BAB 18 || First Kiss

980 18 0
                                        

Typo bertebaran!

🥦Hargai penulis dengan feedback berupa vote🥦

GRATIS!!

GRATIS!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

18. First kiss

──

Matahari sudah menampakkan dirinya dengan percaya diri, menerangi seluruh manusia yang ada di bumi. Tapi sepertinya dua insan yang sedang berada diatas tempat tidur masih belum ada tanda-tanda akan membuka mata mereka, selimut menutupi tubuh keduanya.

Jam menunjukkan pukul 06.58 WIB. Zoora menggeliat dalam tidurnya, ia mulai terganggu saat sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah hordeng.

Ia menoleh kesamping; melihat Arzen yang masih nyaman dalam tidurnya, Arzen sama sekali tidak terganggu saat Zoora mengelus rambut tebalnya, malahan Arzen tampak nyaman dengan elusan yang diberikan Zoora.

Untung saja hari ini mereka tidak sekolah, dikarenakan acara kemarin. Dan itu semua adalah permintaan Arzen pada sang Ayah; kalo kata Arzen gini "Pah, besok nggak usah sekolah aja. Arzen capek habis nyanyi." sangat tidak masuk akal bukan? Padahal Arzen bernyanyi tidak sambil berlari, lantas kenapa ia kecapean?

"Zen...." panggil Zoora lembut disamping telinga Arzen.

"Arzen bangun udah siang,"

Arzen melenguh dalam tidurnya, ia sepertinya mulai terganggu dengan sinar matahari yang mulai terang. Dengan perlahan mata Arzen membuka, mencoba menyesuaikan dengan cahaya.

Saat sudah sepenuhnya terbuka, objek yang pertama kali Arzen lihat adalah senyum manis Zoora. "Morning." Arzen ikut tersenyum membalas senyuman Zoora.

"Morning too," balas Arzen.

"Bangun yok, udah siang." Zoora menepuk-nepuk rahang Arzen.

Arzen memegang tangan Zoora yang berada di pipinya, "bentar dulu. Aku masih ngantuk,"

"Tapi aku mau masak, Zen. Lepasin tangan kamu dari badan aku. Aku mau turun, mau mandi habis itu masak buat makan pagi." Zoora berusaha melepaskan tangan Arzen yang melingkar dipinggangnya.

Tapi Arzen masih tak kunjung melepaskan pelukannya, ia malah semakin mengeratkan tangannya pada pinggang Zoora. "Bentar dulu, yang. Masih pagi, nanti kita pesen aja makanannya. Nggak perlu buat, simpel kan?"

Zoora membulatkan matanya. "Mana bisa gitu! Aku mau masak. Lepasin dulu, Zen. Lepasin nggak? Kamu bau tau." Zoora mengapit hidungnya menggunakan jari telunjuk dan jempol.

ARZOO || PERJODOHAN || [SELESAI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang