Selesai + belom direvisi
"Gue mohon sama lo! batalin pernikahan ini! gue gak kenal sama lo, begitupun lo gak kenal sama gue." Tegas Arzen kepada Clazoora.
"Idihh, gue juga gak mau kali nikah sama lo! mending gua gak nikah seumur hidup daripada haru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
27. Bertahan?
——
Tepat hari ini, dua bulan sudah Zoora koma. Semua keluarga dan sahabat berkumpul didepan ruang rawat Zoora.
Mereka masih menunggu dokter Dion yang masih memeriksa keadaan Zoora didalam.
Dan untuk keadaan orang tua Elena, mereka sudah membaik. Dan sudah diizinkan pulang oleh dokter.
Juga masalah tentang Dina, ia sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Dina sudah mendekam dibalik jeruji besi, dengan 15 tahun penjara.
Ceklek...
Pintu terbuka, dan menampilkan dokter Dion dan seorang suster disampingnya. Mereka langsung mendekati dokter Dion untuk menanyakan tentang keadaan Zoora.
"Gimana keadaan anak saya, dok?" tanya Marvel.
Dokter Dion menghembuskan nafasnya perlahan. Ia membenarkan letak kacamatanya terlebih dahulu.
"Tidak ada perkembangan, Tuan Marvel. Keadaan Nona Zoora masih sama seperti belakang ini."
DEGG!!!
Tasya hampir tumbang kalau saja tidak ada Vanya disampingnya. Begitupun dengan Nyonya Tyas.
BUGHHH!!
BUGHHH!!
BUGHHH!!
Mereka langsung menoleh kesumber suara; Arzen memukuli dinding.
Zeo, Jarvis, Bian, dan Galaksi langsung menghentikan kegiatan Arzen yang terus memukuli dinding.
"Lepasin gue!!" sergah Arzen.
"Lepasin gue! Atau gue buat kalian ber-empat jadi kayak dinding?!"
Jarvis dan Bian hampir melepaskan Arzen. Namun, lirikan mata Galaksi dan Zeo yang bagaikan hewan pemangsa yang siap menerkam mereka, membuat Jarvis dan Bian mengurungkan niatnya.
"Zen! Lo nggak usah kayak anak kecil 'kek gini!! Kita semua disini juga kaget dengan ucapan dokter Dion. Tapi kita nggak bersikap bodoh kayak lo gini. Tenangin diri lo, jangan mudah kebawa emosi. Bisa?" kata Zeo berusaha menenangkan Arzen yang sedang tantrum.
Tubuh Arzen luruh kelantai, ia menelungkup wajahnya diantara pelipatan tangannya.
Bahunya bergetar; menandakan kalau Arzen sedang menangis.
Vanya langsung memeluk anak semata wayangnya, mengusap bahu yang dulunya berdiri tegap sekarang roboh.
"Hey, anak Mommy. Ngapain nangis? Kamu bukan Arzen yang orang liat, bukan Xio yang biasanya Kesha liat. Kamu bukan Arzen Lexio Alexander yang Mama sama Papa didik selama ini. Dimana Arzen yang selama ini Mama, Papa, dan orang lain kenal? Harusnya dalam keadaan seperti ini kamu itu semakin kuat, bukan malah nangis kayak gini. Nanti kalau seandainya Zoora sadar, terus liat keadaan suaminya kayak gini, kamu nggak malu apa?"