Nadine duduk dengan tatapan kosong, matanya sedikit bengkak, jelas habis menangis. Dita menatapnya prihatin, mengelus bahu Nadine pelan.
Tiga minggu sudah berlalu sejak pertengkaran terakhir orang tua Javier dan Nadine, tapi suasana di rumah mereka tidak pernah benar-benar berubah.
Bahkan sekarang seolah-olah menjadi kebiasaan, mereka tak jarang saling lempar barang, teriak-teriak hingga tetangga datang mengetuk. Dalam kondisi seperti itu, Javier dan Nadine hanya akan memilih pergi.
Harusnya mereka kebal, tapi nyatanya, setiap kali suara pertengkaran itu terdengar dari kamar sebelah, atau dari arah dapur, ruang keluarga, rasa terpukul masih menyeruak di hati mereka.
Siapa juga yang bisa tenang saat orang tua sendiri adu mulut terus menerus? Javier tak pernah berhenti berharap semuanya bisa kembali seperti dulu, sebelum semua kekacauan ini dimulai.
Tapi untuk sementara waktu, kontrakan Julio adalah satu-satunya tempat yang terasa aman.
"Jav, Nadine... kalian tau kan kontrakan gue ini selalu terbuka buat kalian? Gue sama Dita gak keberatan kalau kalian tinggal di sini, daripada bolak-balik tiap kali bokap nyokap kalian berantem," tawarnya tulus.
"Iya, serius." Audita yang duduk di sebelah Nadine juga ikut menyahut. "Gue juga ngerasa gak tenang kalau kalian terus-terusan balik ke rumah dengan kondisi kayak gitu. Mending tinggal bareng aja, biar ada temen juga di sini."
Nadine mengangkat pandangannya yang semula kosong, "Tapi... kita gak mau ngerepotin. Lo sama Kak Julio udah cukup banyak bantu," ujarnya pelan.
Julio tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Ngerepotin gimana? Kita malah seneng ada temen di sini. Dan kontrakan gue ini gak bakal sepi lagi kalau kalian tinggal bareng. That's right, Babe?"
Dita tersenyum sambil mengangguk, "Bener. Udah, gak usah mikirin ngerepotin. Yang penting kalian nyaman dan aman. Itu aja."
Javier memandang mereka berdua, merasa terharu dengan kebaikan temannya. "Gue gak tau harus ngomong apa. Tapi, makasih banget."
Julio menepuk bahunya lagi, "Udah, gak usah banyak ngomong, yang penting sekarang kalian bisa tenang di sini."
Julio melirik Nadine yang tampak kusut dan masih terlihat sesekali menyeka air matanya dengan punggung tangan. Dita pun ikut diliriknya, memberi kode agar membawa Nadine ke kamar.
Dita mengangguk setelah mendapatkan sinyal, lalu tanpa banyak kata, dengan langkah pelan dan berat, Nadine mengikuti Dita ke kamar.
Julio kembali menatap Javier, kemudian menepuk bahunya, sorot mata Javier tampak lelah.
"Udah, lo tenang aja."
Javier menarik nafas panjang, menatap lantai sejenak sebelum akhirnya berani membuka suara lagi. "Jul... gue kepikiran, kayaknya gue juga harus mulai kerja deh. Lo udah banyak bantu gue sama Nadine. Gue gak bisa terus-terusan ngandelin lo."
"Apaan sih lo, Jav? Lo kan masih kuliah, fokus aja dulu di situ."
Javier menggeleng, "Gue tahu, tapi kondisi di rumah makin gak jelas. Bokap-nyokap gue berantem mulu, tiap hari. Gue gak bisa cuma diem doang. Gue harus mulai tanggung jawab juga, kayak lo."
Julio mengerutkan kening, ekspresinya campur aduk antara prihatin dan bingung. "Denger ya, gue ninggalin kuliah karena kepepet, dan gue gak mau lo ngalamin hal yang sama. Kuliah lo penting, Jav. Jangan sampai lo salah langkah cuma karena lo ngerasa jadi beban."
"Gue ngerti." tukas Javier. "Tapi gak ada pilihan lain, Jul. Gue udah terlalu banyak ngerepotin lo."
Julio diam sejenak, menatap Javier dalam-dalam. "Jav, lo gak pernah ngerepotin gue. Kita temen. Apa pun yang gue lakuin, itu karena gue peduli sama lo, sama Nadine juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)
Novela JuvenilTreasure hyung line ft. Pharita Rora Ruka Asa Just for fun 乁| ・ 〰 ・ |ㄏ
![Siblings Runner - [BaeSure] On Going (Revisi)](https://img.wattpad.com/cover/369957523-64-k594118.jpg)