Setelah melihat rekaman cctv tadi kini Dirga, Stefani dan juga Bima tengah berada di mobil menuju ke rumah sakit dimana sesha di rawat.
Ketiga hanya diam sepanjang jalan, mereka terkepung dengan pikirannya masing-masing. Terutama Bima yang begitu shock melihat video cctv itu.
'apa selama ini aku salah?'. Batinnya memejamkan mata sesaat.
"Papa sudah menyelidiki apa yang mama suruh?". Tanya Stefani memegang keheningan dalam mobil itu.
Dirga melirik sekilas sang istri, helaan nafas berat di hembuskan nya. "Belum".
Stefani menatap tajam sang suami. "Papa masih percaya sama dia? Setelah apa yang kita lihat tadi? Bagaimana bisa dia menyakiti dirinya sendiri dan menuduh nara sebagai pelakunya". Stefani menggebu-gebu dalam berbicara.
"Setelah apa yang mama dengar malam itu, mama merasa jika selama ini kita telah ditipu oleh anak itu". Sambungnya lagi.
"Maaf... Papa akan segera menyelidikinya".
"Jangan hanya berbicara, mama butuh pembuktian". Sinis Stefani.
Sedangkan dibagian belakang Bima merasa bingung akan apa yang dibahas oleh orang tuanya.
"Apa maksud mama? Refa memiliki orang tua?". Tanya Bima penasaran, sebab jika itu benar maka selama ini mereka telah di bodohi.
"Mama nggak tahu tapi malam itu mama memergoki Refa lagi teleponan sama orang dan dia manggil mama sama lawan bicaranya, Saat mamamenegur nya dan menanyakan yang mama dengar saat itu tapi dia bilang jika mama salah dengar, padahal pendengaran mama sangat tajam, mam juga belum tua-tua amat". Terang Stefani melihat Bima melalui kaca spion.
Bima mencerna apa yang dikatakan oleh ada bukti jika Refa memang manipulatif.
berbalik menatap tajam Bima, pemuda itu langsung menunduk. Barusan kali ini dia melihat sang mama yang marah.
"Jika kamu ingin kesana, silahkan. Mama ingin pulang. Turunkan mama disini". Tegas Stefani bahkan tanpa menoleh pada suaminya.
"Papa akan antar mama dulu". Stefani tidak menjawab, sepertinya suaminya masih percaya sama sesha.
Tak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka sampai didepan rumah besar berlantai dua. Rumah yang terlihat sepi dari luar begitupun juga didalamnya.
Padahal Dirga dan Stefani memiliki empat anak kandung tapi ketiga memilih meninggalkan rumah setelah kedatangan Refa.
Ah salah lebih tepatnya Nara diusir, sedangkan Zora memang sudah berkeluarga. Kalau Davin? Entahlah dia tidak pernah pulang lagi setelah perdebatan nya dengan Dirga malam itu.
Stefani langsung keluar tanpa mengucapkan mama nya, apa benar itu benar. Bima tidak bisa berkata-kata lagi, mungkin Nara akan menertawakan nya jika memang benar adanya.
"Apa karena ini bang Davin tidak pernah pulang kerumah ? Apa dia sudah tau?". Gumam Bima tapi masih bisa didengar oleh orang tuanya.
Dirga dan Stefani saling tatap. Apa memang benar Davin mengetahui sesuatu. Tapi kenapa anak nya tidak pernah memberitahukan nya jika memang ada sesuatu yang dapat membahayakan keluarganya.
"Hubungi Abang mu, suruh pulang sekarang". Pinta Stefani.
"Loh bukannya kita mau kerumah sakit ma?". Tanya Bima merasa heran.
"Tidak perlu mama udah ngga respect dengannya. Ternyata dia pandai berbohong dan dengan bodohnya mama percaya sama ular itu".Jawab Stefani.
"Mama kok ngomong gitu sih. Dia anak mama juga loh". Protes Bima, entah kenapa dia masih percaya terhadap Refa jelas-jelas membuat Mama tidak mengucapkan sepatah katapun. Dirga menatap Bima yang juga menatap nya.
"Jadi kita ke rumah sakit pa?". Tanya Bima ketika Stefani susah tak terlihat lagi.
"Papa bingung. Menurut mu?". Baru kali ini Dirga merasa bimbang. Padahal dia dikenal sebagai oembisnis yang begitu tegas akan kata-kata tapi lihatlah masalah keluarganya sendiri sangat sulit untuk sekedar tegas.
Bima diam karena tak tahu harus menjawab lagi sebab dia juga bingung.
"Papa nggak nyangka jika Refa mampu membohongi kita semua. Apa untungnya?".
"Aku juga nggak tau pa". Bima lagsung keluar dari mobil, mengingat kembali video cctv itu mood Bima langsung berantakan.
"Apa benar langkah yang sudah aku lakukan ? Kenapa keluarga ku berantakan seperti ini".Gumam Dirga mengusap wajahnya kasar.
Diambilnya ponsel dalam saku celananya, diotak-atik nya ponsel itu. "Tolong cari informasi mengenai anak saya". Ucapnya pada lawan bicaranya di seberang telepon.
"Namanya Refa, nanti saya akan kirimkan fotonya".
"Baiklah, saya tunggu informasi secepatnya". Kemudian sambungan telepon di matikan.
"Semoga memang Refa adalah yatim piatu.
Doanya kemudian keluar dari mobil.
*****
Sedangkan di rumah sakit, tepatnya di ruangan sesha berada. Gadis itu sedari tadi menelpon ibunya Wati.
"Mama tenang aja, aku yakin jika Nara besok nggak akan ke sekolah dan mudahan dia dikeluarkan dari sekolah hahaha". Tawanya begitu nyaring.
"Anak mama memang sangat pintar". Kata Wati di seberang telepon.
"Oh tentu, Refa gitu loh". Merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Udah dulu yah ma, aku takut kalau keluarga bodoh itu datang".
"Baiklah, kah dirimu baik-baik. Mama tunggu kabar baiknya lagi".
Refa mematikan teleponnya, sambil menunggu orang tua angkat sesekali gadis itu mengambil buah jeruk dan mengupasnya.
Satu... Dua... Tiga... Sampai empat jeruk yang habis tapi keluarga angkatnya tak kunjung datang. Gadis itu menjadi bingung, dicobanya untuk menelpon Bima tapi hanya suara operator yang terdengar.
Refa kembali menelpon orang tua angkatnya tapi sama saja hanya suara operator. Dengan wajah kesal gadis itu membanting ponsel nya di depan nya.
"S*alan!!!! Kemana mereka semua kenapa tidak ada yang datang disini". Geramnya.
Kali ini harapan satu-satunya adalah Marvel, sampai empat kali menelpon Marvel tapi sang tunangan tidak mengangkatnya. Lagi-lagi refa di buat kesal dengan tingkah semua orang.
"Aishhhh s*alan semua!!!". Teriaknya membuat satu orang perawat yang lewat langsung masuk karena panik.
"Apa ada yang sakit dek?". Tanya perawat itu.
"Aku mau pulang sus". Jawabnya menahan kesal..
Suster itu menghela nafas panjang, memang tadi dokter sudah menyuruh Refa untuk pulang sebab lukanya juga tidak terlalu parah tapi gadis itu kekeh akan tinggal bahkan dia meminta sampai tiga hari dirawat ketika Bima sudah pergi dari rumah sakit untuk mengantarnya.
Entah apa maksud Refa tapi sang dokter sudah sempat tidak mau mengikuti ke inginkan gadis itu tapi Refa mengancam akan menuntut rumah sakit ini apalagi dia menyebut keluarga Mahendra. Tentu sang dokter tidak mau itu terjadi maka dari itu dengan terpaksa dokter itu mengikuti kemauan Refa.
Setelah diperiksa kembali akhirnya sesha sudah keluar dari rumah sakit. Dengan wajah bersungut-sungut gadis itu segera naik di taksi online yang sempat di pesan nya tadi.
"Awas saja jika aku sampai di rumah, aku akan ngambek sama mereka. Biar tau rasa huuu".Gumamnya dengan wajah kesal.
Taksi yang membawa Refa akhirnya sampai didepan rumah orang tua angkatnya. Refa segera memberikan uang pada supir taksi itu dan keluar dari taksi.
Saat masuk rumah ternyata dalam keadaan sepi, tapi mobil Dirga sidanada didepan.
"Kemana sih mereka!!!". Sentak kakinya, kemudian berjalan menuju kamarnya.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
Teen FictionIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
