Seno...ini gue...

95 5 0
                                        

Pertama tama keempatnya mendatangi sumber suara teriakan tersebut dengan langkah pelan dan hati-hati. Mereka berjalan dengan cara berbaris seperti Teletubbies.


Kevin berada paling depan dengan tongkat kayu nya diikuti Safira lalu Leana dan terakhir adalah Jovan yang akan berguna untuk mengawasi keadaan dibelakang mereka.



Sepertinya ruangan gelap didepan sana adalah tempatnya. Begitu banyak ceceran darah yang mengotori bagian depan toilet itu.



Mereka dapat melihat pintu toilet itu tertutup dan tidak ada celah sedikitpun buat mereka untuk mengintip kedalam.

Tidak lama kemudian kembali terdengar suara teriakan melengking kesakitan. Leana bergidik ketakutan, seluruh tubuhnya merinding ketika mendengar erangan kesakitan dari arah dalam toilet.



"Seno diapain sama mereka." Tanya Jovan pada dirinya sendiri.

"Cuma suara kak Seno yang kedengaran, apa benar cuma dia yang masih bertahan?" Komen Safira dengan suara sepelan mungkin tetapi masih bisa didengar yang lainnya.



"Entahlah. Kak Seno bisa bertahan sampai kapan," sahut Leana terdengar putus asa.

"Shhhh!" Kevin menginterupsi.

"eaarghhh! Aa.. ampun!! Aa..njing!!"

"Aa!!"


Kevin,Jovan,Safira. Dan, Leana menempelkan telinga dipintu toilet. Berusaha mendengar lebih jelas lagi meski tidak melihat secara langsung.

Percayalah ini tidak akan berhasil. Safira ingin sekali mendobrak pintu toilet dan memergoki kegiatan sadis apa yang sedang terjadi didalam sana.

"Kevin, ini bukan saatnya buat nguping! Sekarang kita harus buka pintunya." Interupsi Safira secara tidak sabaran.


"Sabar, Ra! Terburu-buru bukan cara yang bisa membuahkan hasil baik!" Komen Kevin. Lelaki itu melewati depan Safira dan berdiri tepat didepan pintu toilet.

"Kalian jangan berisik dong! Ntar kalau ketahuan bisa innalilahi!" Sewot Jovan.

"Buka." Titah Safira ketika Kevin malah menatapnya kembali.

"Gue takut!" Ringis Leana.


Jovan mendekati Kevin kemudian meminta agar Safira dan Leana mundur atau mencari tempat bersembunyi. Safira tahu Jovan ingin mengantisipasi keadaan yang genting begini.



Kevin memutar kenop pintu secara perlahan dan berusaha agar tidak menimbulkan suara apapun. Kepalanya menyempil di ambang pintu kemudian mengintip kedalam, di ikuti Jovan yang sekarang kepalanya berada diatas kepala Kevin yang menjulur kedalam.


Safira dan Leana hanya bisa menunggu untuk mendapatkan giliran melihat kedalam.



Tidak ada respon apa apa dari kedua lelaki yang sedang asik mengintip itu. Justru Jovan terlihat seperti ingin muntah disana. Safira yang penasaran pun menarik kerah belakang baju Jovan membuat cowok itu membawa mundur tubuhnya. Safira segera mengintip lewat pintu yang terbuka sedikit. Sementara Leana langsung memeriksa keadaan Jovan yang sekarang sedang terduduk lemah di lantai karena ingin muntah.



Jovan menunjuk-nunjuk kedalam tanpa mau buka suara.


"Huweek!!! Ma..mayat!!"

Leana terperangah mendengar perkataan Jovan. Gadis itu menepuk-nepuk pundak Jovan dengan wajah pias kebingungan.



Sebenarnya apa yang terjadi.




Safira terdiam dengan kedua bola mata melotot sempurna. Kepalanya menggeleng pelan dengan perasaan kecewa dan hancur. Sama seperti Jovan, Safira merasa seperti ingin muntah sekarang juga.  Pemandangan yang mereka lihat didalam sangat mengenaskan.



KriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang