davin yang mendengar cerita dari bi Darni melalui telepon langsung balik ke rumah nya. Memang selama ini Davin tidak pulang tapi dia memantau keluarga nya melalui bi Darni. Apapun yang terjadi bi Darni selalu melaporkan pada Davin sebab Davin menyuruh nya.
Disini lah Davin didepan keluarganya yang tengah duduk diruang tamu, Davin melihat tiga orang yang selama ini selalu mengabaikan narara, tapi dia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya keluarganya sebab dia juga melakukan hal itu, ikut mengabaikan nara dan hanya memedulikan Refa.
Davin baru tersadar ketika nara, adik kandungnya sudah pergi dari rumah ini. Itu karena diusir oleh keluarganya sendiri, yaitu kepala keluarga disini.
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang?". Tanya Dirga dengan tatapan dingin mengarah pada anak keduanya.
"Aku kerja". Hanya itu jawaban Davin.
Dirga ingin berbicara lagi tapi segera ditahan oleh Stefani, ibu anak empat itu tidak mau jika Davin akan bernasib seperti putri nya.
Helaan nafas kasar keluar dari mulut Dirga, dia mencoba menahan emosinya agar tidak tersulut, Memang Dirga selalu mengedepankan emosi tanpa ingin mendengar penjelasan anak-anak mereka.
"Jadi?". Tanya Davin membuat tiga orang yang tengah duduk mendongak menatap kearah nya.
"To-tolong bantu cari adik mu". Pinta Stefani dengan suara bergetar.
"Sudah kesekolah nya?".
"Sudah tapi... nara menghiraukan mama. Dia bahkan langsung masuk mobil sampai mama harus mengejarnya dengan berlari". Bima menjawab dengan cepat.
Davin tersenyum miring mendengar ucapan Bima. " Itu memang sepantasnya yang nara lakukan".
"Apa maksud Abang, seharusnya nara tidak mengabaikan mama dan papa. Apa dia tidak kasihan melihat mama yang menangis sampai menggedor-gedor pintu mobil?". Bima tidak terima akan ucapan Davin.
"Hahahaha". Tiba-tiba Davin tertawa, Stefani hanya menundukkan kepalanya, sedangkan Dirga dan Bima menatap Davin heran.
"Mengabaikan? Bukan kah selama ini itu yang kita lakukan padanya? Setelah semuanya terbongkar, dengan tidak tau malunya kalian datang ke sekolah nara untuk meminta maaf? Apa kalian tidak salah?". Semua terdiam mendengar ucapan Davin.
"Selama ini kalian menyiksa fisik nara, bukan hanya itu batin nya pun ikut tersiksa. Bahkan papa mengakui jika nara bukan anak papa lagi dan mama? Mama hanya diam tidak membela nara. Apa perbuatan kalian masih bisa di maafkan?". Lagi-lagi mereka terdiam, kilasan dimana mereka mengabaikan Nara terputar dalam otak mereka.
"Jangan mengganggunya dulu, biarkan dia hidup tenang. Kita pantau saja dari jauh". Stefani menggeleng kepalanya.
"Tidak... Mama nggak sanggup. Mama ingin membawa Nara tinggal disini lagi. Mama...mama mau berkumpul kembali dengan putri kandung mama sendiri ". Ucap Stefani dengan suara terisak.
Davin menghela nafas, menurutnya itu sangat mustahil. Membawa nara kembali kerumah yang telah membuatnya terluka ? Apa bisa?.
"Terserah mama, aku sudah memberi usul. Jangan salahkan nara nanti akan pergi menjauh jika kalian terus mengganggu nya". Setelah mengatakan itu, Davin berlalu menuju kamarnya. Rasanya tubuhnya butuh diistirahatkan.
"Cari nara pa, kita harus tau dimana dia tinggal... Mama nggak sanggup hiks...". Rasanya Stefani begitu lemas memikirkan putri nya.
"Kita nggak tau dimana dia tinggal, apa dia makan enak ditempat tinggal nya yang sekarang, apa tempat tinggal nya layak... Membayangkan saja mama nggak sanggup rasanya pa".
"Iya papa akan mencari nara ma, mama tenang saja".Dirga kembali menenangkan sang istri yang selalu menangis mengingat putri mereka.
Davin baru menyadari tentang nara diluaran sana, selama Nara pergi tak sedikitpun Stefani menanyakan hal itu dari tempat tinggal hingga makanan.
Bima menghela nafas panjang, kemudian beranjak dari sana. Pemuda itu keluar dari rumah. Menjalan kan mobil nya menuju ke tempat tujuan yang sedari tadi memenuhi otak nya.
Bima berhenti didepan rumah berlantai dua yang sangat Megah, Bima masih melihat-lihat dari arah luar. Sebab dia tidak bisa melihat dari dalam karena gerbang rumah itu menjulang tinggi dan semuanya tertutup.
"Apa nara tinggal disini ?". Tanyanya pada diri sendiri.
"Tapi dia selalu bersama Dewangga dan juga ke sekolah dan pulang bersama Dewangga". Yakinnya.
Saat ini Bima tengah berada didepan rumah Dewangga, pemuda itu melihat-lihat terlebih dahulu dari arah luar. Kemudian mencoba melajukan mobil nya mendekat kearah gerbang Saat mobilnya berhenti, tak lama seseorang menampakkan matanya dari arah dalam gerbang.
Krietttttt
Pintu gerbang sedikit terbuka, seorang berbaju hitam dengan badan kekar keluar dari arah gerbang, dengan cepat Bima menurunkan kaca mobil nya.
"Siapa kamu?". Tanya orang itu, dari tampilan nya Bima menyimpulkan jika orang yang berpakaian hitam dan badan kekar itu adalah bodyguard papa Dewangga.
"Saya teman Dewangga, apa saya boleh masuk?".
Bodyguard itu terus menatap kearah Bima dengan tatapan mengintimidasi.
Tanpa menjawab ucapan Bima, bodyguard itu mengeluarkan ponsel nya dan menempelkan nya pada telinganya.
"Baik tuan muda".
Kemudian bodyguard itu kembali kearah mobil Bima.
"Tuan muda kami tidak berada dirumah, dia sedang keluar. Kamu bisa menghubungi melalui telepon jika ingin bertemu. Ini nomor teleponnya". Jelas bodyguard itu.
Bima langsung mengambil kertas yang di sodorkan. " Terimakasih".
Setelah mengatakan itu, Bima langsung meninggalkan rumah Dewangga.
"Seperti dugaan ku, dia mencarimu di rumah ku". Kata Dewangga yang tengah duduk di depan nara.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah restoran, keduanya menikmati makanan nya tapi tiba-tiba ponsel Dewangga berbunyi dan ternyata sang bodyguard mengatakan jika ada seseorang mencarinya, bahkan bodyguard memfoto Bima untuk diperlihatkan pada tuan mudanya.
Walaupun nara mengatakan tidak ingin tergantung pada Dewangga tapi pemuda itu tidak berhenti mendatangi nya. walau melarang untuk selalu datang ke kost nya tapi Dewangga seakan tidak mendengar ucapan nara.
Nara diam tidak menanggapi, menurutnya dia tidak punya keluarga. Apalagi dia sudah membuang sebagian namanya.
"Mau kemana lagi?". Tanya Dewangga, dia mengalihkan pembicaraan sebab Nara sepertinya tidak peduli pembahasan tadi.
"Aku terserah kamu saja". Jawabnya santai.
"Sebenarnya aku ingin mengajak mu ke pasar malam tapi kamu kerjanya malam. Sebenarnya bisa saja kamu tidak...".
"Tidak, aku ingin tetap kerja". Dengan cepat nara memotong ucapan Dewangga.
"Tapi itu cafe milik om ku. Jadi kamu bebas".
"Walau itu milik om mu, tapi aku akan tetap kerja.
Aku tidak ingin seperti itu, karena kita dekat seenak nya main bolos".
"Malam ini saja".
"Tidak.. pokok nya tidak". Nara langsung berdiri meninggalkan Dewangga.
Dewangga langsung mengejar nara, sebelumnya makananan mereka sudah di bayar.
"Kenapa nggak mau sih".
"Aku kerja dewa. Aku karyawan disana".
"Kan aku tadi sudah bilang itu punya om ku".
"Tapi tetap saja, aku nggak mau di cap karyawan disana seenak nya, mentang-mentang kita dekat".
"Aku akan menyuruh om ku memecatnya, siapa saja yang mengatai mu seperti itu".
nara langsung menempelkan telunjuk nya pada bibir Dewangga sampai pemuda itu terdiam karena terkejut.
"Diam!!!!".
Bersambung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Y.A.K.A.D
Teen FictionIni bukan cerita transmigrasi tapi cerita dimana kekecewaan anak kandung yang sudah tidak bisa ditolerir lagi sebab keluarga nya lebih menyayangi anak angkat nya dibandingkan dengan dirinya yang notabene anak kandung dirumah itu. Hingga di sadar dan...
