Selesai + belom direvisi
"Gue mohon sama lo! batalin pernikahan ini! gue gak kenal sama lo, begitupun lo gak kenal sama gue." Tegas Arzen kepada Clazoora.
"Idihh, gue juga gak mau kali nikah sama lo! mending gua gak nikah seumur hidup daripada haru...
"Tapi lutut, Zoora berdarah." Letta menunjuk kearah lutut bagian kanan Zoora yang mengeluarkan darah segar yang cukup banyak.
Arzen pun ikut menoleh, ia langsung melepaskan dasi di lehernya dan ia ikatkan dasi tersebut ke lutut Zoora yang berdarah.
"Ayo pulang." Arzen menggenggam tangan Zoora. Zoora menggeleng, "gamau."
Arzen menatap Zoora tajam, tapi tatapan itu tidak mmbuat Zoora takut.
"Pertandingannya belum selesai, masa aku udah nyerah gitu aja."
"Dengan keadaan kamu yang luka gini? Mikir, Zoor. Sekarang ayo pulang."
Zoora tetap keukeuh tidak mau pulang.
"Zoora! Dengerin perintah gue sekali aja bisa?!" karena terbawa emosi Arzen jadi membentak Zoora.
Zoora memejamkan matanya, sudah dibilang ia paling tidak suka dibentak, dan Arzen membentak nya.
Zoora melepaskan tangannya dari genggaman Arzen scara kasar, ia berjalan kearah Clara dengan keadaan pincang. Zoora mengambil bola basket dari genggaman Clara.
"Liatin apa lo? Ayo tanding lagi."
Clara menatap Zoora remeh, "nggak deh. Gimana kalo luka lo makin parah? Gue juga yang repot."
"Nggak usah hirau 'in luka gue! Gue nggak selemah itu cuma gara-gara luka kecil doang." tegas Zoora.
Clara mengedikkan bahunya. "Yaudah, kalo itu mau lo. Tapi jangan salahin gue kalo luka lo makin parah."
Zoora berdehem.
Akhirnya pertandingan yang tadinya sempat tertunda, kini bermain lagi.
Dan teman-teman Zoora juga Arzen sudah kembali ke kursi penonton dengan perasaan dongkol. Bisa-bisanya, dengan keadaan kaki yang luka, Zoora tetap ingin melanjutkan pertandingannya.