Happy Reading
Typo!
...
KOMAROVO CEMETERY .
Mereka semua tengah menghadiri prosesi pemakaman Maria. Semua kerabat wanita itu datang. Bahkan isak tangis seluruh keluarga tidak dapat terbendung kala meratapi pusara sang model senior tersebut.
Tidak jauh dari makam, ada juga beberapa perwakilan Agensi serta para rekan kerja sang mendiang termasuk Ruby.
Namun sejak tadi, sorot mata Ruby terus menatap kearah Violette yang sedang berdiri disamping makam Maria dengan wajah sendu dan air mata yang merembas deras.
Sementara disisi kiri Violette ada Lavera. Wanita itu terlihat benar-benar sedih dan terpukul atas kepergian teman sejawatnya.
"Kami turut berduka atas kematian, Maria! Dia adalah sosok orang baik semasa hidupnya juga sosok mentor yang hangat terhadap para anak-anak asuhnya." Direktur perusahaan tempat mereka bekerja berbicara mewakili seluruh staf di agensi.
Kedua orang tua Maria hanya mampu mengangguk lalu berterimakasih dan menaburkan bunga keatas makan sang putri tercinta.
"Vio! M-maria kenapa bisa tiba-tiba meninggal? Hiks, padahal tadi pagi dia masih baik-baik saja saat menghubungiku untuk segera menemuinya," bisik Lavera memegang lengan Violette yang sejak tadi hanya bergeming di tempat.
Wanita ini menangis tetapi, air mata dia sama sekali tidaklah tulus. Ruby dari kejauhan bahkan bisa melihat jika ada senyum tipis menghiasi bibi Violette kala memandang foto mendiang Maria diatas pusara.
"Dasar rubah sialan!!" Batin Ruby geram sekali pada Violette.
Tidak perduli Maria dibunuh oleh siapapun tetapi, karena dalam kasus ini Violette adalah anak angkat dari sang ayah. Ruby merasa dendam setengah mati, seolah dia tengah melihat Rose dalam diri wanita itu.
"Kurasa setelah ini, mungkin akulah yang akan menjadi targetmu." Ruby meremas ponsel dalam genggaman tangannya hingga Joseph yang berada disebelah pun lantas menepuk bahunya.
"Kau baik-baik saja?"
Ruby menoleh. Kali ini Joseph tampak sangat canggung berinteraksi dengannya mengingat kejadian tempo hari yang kurang mengenakkan.
"Maria pergi terlalu cepat, Bukan" Joseph bertanya seraya menatap pada pusara makam Maria.
"Benar! Tapi, mungkin saja jika ini sudah takdir." Jawab Ruby membuat Joseph terdiam.
"Apa kau membencinya?"
"Aku membenci semua orang yang mengganggu dan mencari masalah denganku!"
Jawaban Ruby lumayan cukup mengejutkan namun, Joseph menyunggingkan senyum. Dengan karakter seperti Ruby ini sungguh tidak lagi heran jika kalimat sarkas seperti itu keluar dari bibirnya.
"Tetapi aku tidak membenci tubuh yang terkubur didalam tanah, melainkan jiwanya semasa hiduplah yang aku benci!" Tegas Ruby dengan sorot mata tajam sebab yang ia ingat adalah sosok Rose.
Joseph bisa lihat jika Ruby ini adalah sosok wanita yang sangat pendendam.
"Akan kupastikan jika jiwa dia tidak akan pernah tenang karena kebencianku padanya!!"
"Ssh, kau terdengar sangat kejam." Joseph tertawa jenaka namun mendadak bungkam kala Ruby menatap tajam padanya.
"Tertawalah yang puas sebelum kau juga menjadi target mereka selanjutnya,"

KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIAGE WITHOUT LOVE || 🔞
Chick-LitArea 21+. Terdapat adegan kekerasan fisik, ucapan, serta tindakan. Seluruh cerita ini di buat hanya untuk hiburan semata bagi para pembaca juga penulis sendiri. Kisah dan karakter yang ada didalam cerita tidak mencerminkan kehidupan asli bagi p...