Selesai + belom direvisi
"Gue mohon sama lo! batalin pernikahan ini! gue gak kenal sama lo, begitupun lo gak kenal sama gue." Tegas Arzen kepada Clazoora.
"Idihh, gue juga gak mau kali nikah sama lo! mending gua gak nikah seumur hidup daripada haru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
40. Kejutan?
——
Tok!
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.
"Siapa?" tanya Elena entah pada siapa.
"Bentar, gue cek dulu." Zoora beranjak dan berjalan kearah pintu—untuk melihat siapa yang datang.
"Sia—"
"Siapa disini yang bernama Jarvis dan Bian!"
Semua yang berada diruang tamu, bergegas keluar saat orang yang ada diluar berteriak.
"Loh? Pak Salam? Kenapa, Pak?" tanya Arzen sopan.
"Eh, nak Arzen. Ini, saya mau nanya, disini ada yang bernama Jarvis dan Bian?"
Jarvis dan Bian yang berada dibalik pintu menegang. Jadi itu suara Pak Salam? Dari suaranya saja, Jarvis dan Bian sudah bisa menyimpulkan kalau Pak Salam adalah golongan orang yang pasti memiliki janggut dan kumis yang tebal, sama seperti film-film yang sering mereka tonton ketika berada di markas.
Arzen menoleh kebelakang—melihat kedua sahabatnya yang dilanda panik itu.
Jarvis dan Bian menggeleng-gelengkan kepala mereka; berharap Arzen tidak memberitahukan keberadaan mereka.
Arzen menganggukkan. Setelah itu ia kembali menoleh kedepan. "Ada, Pak. Ini orangnya, dibelakang saya," tunjuk Arzen. Ia sedikit menggeser kan tubuhnya, dan memperlihatkan Jarvis dan Bian.
Jarvis dan Bian membulatkan mata mereka. Sahabat setan!
"Oh, jadi kalian yang ngambil durian saya?!"
"E—e... itu... anu... sebelumnya kita minta maaf, karena udah ngambil durian yang berada didepan rumah Bapak tanpa izin. Tapi kita ngambil bukan tanpa alasan 'kok, Pak. Itu Arzen sendiri yang nyuruh. Dan, untuk yang ngambil durian, bukan cuma saya dan Jarvis yang ngambil. Sahabat saya yang bernama Galaksi juga ikut andil dalam pengambilan durian Bapak. Itu dia orangnya." Bian menunjuk Galaksi yang berdiri disamping sang istri dengan wajah datarnya.
Pak Salam menghembuskan nafasnya berat. Ingin marah pada remaja didepannya ini, tapi tidak enak.
"Sudahlah, Bapak hanya mau mendengar kejujuran kalian saja. Kalo soal durian, nanti juga bisa berbuah lagi. Yang penting keinginan Arzen buat makan durian kesampean. Udah berapa bulan, Zen?" Pak Salam menaikkan alisnya.
Kening Arzen berkerut. Maksudnya apa? Apa yang berapa bulan?
"Maksudnya, Pak?" tanya Jarvis.
"Istri Arzen hamil, kan? Biasanya kalo suaminya minta yang aneh-aneh atau sesuatu yang dia nggak suka tapi tiba-tiba minta cariin, itu kemauan bayi-nya," jelas Pak Salam.