"sudah siap?". Tanya seorang pemuda dengan wajah lembutnya menendang gadis yang kini tengah menunggu kedatangannya di apartemen.
"Um... Sudah". Jawabnya.
"Tidak jadi pindah sekolah? Kalau kamu masih berubah pikiran, aku akan mengurus semuanya. Kita akan pindah sama-sama". Tanya pemuda itu kembali memastikan.
"Tidak, aku tidak akan pernah pindah sekolah".
"Baiklah.. oh iya nanti sore Miss Clarence akan kembali melatih mu". Pemuda itu memperingati.
"Iya". Jawab gadis itu seperlunya, sang pemuda yang melihat nya tersenyum kecil.
Inilah yang dia harapkan setelah melatih gadisnya selama satu Minggu dan lihatlah perubahannya begitu drastis bahkan jika orang yang mengenalnya melihat nya mungkin saja mengira jika gadis itu bukanlah gadis yang mereka kenal. Apalagi karakter nya sangat jauh berbeda dari yang dulu.
Keduanya langsung berangkat ke sekolah dengan menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan sama sekali. Sang gadis hanya terpaku pada jalanan dan juga gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Kita sudah sampai". Ucap pemuda itu menyadarkan gadisnya.
Dilihat seseklilung sekolah, ternyata tidak ada yang berubah setelah satu Minggu dia tidak hadir.
Senyum miring terbit pada bibir gadis itu, apalagi melihat segerombolan manusia yang sangat dibencinya. Tatapannya begitu tajam dibalik kaca mobil hitam menatap geng yang tengah asik mengobrol diparkiran.
Apalagi siswa maupun siswi dan juga geng itu melihat kearah mobil yang saat ini ditumpanginya.
"Sudah siap menghadapi mereka?".
"Um tentu". Lagi-lagi pemuda itu tersenyum kecil.
Saat keduanya keluar, semua mata tertuju padanya. Ada yang terkejut ada juga yang mulai mencubir nya.
"Gila... Itu nara?". Tanya Willi menatap keyra yang saat ini menatap lurus kedepan, tidak lupa tatapan tajam nya tak lepas.
Marvel menatap Nara yang saat ini tengah berdiri bersama Dewangga, bahkan gadis itu berangkat dengan Dewangga?.
Apa mereka punya hubungan ? Pikirnya dalam hati.
"Mereka pacaran?". Tanya Abian membuat Marvel mengepalkan tangan nya kuat.
Willi yang melihat Marvel memasang wajah cemburu langsung tersenyum mengejek. Seharusnya pemuda itutidak marah kan? Walau status mereka masih tunangan tapi Marvel tidak menganggap Nara bahkan tega berpacaran dengan refa.
"Kenapa vel? Cemburu?". Tanya Willi terkekeh kecil.
Refa langsung melihat kearah sang kekasih, benar, memang saat ini Marvel Tengah cemburu. Lihatlah pemuda itu masih memasang wajah cemburu nya.
"Ini gila sih menurut ku, setelah satu Minggu keyra tidak ke sekolah tiba-tiba dia menggandeng Dewangga yang terkenal pendiam tapi tatapan nya begitu menusuk". Ucap Abian masih menatap kearah ekyara dan juga Dewangga.
refa mengepalkan tangannya, dia tidak suka jika Nara ada yang mendekati. Apalagi itu adalah Dewangga yang juga terkenal akan ketampanan nya.
Bima hanya diam menatap adik yang paling dibenci nya. Ah bukan, sekarang nara bukanlah adik nya karena nara sudah terusir dari keluarga Mahendra bahkan nama marganya sudah dilepas oleh gadis itu.
Saat semua siswa/siswi tengah menatapnya, Nara dan Dewangga berjalan masuk ke sekolah. Bisik-bisik mulai terdengar diantara mereka tapi keyra maupun Dewangga tidak memperdulikan hal itu. Menurut keduanya, mereka hanyalah manusia yang penuh dengan keirian.
Tatapan nara hanya lurus kedepan, saat melewati geng Marvel, gadis itu tidak menyapanya. Menoleh pun nara tak Sudi.
Akhirnya keduanya sampai ke kelas dan duduk pada bangku masing-masing. Seperti biasa Dewangga akan tertidur dan akan bangun ketika ada guru yang mula mengajar.
Nara menatap Dewangga langsung menggeleng kepalanya pelan, Entah apa yang dilakukan oleh pemuda itu setiap malam karena ketika di sekolah dia akan tertidur seperti ini, Pikir Nara.
"NARAAA.....!!!". Nara langsung menutup telinganya ketika suara cempreng memanggil namanya begitu keras, siapa lagi jika buka Indira sang sahabat.
Indira langsung melempar tas nya kesembatang arah dan menghampiri sahabat nya yang baru terlihat setelah satu Minggu lamanya.
"Huhu.. kamu kemana saja sih, aku sangat cemas tau nggak hiks..". Tangis Indira sambil mengelap ingusya yang mulai bertebaran dimana-mana.
"Ih apaansih Dira, jorok tau nggak. Lap dulu ingus mu". Kesal nara langsung mengambil tisu didalam tasnya.
Dengan cepat Indira mengambil tisu itu dan mengeluarkan ingusnya sambil terus terisak, senang bercampur sedih karena sang sahabat telah kembali ke sekolah.
"Sudah tenang?". Tanya Nara, Indira mengangguk pelan.
"Tas mu ambil dulu nih, ngapain sih di lempar sembarangan nanti ke injek sama yang lain kan kotor". Omel nara membuat Indira terkekeh pelan.
"Nanti aku geplak kepalanya yang berani menginjak tas ku". Balasa Indira, tapi ketika berbalik matanya membulat saat seseorang tak sengaja menginjak tasnya.
"Nah kan". Nara langsung tertawa melihat Indira melototkan matanya.
"Kurang ajar, cari mati Lo?". Teriak Indira menatap nyalang orang yang saat ini menginjak tas nya.
"Yeiii, orang hidup itu cari cinta dan kenyamanan, masa dibilangin cari mati. Lo kali yang nyari mati". Jawab Willi santai.
Bughhh
"Aduh... Kepalaku sakit banget. S*Alan Lo yah, beraninya main kasar". Geram Willi.
"Makanya jalan pake mata, gue colok juga mata Lo".
"CK!! Dasar gadis gila, jalan pake kaki bukan pake mata oon". Seakan tak mau kalah, William terus menjawab apa yang Indira ucapakan.
"Lo yang gila!!!. Lo nggak lihat tas gue ada disini haaaa. Buta mata Lo?".
"Lah salah sendiri simpan tas dilantai, ini sekolah bukan rumah Lo. Jadi jangan seenaknya Dong simpan tas sembarangan. Noh meja Lo disana bukan dilantai. Oh atau Lo mau duduk dilantai". Mata Indira melotot mendengar ucapan Willi.
Indira langsung menendang tulang kering Willi membuat sang empu melompat memegang kaki kirinya sebelang sambil meringis kesakitan.
Segala macam umpatan keluar dari mulutnya bahkan sumpah sarapah juga terdengar begitu jelas ditelinga Indira, tapi gadis itu hanya mengabaikannya, Indira dengan cepat mengambil tas nya dan berjalan menuju ke bangkunya.
Dengan memasang wajah kesal, gadis itu menghembuskan nafas kasar berkali-kali. Mood nya langsung hancur pagi ini.
"Kan aku sudah bilang". Ujar Nara membuat Indira Tamba tidak mood, Nara hanya tertawa pelan.
Tawa Nara tak lepas dari tatapan Marvel, saja tadi pemuda itu tidak memperdulikan Willi yang bertengkar dengan Indira tapi atensinya terus menatap kearah nara.
Tapi tatapannya terhenti ketika Marvel merasa ada yang menatapnya tajam, dilihatnya seisi kelas ternyata dugaannya benar saat ini dewangga tengah menatapnya sengit, seakan nara adalah miliknya terlihat dari tatapannya.
Dewangga terbangun ketika mendengar suara cempreng yang begitu menganggu pendengaran nya, tidurnya harus terganggu oleh sahabat nara itu.
Sungguh sangat membuat ya kesal.
Tapi kekesalan nya bertambah ketika melihat Marvel sedari tadi melihat gadis nya. Yah dewangga mengklaim jika mulai dari sekarang jika Nara adalah gadisnya dan tidak akan pernah dilepaskannya.
Dewangga berbicara pada Marvel tapi tidak mengeluarkan suara. 'dia milikku'.
Marvel terkejut ketika Abian memukul pelan pundaknya, hingga tatapan matanya terlepas dari Dewangga.
'sialan!!!'. Batin Marvel.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
Novela JuvenilIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
