aja aku akan selalu membuat papa bangga". Refa langsung memeluk Dirga begitupun Dirga yang membalas pelukan Refa.

Semua itu tak luput dari penglihatan keyra, walau mulut nya mengatakan jika tidak menghiraukan lagi keluarganya tapi dalam hatinya menjerit, menangis, dan begitu sakit sekaligus. Apalagi melihat papa kandungnya sendiri yang lebih menyayangi anak angkatnya ketimbang dirinya yang jelas-jelas anak kandungnya sendiri.

Dewangga menutup mata Nara dengan tangan nya yang besar, melarang melihat adegan yang dapat membuat keyra sakit hati.

"Kita ke kelas". Dewangga langsung menarik tangan nara, gadis itu hanya bisa mengikuti langkah Dewangga sambil menatap kosong kedepan.

"Lah mereka kenapa dah". Tanya Willi melihat kepergian dewangga dan juga nara.

"Ngga liat tuh?". Tunjuk adrian pada Dirga yang masih memeluk Refa.

"Lihat lah, jelas-jelas nyata kok. Gila nih orang". Adrian menghela nafas panjang menghadapi Willi yang begitu loading mencerna sesuatu.

"Jika kamu jadi nara, terus lihat adegan papa nya peluk anak angkat, gimana perasaan mu? Apalagi kita tau kan jika keluarga nara membencinya bahkan sampai keyra di usir dari rumahnya. Ngerti nggak?". Lagi-lagi Willi menggelengkan kepalanya pelan.

"Kamu mau dibuang oleh keluarga sendiri? demi anak angkat?". Padahal Adrian sudah menjelaskan secara rinci tapi Willi belum mengerti juga.

"Diamlah!!! Itu salah Nara sendiri yang selalu menyakiti refa". Tegur Marvel tegas karenatakut suka ketika kekasihnya di bicarakan yang tidak enak.

"Loh jika aku jadi nara yah tentu begitu juga dong, siapa sih yang mau direbut kasih sayang orang tuanya dan juga Abang nya? Nggak ada kan?". Marvel menatap tajam kearah Adrian yang masih mengoceh.

"Adrian, kita cabut. Mereka pengikut gadis itu". Adrian beranjak ketika Dikta mengajaknya.

Marvel mengepalkan tangan nya kuat, dia tak terima akan ucapan Dikta. Marvel tak tahu kenapa Dikta tidak menyukai kekasihnya padahal Refa adalah gadis yang baik dan lemah lembut.

Saat pertama Marvel membawa dan mengenalkan Refa ke markasnya Dikta langsung marah dan menolak kedatangan refa. Sebab Marvel membiarkan Refa keluar masuk dalam markas nya itu, Dikta sangat tidak suka jika ada seorang gadis yang sok baik.

"Dia kenapa sih? Nggak suka sama Refa?". Tanya Abian pada Marvel.

Marvel tidak menjawab tapi terus melihat kearah Dikta dan juga Adrian yang sudah tak terlihat lagi.

's*alan Dikta, maunya apa sih dia itu. Aku tidak akan membiarkan nya bertindak sesuka hati seperti ini terus pada kekasih ku" batin Marvel

Bersambung....

Y.A.K.A.D Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang