"bagaimana? Sudah selesai ?". Tanya Dewangga ketika Nara sudah masuk dalam mobilnya.
Pemuda itu sejak tadi hanya menunggu diluar, karena itu adalah perintah Nara. Dewangga sebenarnya ingin masuk menemani Nara tapi gadis itu menolak dengan alasan jika nanti dia akan kena masalah padahal Dewangga tidak masalah akan hal itu. Tapi Nara tetap kekeh melarangnya dan akhirnya dewangga hanya bisa menuruti.
Nara hanya terdiam, masih terlihat ada genangan air mata di pelupuk matanya, dewangga yang melihat itu langsung mengatupkan mulutnya, kemudian mulai menjalankan mobilnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang tak ada yang berbicara sama sekali.
Dewangga juga tidak ingin mengganggu Nara yang terlihat tampak sedih.
Nara melihat kearah jendela, sesekali gadis itu menghela nafas panjang untuk menetralkan rasa sedihnya. Entah kenapa rasanya sesak sekali didalam dadanya ketika mengingat kembali apa yang diucapkan sang papa padanya.
Tarikan nafas, kemudian menghembuskan nya secara perlahan-lahan. Nara tidak ingin mengingat kembali hal yang menyakitkan itu. Dia akan memulia hidupnya mulai dari sekarang tanpa seorang keluarga.
Perjalanan memakan waktu sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil Dewangga sampai didepan apartemen Nara, ah bukan lebih tepatnya apartemen milik Dewangga.
"Kita sudah sampai". Ucap Dewangga mengejutkan Nara.
"Terimakasih sudah membantuku". Nara membuka pintu mobil hendak ingin keluar tapi Dewangga langsung mencekal tangannya.
"Apa kamu baik-baik saja?".
"Hmm... Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Aku Nara, aku kuat".
Senyum mengembang pada bibir mungilnya membuat Dewangga begitu gemas.
"Oh iya, apa aku bisa minta bantuan lagi ?". Dewangga langsung mengangguk tanda bisa.
"Bisa, apapun itu aku akan membantumu". Jawabnya dengan cepat, Nara sempat mengerutkan keningnya.
"Umm. Bisa Carikan aku pekerjaaan untuk anak sekolah? Seperti di cafe ? Sepulang sekolah aku akan kerja. Kerja shift gitu lah". Dewangga mengepalkan tangannya, sungguh dia sangat benci pada keluarga Nara yang telah menelantarkan anak nya hanya demi seorang anak angkat.
Yah, Dewangga tahu semua masalah hidup yang dihadapi oleh Nara saat ini. Pemuda itu tentu menyelidiki semua kehidupan Nara.
"Nggak bisa yah?".
"Bisa, besok aku akan kabarin kamu". Nara dibuat melongo.
"Cepat sekali". Tutur Nara.
"Tenang saja, apapun untuk mu".Senyum nyaengembang kearah Nara.
"Baiklah, aku tunggu kabar baiknya besok". Dewangga mengangguk kemudian melepaskan tangan Nara dan gadis itupun masuk kedalam apartemen sambil melambaikan tangannya pada Dewangga.
"Gadis manis". Gumamnya tersenyum hangat menatap Nara yang sudah tidak teihat lagi.
***
Masih dirumah orang tua Marvel, saat ini dia keluarga masih berunding mengenai nasib pertunangan putra dan putri mereka.
"Aku tidak mau, dia bukanlah anak kandung mu". Bantah Xavier tak suka akan keputusan Dirga yang hanya sepihak saja.
"Xavier dengar lah dulu. Refa mungkin memang bukan anak kandung kami, tapi kami sudah menganggap nya sebagai anak kandung. Kami sangat menyayangi nya". Balas Dirga membuat Xavier terkekeh pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
Teen FictionIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
