17. Jadilah Ayah yang Keren

640 66 11
                                        

Thankyou for 2k views!

Happy reading 🤍


Meski wajah itu pias dan bibir itu kering, Chahee senang melihat Jennie masih memiliki nafsu makan yang besar di saat tubuhnya nampak lebih kurus dari yang ia ingat. Sejak mereka bertemu, Chahee hanya ingin menangisi Jennie dan melampiaskan perasaan iba di hatinya. Karena sungguh ia tidak menyangka gadis yang digadang-gadang akan jadi dokter jenius di masa depan itu kini hidup terlunta-lunta. Masa depannya hancur. Dan ia malah akan jadi seorang ibu dalam hitungan bulan. Sinting pikirnya, karena gadis itu lebih memilih mempertahankan bayinya. Namun, mengingat bagaimana sifat Jennie selama ia mengenal gadis itu, Chahee tidak heran jika Jennie lebih memilih jalan ini.

Takdir seseorang memang hanya Tuhan yang tahu.

Jennie akhirnya sadar Chahee menjadi emosional karena melihatnya makan seperti orang yang sudah tidak diberi makan berhari-hari. Padahal, Taehyung memberinya makan dengan baik sejak kemarin. Hanya saja porsi makan wanita hamil ini di luar nalar. Dia kembali merasa lapar hanya dalam hitungan menit setelah makan. Ia pikir morning sickness akan merepotkan, tapi mual yang ia alami hanya berlangsung di pagi dan malam hari saja. Itu pun dalam batas yang bisa ia toleransi.

Maka sebelum Chahee kembali banjir air mata, Jennie menyudahi acara makan-makannya kendati sepiring kentang goreng masih memancing air liurnya menetes.

"Taehyung tidak memperlakukanmu dengan jahat, 'kan? Dia memberimu makan, 'kan?"

Mendengar berondongan pertanyaan itu, Jennie lantas mengingat-ingat waktu yang telah ia habiskan bersama Taehyung sejak kemarin lusa. Tidak hanya makanan, sejujurnya pemuda itu juga memberinya rasa aman. Dia selalu memastikan Jennie tidur sebelum memutuskan tidur. Taehyung selalu bertanya bagaimana harinya, apa yang ia rasakan, jadi kekhawatiran Chahee sejujurnya terlalu berlebihan.

"Dia tidak seburuk cerita Oppa-mu, kok. Dia lumayan bertanggung jawab. Dia memijit kakiku juga," jelas Jennie malu-malu di kalimat terakhir.

Chahee memicing. Nampaknya doktrin yang Chahee berikan selama ini telah memudar. Otak Jennie kini kembali dipenuhi Kim Taehyung, dilihat dari bagaimana gadis itu berusaha menyembunyikan senyumnya malah pipinya sibuk memerah. Namun, Jennie juga adalah gadis yang polos dan naif. Dia cenderung menganggap semua orang baik.

"Apa-apaan wajahmu itu? Kau senang dipijit olehnya?" semprot Chahee tidak tahan.

"Bu-bukan begitu maksudku," sahut Jennie gelagapan. Untung ia tak keceplosan berkata bahwa semalam mereka tidur sambil berpelukan karena tak ada selimut.

Chahee lantas kembali memberinya tatapan tajam nan mengancam.

"Ingat, ya Jane, dia pernah menidurimu hingga kau harus mengalami kesulitan seperti ini. Kau harus lebih waspada. Kalau kau lengah, nanti malam Taehyung tidak hanya akan memijit kaki, tapi memperkosamu lagi," kata Chahee membuat Jennie terjingkat. Sontak bulu romanya meremang sekujur badan.

Taehyung ... apakah dia orang yang seperti itu? Dia tidak nampak tertarik pada Jennie secara fisik. Pemuda itu bahkan mengakui tindakan bodoh yang ia lakukan hingga bersemayamlah sebuah janin di perut Jennie murni dilandasi oleh emosi sesaatnya terhadap seseorang. Meski tidak menyebutkan sebuah nama, Jennie yakin orang yang Taehyung maksud adalah gadis yang ia suka. Meski tidak tahu orangnya. Meski Jennie sedikit merasa sakit karena besar kemungkinan saat itu terjadi Taehyung membayangkan dirinya sebagai ora lain, untungnya ia tidak mengingat kejadian itu dengan baik.

Pengalaman pertama yang tidak berkesan.

Jennie lantas melirik keberadaan pemuda itu diam-diam. Kim Taehyung yang terlihat sedang bicara serius dengan pemuda bermarga Kim yang lain di meja yang jauh darinya.

REDUMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang