Luca duduk diam di kursi penumpang, ia bingung tapi tidak berani protes. Mobil itu mulai bergerak perlahan melintasi jalan yang mulai sepi seiring sore hari menjelang malam. Setelah beberapa menit berkendara dalam keheningan yang canggung, mereka berhenti di sebuah bengkel kecil di pinggir kota. Pria itu memarkir mobilnya di depan pintu bengkel yang terbuka lebar, lalu dia keluar. Luca hanya bisa mengikutinya karena merasa tidak ada pilihan lain. Dari awal dia memang bersalah, harusnya ia tidak banyak melamun tadi.
"Masuk" kata pria itu singkat sambil berjalan ke arah seorang mekanik yang sedang bekerja di dalam. Luca pun mengikuti meski dengan langkah ragu.
Pria asing itu berbicara dengan mekanik itu sejenak, ia menjelaskan tentang kerusakan mobilnya. Mekanik itu mengangguk, lalu mulai memeriksa bagian depan mobil yang penyok. Setelah selesai, dia berdiri dan menatap keduanya dengan serius. "Bro" panggilnya pelan.
"Kerusakannya lumayan parah. Perlu waktu dan biaya lumayan banyak untuk memperbaikinya."
Pria bernama Samuel itu melirik Luca sekilas sebelum menjawab, "Itu bukan masalah. Anak ini yang akan membayar semuanya."
Luca membelalak terkejut. Apa? pikirnya. Bagaimana mungkin dia bisa membayar? Bahkan untuk naik bus saja dia tidak punya uang. Luca merogoh kantong celananya dengan cemas, ia hanya menemukan beberapa lembar kertas kosong yang biasa ia pakai untuk berkomunikasi.
Mekanik itu menatap Luca untuk menunggu tanggapannya. Luca buru-buru mengeluarkan pulpen dari tasnya dan menulis di selembar kertas "Aku tidak punya uang." Dia menyerahkan kertas itu kepada Samuel.
Samuel membaca tulisan itu, kemudian ia mendengus dengan nada jengkel. "Serius? Kau benar-benar tidak punya uang sama sekali?" Dia menatap Luca dari ujung kepala hingga kaki, mereka mengenakan seragam sekolah yang sama, dimana sekolah mereka itu bukanlah sekolah yang bisa dimasuki oleh orang biasa.
Kemudian ia mencari tanda-tanda kebohongan lainnya, tapi akhirnya menyerah ketika melihat ekspresi Luca yang penuh rasa kasihan.
"Astaga, kenapa aku harus selalu ketiban sial..." gumam Samuel sambil memijat pelipisnya. Dia menoleh ke arah mekanik, lalu berkata, "Tunggu sebentar, aku urus dulu."
Samuel menarik Luca agar sedikit menjauh dari mekanik itu.
"Uang? Kau benar-benar tidak punya uang?" Samuel memegang bahu Luca dan menggoyangkannya berkali-kali.Luca hanya bisa menggeleng-geleng. Samuel berdecak kesal melihat pria bisu yang tidak punya apa-apa tengah berdiri didepannya.
Bagaimana ia tidak kesal, baru saja kemarin ayahnya membekukan atmnya karena terlalu boros hari ini ia langsung tertiban nasib sial.
Samuel melirik jam tangannya, lalu berkata, "Aku tidak bisa tinggal di sini lama-lama. Aku akan coba bicara sama mekaniknya, minta supaya dia kasih waktu buat kau bayar. Tapi ingat, aku tidak main-main. Kalau kau kabur atau tidak bisa membayarnya, aku akan membawamu ke jalur hukum."
Luca mengangguk pelan lalu menulis lagi keatas kertas yang ada ditangannya "Beri aku 5 hari" tulisan yang ada diatasnya.
Setelah berbicara lagi dengan mekanik dan membuat kesepakatan untuk menunda pembayaran, Samuel kembali ke Luca. "Oke, selesai untuk sekarang, 5 hari dan setelah itu kau harus kembali kesini untuk membayarnya," katanya dengan nada datar.
Setelah selesai urusan mereka berdua, Samuel mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Bro, bisa jemput aku di bengkel dekat sekolah kita sekarang? Mobilku rusak dan lama perbaikannya," Samuel berbicara singkat di telepon dengan nada masih terdengar sedikit kesal.
Setelah mematikan panggilan, dia kembali melirik ke arah Luca.
"Hei, kau tidak punya uang, jadi bagaimana kau pulang?" tanya Samuel dengan nada datar.Luca hanya bisa menunduk. Dia tidak punya jawaban, karena memang benar dia tidak punya uang sama sekali. Dan dia juga tidak tahu sama sekali sekarang lokasinya berada dimana.
Samuel menghela napasnya panjang setelah melihat Luca tampak seperti tidak ingin menanggapinya. Mereka berdua menunggu dalam keheningan, hingga akhirnya sebuah mobil hitam datang dan berhenti di depan bengkel itu. James, teman Samuel, keluar dari mobil dengan wajah yang terlihat tidak santai.
"Mobilmu kenapa?" tanya James sambil berjalan mendekatinya.
"Ceritanya panjang, nanti aku cerita pas diperjalanan." ujarnya sembari bangkit dan berjalan menuju ke mobil James.
"Oh iya James, bisa antar kami ke rumah bocah ini dulu?" jawab Samuel sambil menunjuk Luca dengan dagunya.
Luca menatapnya dengan sedikit terkejut, ia tidak menyangka bahwa Samuel akan bersedia mengantarnya pulang setelah kejadian tadi. Sebenarnya ia hendak menolak, namun jika ia menolak dengan siapa lagi ia akan pulang. Felix menjemputnya? Itu sungguh tidak mungkin.
James melihat Luca sebentar, lalu ia mengangguk tanpa banyak tanya. Mereka semua masuk ke dalam mobil, dan perjalanan menuju rumah Luca dimulai. Luca memberi tahu alamatnya lewat tulisan di kertas yang ia berikan kepada Samuel, yang kemudian menyerahkannya ke James.
Saat mobil mereka mendekati rumah Luca, Samuel dan James terdiam. Di depan mereka berdiri sebuah rumah megah dengan gerbang besar dan halaman yang luas, tampak sangat mewah. Samuel menatap Luca dengan kening berkerut.
"What the heck? Ini rumahmu?" tanya Samuel dengan suaranya sedikit ditinggikan. Luca hanya mengangguk dan wajahnya datar.
James yang sedang memarkir mobil, ia melirik kearah Samuel yang tengah tertawa kecil. "Bocah ini bilang tidak punya uang, tapi rumahnya, lihat seperti istana. Kau yakin dia tidak bohong James?"
Samuel menatap Luca dengan sorot mata penuh kecurigaan. "Jadi, kau bilang tidak punya uang, tapi tinggal di tempat semewah ini?" Samuel bertanya dengan nada dingin, jelas dia mulai berpikir bahwa Luca mungkin berbohong padanya.
Luca menunduk, lalu buru-buru menulis sesuatu di kertasnya. "Ini rumah ayah kandung dan ibu tiriku. Aku memang tidak punya uang sendiri." Dia menyerahkan kertas itu kepada Samuel.
Samuel membaca tulisan itu dengan ekspresi sulit ditebak. Dia tidak langsung berbicara, hanya menatap Luca sejenak sebelum menyerahkan kembali kertas itu. "Jadi kau tinggal di sini, tapi orangtuamu tidak memberimu uang, begitu?" tanyanya, nada suaranya terdengar sedikit melunak meski masih ada keraguan.
Luca mengangguk, Samuel menatap Luca sekali lagi, kali ini dengan sedikit lebih lembut di matanya. "Baiklah," katanya pelan.
"Tapi ingat, kau tetap harus tanggung jawab soal mobil tadi. Aku tidak peduli seberapa ribet hidupmu. Kalau kau bikin masalah, kau harus selesaikan."
Luca hanya bisa mengangguk, ia menerima kenyataan ternyata masalah mereka ini masih jauh dari kata selesai. Samuel menghela napas panjang sebelum membuka pintu mobil dan mengisyaratkan Luca untuk keluar.
Luca turun dari mobil, ia menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih sebelum berjalan menuju gerbang rumahnya.
Begitu Luca melangkah masuk ke rumah, dia merasa kelelahan luar biasa. Ketika dia melewati ruang tamu yang megah dan menaiki tangga menuju kamarnya, dia merasa ingin segera merebahkan diri dan melupakan semua.
Namun, begitu pintu kamarnya tertutup, Luca mendengar suara langkah kaki mendekat dengan cepat. Sebelum dia sempat berbalik, pintu kamarnya terbuka dengan keras. Felix, adik tirinya, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi marah yang mengintimidasi.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Silent Lover [END]
RomanceKetika si bisu menjadi kekasih pria populer disekolahnya. Harap menyiapkan tisu sebelum membaca!!