BAB 47 || Semuanya terlalu tiba-tiba

196 8 2
                                        

Happy Eid Al-adha 🤍💐 salam toleransi 👊😁

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Eid Al-adha 🤍💐 salam toleransi 👊😁

47. Semuanya terlalu tiba-tiba

——

"Sayang, ayo pulang. Ini udah hampir tengah malam. Kamu nggak capek apa?"

"Bentar dulu, Zen. Lagi seru ini."

Arzen menghembuskan nafasnya, lelah. Sedari tadi dirinya terus membujuk sang istri untuk pulang, tapi jawaban Zoora selalu sama—bentar dulu—selalu saja.

Padahal jam sudah menunjukkan setengah sepuluh, tapi Zoora belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti bermain dengan wahana-wahana yang ada.

Sepulang dari pantai tadi, bukannya pulang ke rumah, Zoora malah mengajak Arzen untuk melihat pasar malam. Dengan berat hati, Arzen menuruti permintaan istrinya.

Arzen pikir Zoora hanya akan melihat dan mungkin membeli beberapa barang yang menurutnya lucu. Namun, ternyata pikiran Arzen salah. Nyatanya, Zoora dengan perut buncitnya itu memainkan semua wahana yang ada. Arzen sampai lelah sendiri dibuatnya.

"Kamu mau nggak? Sini aku suapin." Zoora menyodorkan setusuk bakso kehadapan mulut Arzen, dan langsung diterima oleh sang empu.

"Enak?" Arzen mengangguk sebagai balasan.

Setelah itu tak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Zoora yang asik dengan makanannya, dan Arzen yang melihat-lihat suasana pasar malam.

"Huh, kenyang banget." Arzen menoleh kearah suara, disampingnya ia melihat Zoora yang tengah menepuk-nepuk perutnya.

Arzen terkekeh. Ia mengulurkan tangannya, untuk menghapus bekas kecap yang ada dipinggir bibir istrinya.

"Udah gede, kok, makan masih belepotan. Kayak bocil aja," ledek Arzen.

Zoora mendengus. Ia menatap Arzen tajam. "Biarin! Suka-suka aku."

Arzen menggelengkan kepalanya. Ia mengusap pucuk kepala Zoora. "Mau pulang?"

Zoora mengangguk lemah. "Ayok. Aku juga udah capek, daritadi main terus," keluhnya.

Arzen lebih dulu beranjak dari duduknya, setelah itu ia mengulurkan tangannya kehadapan Zoora.

"Ayok," ajaknya, sembari menggenggam tangan Zoora.

Selama perjalanan menuju mobil, mulut Zoora tak berhenti berbicara. Menceritakan inilah, menceritakan itulah. Namun, Arzen tak mempermasalahkan itu, malahan ia senang jika Zoora banyak bicara. Itu artinya mood istrinya sedang baik.

Arzen menoleh kearah samping, ia menatap wajah istrinya itu dengan tatapan teduh.

"Selalu senyum, Zoor. Kamu yang udah buat hidup aku banyak berwarna."

🎀🗯️

"Eh, Zen, berenti dulu."

Arzen menuruti perintah istrinya.

ARZOO || PERJODOHAN || [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang