Happy Reading
Typo!
...
Hentakan terakhir Kairos yang cukup keras masuk sangat dalam pada inti tubuh Ruby, melepaskan semua benih miliknya yang berenang hangat ke rahim sang istri.
Tubuh gagah Kairos telah bermandikan keringat, mendekap erat punggung mulus Ruby seraya menekan pusat tubuh mereka hingga benar-benar merapat.
"Apa kau..puas, hm?" Ruby bertanya ngos-ngosan, menolehkan wajah merah padamnya kearah belakang.
Secepat kilat Kairos melumat bibir bengkak Ruby yang disambut tidak kalah liar oleh lidah wanita itu. Saliva keduanya saling menetes hingga perlahan-lahan Kairos menarik pinggang ramping Ruby agar duduk diatas pangkuannya dengan penyatuan yang masih saling menjepit erat.
Puas saling membelit lidah, setelah itu barulah Kairos melepaskan pagutan dengan kedua tangan yang menopang tubuh kearah belakang.
Ruby lantas menyandarkan punggungnya ke dada bidang Kairos. Sejenak mereka coba untuk rileks. Mengatur deru napas serta gejolak jantung yang berdentum kencang.
"Ternyata sudah sore," Ruby bergumam menatap kearah sela-sela ventilasi rumah kayu itu. Ada bayang-bayang senja diatas langit sana.
Ruby baru sadar jika rumah kayu ini hanya ada karpet bulu dan satu kursi yang tadi mereka gunakan sebagai media bercinta. Selain kedua barang itu, semuanya benar-benar kosong melompong, lebih tepatnya tidak memiliki isi.
"Kau sungguh tidak bermodal sekali membawaku ke hotel sampai bercinta pun harus di tempat seperti ini!" Sinis Ruby melirik Kairos yang tersenyum tipis ditengah wajah teramat puasnya itu.
"Aku sudah tidak tahan, By! Kau yang memancingku," gemas Kairos.
"Ck! Singkirkan tanganmu, Kai!" Ruby menepis sebal kedua tangan Kairos yang kembali meremas bongkahan daging di dadanya.
Pria itu terkekeh kecil, mengecup bahu polos Ruby lalu menenggelamkan wajah pada ceruk leher sang istri. Aroma setelah bercinta begini sangat Kairos sukai. Keringat mereka yang bercampur menjadi satu dengan aroma cairan cinta yang khas. Bahkan disetiap sudut lantai terdapat banyak jejak percintaan panas keduanya.
"Aku harus pulang. Chio pasti sudah menunggu sejak tadi,"
"Tidak ingin lanjut?" Goda Kairos sengaja menekan pinggangnya hingga si Junior kembali maju didalam sana.
Ruby menggigit bibir, mencoba agar tidak terpancing. Jika percintaan mereka dilanjutkan sudah pasti ia tidak akan memiliki waktu untuk bekerja besok. Dia membutuhkan waktu yang lumayan cukup lama untuk memulihkan tenaga kembali.
"Tidak! Aku harus pulang."
"Baik. Kalau begitu pulang bersama!"
"Ck, sejak kapan kita satu rumah?" Sinis Ruby.
"Sejak aku datang ke kota ini," santai Kairos tanpa beban sedikitpun.
"Jangan membual. Minggir!!" Ruby menarik lepas penyatuan mereka secara asal hingga rasa kosong didalam intinya membuat dia sedikit merasa hampa.
Begitupula dengan Kairos. Pria ini tampak tidak rela saat kehilangan sensasi jepitan serta lorong hangat yang membungkus keperkasaan-nya. Junior benar-benar tertunduk malang!
"Kita lanjut nanti malam, Son! Jangan bersedih, hm?" Ucap Kairos menghibur adik kecilnya yang sedang murung.
"Dasar gila!" Cibir Ruby memutar bola mata malas.

KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIAGE WITHOUT LOVE || 🔞
ChickLitArea 21+. Terdapat adegan kekerasan fisik, ucapan, serta tindakan. Seluruh cerita ini di buat hanya untuk hiburan semata bagi para pembaca juga penulis sendiri. Kisah dan karakter yang ada didalam cerita tidak mencerminkan kehidupan asli bagi p...