44. kesal, sedih,marah

619 31 3
                                        

Kali ini nara berangkat ke sekolah hanya seorang diri, biasanya ada Dewangga yang terus menjemputnya tetapi kali ini pemuda itu entah kemana, tidak ada kabar darinya.

Saat sampai disekolah, terlihat Bima seperti sedang melihatnya. nara berjalan tanpa menghiraukan tatapan Bima.

Kali ini Bima hanya sendirian diparkiran, sebab ini masih pagi, Nara sengaja datang pagi-pagi karena ingin sarapan terlebih dahulu dikantin.

Berharap tidak ada drama pagi ini, nyatanya Bima menghampirinya dan langsung menghadang jalan nya.

"Minggir!!!". Tegas nara menatap tajam Bima.

"Aku mau...".

"Tidak, minggir atau gue tendang Lo". Seakan meremehkan, Nara benar-benar menendang Bima karena pemuda itu tidak mau minggir.

Setiap kali nara ke kanan dan kekiri, Bima selalu mengikutinya. Makanya nara menendang tulang kering bima membuat pemuda itu meringis kesakitan mengusap tulang keringnya.

"Menyusahkan saja". Tanpa menoleh Nara langsung
meninggalkan Bima yang hanya dapat meringis karena tendangan keyra sangatlah kuat.

"Dari mana dia belajar bela diri sampai tendangan nya begitu kuat. Kakiku sakit sekali arghhhhh". Teriak kecil Bima merasa sakit.

Nara yang mendengar itu hanya tersenyum mengejek pada Bima, dia segera berjalan ke kantin sebab cacing dalam perutnya mulai meronta-ronta untuk diberi makan.

"Sabar anak-anak, kita akan makan segera".

Tak lama makanan yang dipesan nya telah tersedia di hadapannya, karena sudah sangat lapar akhirnya nara langsung menyantap makanan didepannya itu sampai tak tersisa sedikit pun.

Saat hendak membayar ternyata makanan nya sudah dibayarkan.

"Siapa yang membayar nya Bu?". Tanya Nara pada ibu kantin yang hanya diam, sebab orang yang membayarkan makanan nya tidak mau diketahui.

"Ibu nggak mau kasih tau aku?". Lagi-lagi ibu kantin itu hanya diam.

Mengeluarkan uang dari saku bajunya, nara langsung meletakkan uang itu.

"Lain kali ibu tidak perlu mengambil uang hanya untuk membayar makanan ku, karena aku bisa membayarnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain aku masih bisa hidup. Katakan pada nya, tidak perlu mengasihani ku, karena aku tidak pernah butuh belas kasihnya".

Nara langsung pergi, dia begitu kesal pada ibu kantin yang ditanya hanyabdia saja. Sebenarnya keyra sudah tahu orangnya tapi dia hanya ingin mendengar dari ibu kantin tadi.

Masuk kekelasnya, sambil menghela nafas panjang kemudian menidurkan kepalanya diatas meja dan mulai memejamkan matanya.

Tak terasa suara bel masuk berbunyi, Nara langsung membangunkan kepalanya. Pertama dilihatnya adalah bagian belakang ternyata Dewangga tidak ada di mejanya.

"Kemana dia?". Tanya nya pada diri sendiri.

Nara kembali melihat meja disampingnya, ternyata Indira belum juga masuk hari ini. Indira juga tidak ada kabar. Entah bagaimana gadis itu sekarang.

Geng Marvel akhirnya masuk dalam kelas, kali ini sudah ada Abian diantar mereka. Marvel melihat kearah Nara yang terlihat memikirkan sesuatu.

Tatapan Marvel tertuju pada meja Dewangga yang terlihat kosong, senyum tersungging pada bibirnya.

Tak lama guru yang mengajar akhirnya masuk juga, saat pengabsenan nama, Nara merasa jika nama Indira sudah tidak disebutkan lagi.

Dengan segera nara mengangkat tangannya.

"Ya Nara? Ada apa?". Tanya guru itu menatap Nara, begitupun para siswa-siswi lainnya menatap kearah nya.

"Maaf Bu, kok nama Indira nggak disebut yah?".

"Oh siswi bernama Indira susah pindah".

"Pindah?".

"Iya, kemarin setelah pulang sekolah, dia datang bersama kedua orang tuanya untuk mengambil surat pindah".

Nara terdiam, kenapa dia tidak tahu mengenai kepindahan sahabatnya. Apa memang Indira susah tidak menganggapnya sahabat lagi?.

"Ada yang masih ingin ditanyakan?". Tanya guru itu karena melihat nara terdiam saja.

"Tidak ada Bu terimakasih".

Setelahnya guru tersebut memulai pelajaran nya, Nara ingin sekali menghubungi Indira sekarang ini, tapi masih masuk jam pelajaran.

Nara mengikuti pelajaran dengan wajah sedikit murung, sebenarnya ada apa dengan Indira sampai dia harus pindah sekolah, apa Indira tidak menganggap nya sahabat lagi? Dia pindah tanpa memberitahukan nya sama sekali.

Perubahan ekspresi Nara terlihat oleh Marvel, pemuda itu terus melihat Nara dari depan. Sebuah senyum kecil muncul pada bibirnya.

"Gila nih Marvel". Kata Willi melihat senyum sahabat nya.

Willi menoleh kearah Adrian dan juga Abian, tapi keduanya hanya mengedipkan bahu membuat Willi menghela nafas nya.

'aku akan pastikan kamu akan jadi milik ku lagi Nara'. Batin Marvel tak henti menatap nara.

Tak lama suara bel pergantian pelajaran terdengar, guru yang mengajar tadi mulai membereskan bukunya kemudian pamit pada siswa-siswi nya dan keluar dari ruangan itu.

"Gays, mata pelajaran matematika nggak masuk hari ini". Juga ketua kelas menyelesaikan ucapan nya mereka sudah berteriak senang.

"Tapi... Ada tapi nya jangan senang dulu". Ketua kelas itu langsung memotong kesorakan para siswa-siswi yang terlihat senang.

"Apan sih, pake tapi segala lagi". Protes Willi, sebab dia sangat tidak suka pada pelajaran matematika, membuat kepalanya sakit

Apalagi jika harus di tunjuk naik untuk mengejarkan soal dipapan tulis, dia seakan berpura-pura menulis dibukunya agar tidak ditunjuk pada guru nya.

"Yah harus ada tapi nya dong, kita harus mengerjakan soal di halaman dua puluh dua, jangan lupa dikerjakan nya sekarang, dan dikumpulnya ketika jam pelajaran selesai. Mengerti?". Tak ada yang menjawab semuanya terlihat nampak lesu mendengar itu.

"Astaga... Walau nggak masuk tapi tetap nyusahin tuh guru". Lagi-lagi Willi protes.

Nara menatap Willi membuat Willi terkejut. "Weeee.... Nara menatap ku weeee". Heboh Willi. Dia terlihat senang ketika Nara melihat kearah nya.

"Apaan sih lebay banget, dia bukan artis". Ujarnya Abian menatap Willi sinis.

Tatapan nya kembali pada Nara, tatapan sinis dilayangkan nya. Nara tersenyum miring melihat Abian yang membencinya.

"Memang tidak melesat dugaan ku, haaaaa sangat menjijikkan".

Mata Nara dan juga mata Abian bertemu, seakan memiliki laser, Abian mendelik menatap Nara, entah kenapa pemuda itu membenci Nara bahkan hari ini pertama kali dia masuk sekolah memperlihatkan ketidak sukaan nya.

Karena terus dilihat, Abian memutuskan tatapan itu. Abian merasa jika ada yang lain dari tatapan Nara, tatapan itu menekan nya.

"Cepat kerjain, jangan banyak drama deh". Kesal ketua kelas mereka, sebab semua siswa-siswi mengeluh dengan tegas yang diberikannya.

Akhirnya mau tidak mau mereka mengerjakan nya, sampai bel istirahat akhirnya tugas mereka dikumpul.

nara berjalan menuju k toilet, telinganya menahan ketika mendengar suara aneh dari toilet yang bertuliskan' rusak'.

Ponsel di keluarkan dari saku bajunya, tak lupa kamera sudah di on kan. Tidak ada orang disana selain dirinya dan orang didalam toilet itu sebab toilet tersebut rusak dan berada dipojokan.

Nara mengira jika toilet itu sudah di perbaiki sebab sudah lama sudah rusak, jadi dia hanya iseng untuk ke toilet itu tapi ternyata dia mendengar suara aneh.

Ingin rasanya Nara muntah mendengar suara itu, perasaan nya tak menentu. Perutnya tiba-tiba ingin mengeluarkan isi nya.

Tau semuanya ditahan dan tetap merekam semuanya, tak sampai selesai karena bisa-bisa dia muntah. Setelah merasa cukup Nara langsung pergi dari sana.

Bersambung...

Y.A.K.A.D Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang