Kendati masih udara sama yang ia hirup setiap harinya, udara di tempat yang baru saja kakinya jejaki setelah turun dari Hyundai hitamnya selalu terasa berbeda bagi paru-parunya. Oksigen yang terbawa oleh darahnya ke jantung menghasilkan buih-buih kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Meletup-letup di dada membangkitkan keinginan untuk mengulang masa-masa yang pernah ia lewati di tempat itu. Sekolah menengah.
Hampir tiga tahun menyelesaikan pendidikan SMA, tempat itu nyatanya sedikit berubah dari ingatan terakhirnya. Ada bangunan baru, dan lapangan yang biasa digunakan untuk pertandingan juga upacara terlihat lebih luas sehingga ia yakin tempat itu telah dipugar. Jika saja memiliki waktu lebih lama untuk kembali menjelajahi sekolah yang tak sekalipun menorehkan kenangan buruk itu, ia mungkin bisa menemukan kenangan-kenangannya bersama teman-temannya. Di kelas, perpustakaan, gedung olahraga, kantin. Bahkan tangga menuju kelasnya pun memiliki banyak cerita. Ah, ia penasaran siapa yang menempati bekas lokernya. Namun, karena ia hanya bermaksud meminta berkas untuk kepentingan kuliahnya, ia akan menemui seseorang saja untuk mengejutkannya.
Guru-guru masih seramah dulu. Apalagi, gadis dengan rambut bergelombang dan berparas cantik itu dulunya adalah juara kelas selama tiga periode berturut-turut. Guru-guru menyukainya, teman-temannya apalagi. Karena dia bukan gadis pintar menyebalkan yang menolak memberikan contekan, atau sangat patuh sehingga dia mau repot mencatat nama-nama temannya yang gaduh di kelas. Gadis ini disukai lantaran bisa menyesuaikan diri dengan beragam watak dan kepribadian teman-temannya layaknya air.
Seusai urusannya dengan pihak sekolah selesai, gadis itu memutuskan berjalan-jalan sebentar. Di sepanjang langkahnya, murid-murid yang berpapasan dengannya akan menoleh dua kali seolah memastikan bahwa yang baru berpapasan dengan mereka benar manusia, bukan bidadari. Sebab dia sangat cantik. Bahkan beberapa orang mengenalinya. Menyapa sembari menebak nama dan kegirangan begitu sang empunya nama membenarkan. Bak bertemu artis saja.
Wajar jika gadis bersweter merah dan bercelana jins biru itu mudah dikenali. Setiap tahun ajaran baru dimulai, papan reklame besar yang menampilkan wajahnya akan dipajang di depan sekolah. Pihak sekolah seakan bangga padanya sampai tak mau mengganti posternya hingga beberapa tahun. Sebab selain pintar, gadis ini juga sangat cantik. Namun, tahun ini posternya sudah berganti. Bukan lagi dirinya, tapi anak lain yang mungkin jauh lebih pintar darinya.
"Hai Kak Jisoo. Kau sangat cantik!"
"Apakah kau Kak Jisoo?"
"Kak Jisoo, aku masuk sekolah ini karena melihat wajah cantikmu di papan reklame."
"Kak Jisoo yang terbaik!"
"Kau adalah dewi, Kak Jisoo."
Gadis itu hanya tersenyum sebagai tanggapan. Ia membalas semua sapaan orang-orang yang bertemu dengannya dengan membungkukkan badan. Begitu sopan dan anggun layaknya putri kerajaan. Sadar bahwa tatapan kagum untuknya tak akan berkurang. Gadis itu merasa malu melihat anak-anak berbaris rapi memberinya jalan ketika ia datang ke kelas adiknya, Jungkook.
"Noona!"
Untungnya, Jisoo menemukannya.
Sadar kakaknya begitu menarik perhatian, Jungkook akhirnya mengajak kakaknya itu duduk-duduk di taman. Hari ini cukup panas, tapi cuacanya sangat mendukung untuk dinikmati di luar ruangan. Jungkook tahu kakaknya sangat suka berfoto dan gadis itu secara rutin mengunggah foto-foto cantiknya ke Instagram sehingga Jungkook pikir kakaknya tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya datang ke sekolah lamanya. Meski akhirnya Jungkook harus rela jadi fotografer dadakan.
"Lagi pula apakah mendesak sekali sampai Noona datang di jam istirahat begini? Kau nampaknya sangat senang jadi pusat perhatian," komentar pemuda itu sembari tetap fokus membidik Jisoo yang sibuk bergonta-ganti gaya layaknya foto model.
KAMU SEDANG MEMBACA
REDUM
Fanfiction[Rate: 13+] Jennie menyatakan cinta pada Taehyung meski ia belum bisa mengukur sebesar apa kadar sukanya pada pemuda itu. Karena terlalu tergesa, cinta itu pun berakhir begitu saja. Taehyung menolaknya dengan alasan memiliki gadis idaman lain. Setah...
